Renungan Harian Katolik Jumat 17 Juli 2026: Berbelas Kasih dan Tetap Taat

Renungan Harian Katolik Jumat 17 Juli 2026: Berbelas Kasih dan Tetap Taat

Osmawanti Panggalo - detikSulsel
Jumat, 17 Jul 2026 07:30 WIB
Renungan harian Katolik dan bacaan Injilnya
Ilustrasi renungan harian (Foto: etheriel/Pixabay)
Makassar -

Renungan Harian Katolik menjadi salah satu sarana bagi umat untuk merenungkan Sabda Tuhan dan menemukan makna rohani dalam kehidupan sehari-hari. Melalui bacaan Kitab Suci, mazmur, serta refleksi iman, umat diajak semakin mengenal kehendak Allah dan menerapkannya dalam setiap tindakan.

Renungan Harian Katolik Jumat, 17 Juli 2026 mengajak umat beriman untuk semakin memahami makna belas kasih dan ketaatan kepada kehendak Tuhan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Melalui sabda-Nya, umat diingatkan bahwa kasih kepada sesama tidak bertentangan dengan hukum Allah, melainkan menjadi wujud nyata dari iman yang hidup.

Lantas, seperti apa pesan Tuhan dalam Renungan Harian Katolik Jumat, 17 Juli 2026? Simak bacaan Kitab Suci beserta renungan selengkapnya berikut ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bacaan Harian Katolik Hari Ini 17 Juli 2026

Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:

Bacaan I: Yes 38:1-6.21-22.7-8

Pada hari-hari itu Hizkia jatuh sakit dan hampir mati. Lalu datanglah nabi Yesaya bin Amos dan berkata kepadanya: "Beginilah firman TUHAN: Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi."

ADVERTISEMENT

Lalu Hizkia memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdoa kepada TUHAN.

Ia berkata: "Ah TUHAN, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapan-Mu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mata-Mu." Kemudian menangislah Hizkia dengan sangat.

Maka berfirmanlah TUHAN kepada Yesaya:

"Pergilah dan katakanlah kepada Hizkia: Beginilah firman TUHAN, Allah Daud, bapa leluhurmu: Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu. Sesungguhnya Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi,

dan Aku akan melepaskan engkau dan kota ini dari tangan raja Asyur dan Aku akan memagari kota ini.

Kemudian berkatalah Yesaya: "Baiklah diambil sebuah kue ara dan ditaruh pada barah itu, supaya sembuh!"

Sebelum itu Hizkia telah berkata: "Apakah yang akan menjadi tanda, bahwa aku akan pergi ke rumah TUHAN?"

Inilah yang akan menjadi tanda bagimu dari TUHAN, bahwa TUHAN akan melakukan apa yang telah dijanjikan-Nya:

Sesungguhnya, bayang-bayang pada penunjuk matahari buatan Ahas akan Kubuat mundur ke belakang sepuluh tapak yang telah dijalaninya." Maka pada penunjuk matahari itu mataharipun mundurlah ke belakang sepuluh tapak dari jarak yang telah dijalaninya.

Mazmur Tanggapan: Yes 38:10.11.12abcd.16

Aku ini berkata: Dalam pertengahan umurku aku harus pergi, ke pintu gerbang dunia orang mati aku dipanggil untuk selebihnya dari hidupku.

Aku berkata: aku tidak akan melihat TUHAN lagi di negeri orang-orang yang hidup; aku tidak akan melihat seorangpun lagi di antara penduduk dunia.

Pondok kediamanku dibongkar dan dibuka seperti kemah gembala; seperti tukang tenun menggulung tenunannya aku mengakhiri hidupku; TUHAN memutus nyawaku dari benang hidup. Dari siang sampai malam Engkau membiarkan aku begitu saja,

Ya Tuhan, karena inilah hatiku mengharapkan Engkau; tenangkanlah rohku, buatlah aku sehat, buatlah aku sembuh!

Bacaan Injil: Mat 12:1-8

Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya.

Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: "Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat."

Tetapi jawab Yesus kepada mereka: "Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar,

bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam?

Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah?

Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah.

Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat."

Renungan Hari Ini Jumat 17 Juli 2026: Berbelas Kasih dan Tetap Taat

Sekiranya kamu mengerti maksud firman ini:
Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang tidak bersalah. (Mat. 12:7)

Yesus dan para murid berulang kali dinilai melanggar aturan hari Sabat. Seperti bacaan Injil hari ini, Yesus dan para murid sedang melintas ladang gandum. Karena lapar, mereka memetik bulir gandum dan memakannya.

Tindakan ini terkesan salah, karena memetik dan memakan bulir gandum tanpa izin. Ternyata hal ini tidak melanggar hukum. Jadi boleh memetik, asal langsung dimakan. Akan tetapi, tindakan ini di mata beberapa orang Farisi yang mengikuti rombongan Yesus tetap salah, karena hari itu adalah hari Sabat.

Memang ada tertulis secara rinci, apa saja yang tidak boleh dilakukan pada hari Sabat, termasuk memetik bulir gandum. Namun, Yesus tidak sependapat. Bagi Yesus, belas kasih jauh di atas segala aturan turunan hukum Taurat yang dibuat oleh manusia.

Sebagai prodiakon tentu saya terikat pada beberapa aturan. Salah satunya adalah pembatasan area pelayanan. Prodiakon tidak dapat melayani di luar lingkup paroki.

Suatu saat, sepupu saya yang tinggal di Jawa Tengah, mengalami kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit di Tangerang untuk menjalani operasi dan perawatan lanjutan dalam beberapa minggu.

Sepupu ini seorang aktivis Gereja dan ia merindukan dapat menerima Tubuh Kristus selama masa perawatannya. Karena RS ini tidak masuk dalam lingkup paroki saya, maka saya tidak dapat melayani mengantar Sakramen Maha Kudus (SMK) untuknya.

Setelah koordinasi sana sini, pada hari Minggu pertama, seorang prodiakon dari paroki setempat hadir membawakan SMK.

Namun, entah miskomunikasi di mana, pada minggu kedua dan ketiga tidak ada prodiakon yang datang. Menjelang minggu keempat, terdorong belas kasih kepada sepupu ini, saya memberanikan diri meminta izin ke pastor kepala paroki agar diperbolehkan mengantar SMK kepadanya.

Puji Tuhan, romo mengizinkan. Segala peraturan tentu perlu ditaati demi ketertiban dan kebaikan bersama. Namun, sesuai ajaran Yesus, yang utama adalah belas kasih.

Maka ketika kita merasa perlu mengedepankan belas kasih yang berpotensi melanggar peraturan, ada baiknya kita minta pendapat otoritas Gereja setempat (uskup) atau setidaknya pastor paroki.

Sumber: Buku Renungan Tiga Titik
Oleh: Fidensius Gunawan

Doa Penutup

Tuhan, ajar kami untuk tetap setia dan taat pada Gereja-Mu, termasuk pada aturan-aturan yang dibuat demi kebaikan bersama. Namun, tetap beri kami hati yang peka dan keberanian untuk berbelas kasih terhadap sesama, karena itulah kehendak-Mu. Amin.

Demikian renungan harian Katolik Jumat, 17 Juli 2026 lengkap bacaan dan teks Mazmur Tanggapan. Semoga bermanfaat!



(urw/urw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads