Pemandu dua warga negara (WN) Singapura yang tewas saat Gunung Dukono meletus, Reza Selang, masih sangat terpukul dengan insiden yang ia saksikan di depan matanya. Ia melihat detik-detik Shahin Muhrez bin Abdul Hamid dan Timothy Heng dihantam batu berukuran dua meter saat erupsi terjadi.
Reza saat itu menjadi pemandu tiga korban tewas yang salah satu warga lokal bersama 17 orang lainnya ke puncak Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, pada Jumat (8/5) lalu.
Pria berusia 35 tahun ini mengatakan rombongan tiba di Desa Mamuya pada Kamis (7/5), sekitar pukul 12.00 WIT. Mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju titik awal pendakian dan tiba di shelter lima jam kemudian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Malam itu tidak terlihat tanda-tanda aktivitas vulkanik Gunung Dukono. Hingga keesokan paginya rombongan mulai mendaki puncak gunung pