Rumah Rusak, Korban Gempa di Sigi Sulteng Butuh Tenda dan Selimut

Sulawesi Tengah

Rumah Rusak, Korban Gempa di Sigi Sulteng Butuh Tenda dan Selimut

Rangga Musabar - detikSulsel
Jumat, 19 Jun 2026 21:49 WIB
Korban gempa bumi M 6,7 di Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi, membutuhkan tenda hingga selimut.
Foto: Korban gempa bumi M 6,7 di Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi, membutuhkan tenda hingga selimut. (Rangga Musabar/detikcom)
Sigi -

Korban gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 6,7 di Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng), membutuhkan tenda hingga selimut. Pasalnya, rumah mereka mengalami rusak berat dan bantuan tenda yang masuk belum merata.

Pantauan detikcom, Jumat (19/6/2026), wilayah terdampak paling parah yakni Desa Kamarora A dan Desa Kamarora B, Kecamatan Nokilalaki. Rumah warga di desa tersebut rata-rata mengalami kerusakan berat, dinding dan atap ambruk.

Rumah-rumah warga di dua desa itu tidak lagi bisa ditempati. Warga kemudian mendirikan tenda di halaman rumah dan tanah kosong yang tidak jauh dari rumahnya yang rusak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Warga Desa Kamarora B bernama Juanda mengaku tinggal di tenda setelah rumahnya rusak akibat gempa. Juanda sebenarnya telah menerima bantuan tenda, namun belum cukup untuk menampung semua keluarganya.

"Tadi bantuan yang dikasih baru tenda, sudah kami pasang. Masih sangat butuh tenda karena ada barang-barang dari rumah yang rusak dan pakaian juga tidak ada tempat menyimpannya," kata Juanda kepada detikcom, Jumat (19/6).

"Kami di sini ada tiga Kepala Keluarga, memang masih butuh tenda. Kalau ada juga selimut, tikar kalau ada bisa kelambu juga kami butuh," tambahnya.

ADVERTISEMENT



Hal senada disampaikan warga bernama Afrina. Menurutnya kebutuhan paling mendesak saat ini adalah tenda tambahan untuk tempat tinggal sementara.

"Kita butuh tenda. Tempat pengungsian kalau hujan bapece (becek), terpaksa tidur di atas pece," katanya.

Dia berharap pemerintah segera menyalurkan bantuan tambahan serta menyiapkan hunian sementara bagi korban gempa. Pasalnya, masih banyak warga bertahan di tenda darurat karena rumah mereka tidak lagi aman untuk ditempati.

Diketahui, Desa Kamarora A dan Kamarora B di Kecamatan Nokilalaki menjadi wilayah dengan dampak paling parah. Berdasarkan data kaji cepat BPBD Sigi hingga Kamis (19/6) pukul 19.00 Wita, sebanyak 2.704 jiwa di dua desa tersebut terdampak bencana.

Sementara secara keseluruhan, BPBD Sigi mencatat dampak gempa telah menyebabkan 3 orang meninggal dunia, 108 orang luka ringan, dan 17 orang luka berat. Kerusakan rumah mencapai 2.320 unit, terdiri dari 1.966 rumah rusak ringan, 219 rumah rusak sedang, dan 134 rumah rusak berat.

Tanggap Darurat Gempa Ditetapkan

Pemprov Sulteng menetapkan status tanggap darurat usai gempa bumi 6,7 di Palu. Status tanggap darurat ini berlaku di empat wilayah terdampak, yakni Kota Palu, Kabupaten Sigi, Parigi Moutong, dan Poso.

Penetapan itu tertuang dalam Keputusan Nomor: 300.2.1/195/BPBD-C-ST/2026 yang diteken Gubernur Sulteng Anwar Hafid. Status tanggap darurat tersebut berlaku selama tujuh hari mulai 17 hingga 23 Juni 2026.

"Kita menetapkan status tanggap darurat agar seluruh sumber daya pemerintah, TNI, Polri, relawan, dan seluruh pihak terkait dapat bergerak lebih cepat dalam memberikan pelayanan dan bantuan kepada masyarakat terdampak," imbuh Anwar.

Anwar menegaskan pemerintah daerah akan memfokuskan penanganan pada kebutuhan dasar warga yang masih mengungsi. Pemerintah juga memastikan penyediaan tenda darurat, air bersih, layanan kesehatan, hingga distribusi logistik.

"Saya minta seluruh OPD terkait turun langsung ke lapangan. Pastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi, terutama warga yang rumahnya rusak dan masih bertahan di lokasi pengungsian," tegasnya.



(hsr/hsr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads