Renungan Harian Katolik Senin 15 Juni 2026 Lengkap Bacaan: Pengampunan

Renungan Harian Katolik Senin 15 Juni 2026 Lengkap Bacaan: Pengampunan

Osmawanti Panggalo - detikSulsel
Senin, 15 Jun 2026 07:00 WIB
Renungan Harian Katolik
Ilustrasi renungan harian (Foto: reenablack/Pixabay)
Makassar -

Renungan Harian Katolik menjadi sarana bagi umat beriman untuk merenungkan sabda Tuhan dan menemukan makna yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui bacaan Kitab Suci dan refleksi iman, umat diajak untuk semakin mendekat kepada Allah serta memperkuat hubungan dengan sesama.

Pada Senin, 15 Juni 2026, tema renungan mengangkat tentang pengampunan, sebuah nilai penting dalam ajaran Kristiani yang mengajarkan kasih, kerendahan hati, dan kemurahan hati kepada sesama. Meski tidak selalu mudah dilakukan, mengampuni merupakan jalan untuk melepaskan luka batin, memulihkan relasi, dan menghadirkan damai dalam hidup.

Nah, berikut renungan harian Katolik lengkap bacaan liturgi, hingga teks Mazmur Tanggapan Senin, 15 Juni 2026. Yuk, simak selengkapnya!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bacaan Harian Katolik Hari Ini 15 Juni 2026

Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:

Bacaan I: 1 Raj 21:1-16

Sesudah itu terjadilah hal yang berikut. Nabot, orang Yizreel, mempunyai kebun anggur di Yizreel, di samping istana Ahab, raja Samaria.

ADVERTISEMENT

Berkatalah Ahab kepada Nabot: "Berikanlah kepadaku kebun anggurmu itu, supaya kujadikan kebun sayur, sebab letaknya dekat rumahku. Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur yang lebih baik dari pada itu sebagai gantinya, atau jikalau engkau lebih suka, aku akan membayar harganya kepadamu dengan uang."

Jawab Nabot kepada Ahab: "Kiranya TUHAN menghindarkan aku dari pada memberikan milik pusaka nenek moyangku kepadamu!"

Lalu masuklah Ahab ke dalam istananya dengan kesal hati dan gusar karena perkataan yang dikatakan Nabot, orang Yizreel itu, kepadanya: "Tidak akan kuberikan kepadamu milik pusaka nenek moyangku." Maka berbaringlah ia di tempat tidurnya dan menelungkupkan mukanya dan tidak mau makan.

Lalu datanglah Izebel, isterinya, dan berkata kepadanya: "Apa sebabnya hatimu kesal, sehingga engkau tidak makan?"

Lalu jawabnya kepadanya: "Sebab aku telah berkata kepada Nabot, orang Yizreel itu: Berikanlah kepadaku kebun anggurmu dengan bayaran uang atau jika engkau lebih suka, aku akan memberikan kebun anggur kepadamu sebagai gantinya. Tetapi sahutnya: Tidak akan kuberikan kepadamu kebun anggurku itu."

Kata Izebel, isterinya, kepadanya: "Bukankah engkau sekarang yang memegang kuasa raja atas Israel? Bangunlah, makanlah dan biarlah hatimu gembira! Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu."

Kemudian ia menulis surat atas nama Ahab, memeteraikannya dengan meterai raja, lalu mengirim surat itu kepada tua-tua dan pemuka-pemuka yang diam sekota dengan Nabot.

Dalam surat itu ditulisnya demikian: "Maklumkanlah puasa dan suruhlah Nabot duduk paling depan di antara rakyat.

Suruh jugalah dua orang dursila duduk menghadapinya, dan mereka harus naik saksi terhadap dia, dengan mengatakan: Engkau telah mengutuk Allah dan raja. Sesudah itu bawalah dia ke luar dan lemparilah dia dengan batu sampai mati."

Orang-orang sekotanya, yakni tua-tua dan pemuka-pemuka, yang diam di kotanya itu, melakukan seperti yang diperintahkan Izebel kepada mereka, seperti yang tertulis dalam surat yang dikirimkannya kepada mereka.

Mereka memaklumkan puasa dan menyuruh Nabot duduk paling depan di antara rakyat.

Kemudian datanglah dua orang, yakni orang-orang dursila itu, lalu duduk menghadapi Nabot. Orang-orang dursila itu naik saksi terhadap Nabot di depan rakyat, katanya: "Nabot telah mengutuk Allah dan raja." Sesudah itu mereka membawa dia ke luar kota, lalu melempari dia dengan batu sampai mati.

Setelah itu mereka menyuruh orang kepada Izebel mengatakan: "Nabot sudah dilempari sampai mati."

Segera sesudah Izebel mendengar, bahwa Nabot sudah dilempari sampai mati, berkatalah Izebel kepada Ahab: "Bangunlah, ambillah kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu, menjadi milikmu, karena Nabot yang menolak memberikannya kepadamu dengan bayaran uang, sudah tidak hidup lagi; ia sudah mati."

Segera sesudah Ahab mendengar, bahwa Nabot sudah mati, ia bangun dan pergi ke kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu, untuk mengambil kebun itu menjadi miliknya.

Mazmur Tanggapan: Mzm 5:2-3.5-6.7

Perhatikanlah teriakku minta tolong, ya Rajaku dan Allahku, sebab kepada-Mulah aku berdoa.

TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu.

Pembual tidak akan tahan di depan mata-Mu; Engkau membenci semua orang yang melakukan kejahatan.

Engkau membinasakan orang-orang yang berkata bohong, TUHAN jijik melihat penumpah darah dan penipu.

Tetapi aku, berkat kasih setia-Mu yang besar, aku akan masuk ke dalam rumah-Mu, sujud menyembah ke arah bait-Mu yang kudus dengan takut akan Engkau.

Bacaan Injil: Mat 5:38-42

Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.

Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.

Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu.

Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.

Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.

Renungan Hari Ini Senin 15 Juni 2026: Pengampunan

Namun, Aku berkata kepadamu: Janganlah melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. (Mat. 5:39)

Yesus mengajarkan kepada kita tentang pembalasan, bukan dalam arti membalas dendam, melainkan pembalasan yang positif, agar hati kita tidak dipenuhi sakit hati atau kebencian. Ia menegaskan bahwa kejahatan hendaknya tidak dibalas dengan kejahatan, melainkan dengan cinta kasih.

Dengan demikian, kita dibentuk menjadi pribadi yang murah hati, rela mengalah dan tidak egois. Hukum 'mata ganti mata, gigi ganti gigi' dipatahkan oleh Yesus demi memutus rantai dendam yang tak berkesudahan.

Peristiwa 13 Mei 1981 saat Paus Yohanes Paulus II ditembak oleh Mehmet Ali Agca, di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, telah menjadi teladan nyata. Meski luka yang dialami cukup serius, Paus tetap mengampuni pelakunya, bahkan menyebutnya sebagai 'saudara' dan mendatanginya di penjara.

Agca, yang tadinya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, akhirnya dibebaskan pada tahun 2000 atas permintaan Paus sendiri. Sikap pengampunan ini menunjukkan bahwa kasih mampu membebaskan, bukan hanya korban, tetapi juga pelaku dari belenggu kesalahan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun tak luput dari pengalaman dilukai: difitnah, dicaci, atau disingkirkan. Dalam keluarga, lingkungan, maupun komunitas selalu ada 'ilalang' yang tumbuh di antara 'gandum'.

Pertanyaannya, bagaimana kita tetap bertahan dan bertumbuh di tengah ilalang? Yesus mengajarkan, "Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu." (Mat. 5:39).

Artinya, kita diajak untuk tidak membalas kejahatan dengan kebencian, melainkan dengan pengampunan. Memang, mengampuni bukan hal yang mudah; butuh proses dan kerendahan hati.

Namun dengan mengalah, meredam amarah, dan mengingat teladan Kristus, luka hati perlahan dipulihkan.

Apa yang kita alami tidak sebanding dengan penderitaan Yesus dan para Rasul-Nya. Mereka rela menanggung penderitaan demi kasih. Demikian juga kita, dengan mengampuni, kita bukan hanya menyembuhkan diri sendiri, tetapi juga menjadi saksi Kristus yang memutus rantai kebencian.

Marilah kita meneladani kasih Kristus yang sanggup mengalahkan kebencian. Dengan pengampunan, kita dipulihkan dan dimampukan menjadi pembawa damai bagi dunia.

Sumber: Buku Renungan Tiga Titik
Oleh Katarina Teny Noviarty

Doa Penutup

Ya Yesus andalan kami, bentuklah hati kami menjadi hati yang penuh kasih, sehingga kami mampu mengampuni, seturut kehendak Bapa di surga, demi Kristus Tuhan pengantara kami. Amin.

Demikian renungan harian Katolik Senin, 15 Juni 2026 lengkap bacaan dan teks Mazmur Tanggapan. Marilah kita mewartakan kasih Tuhan!




(alk/alk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads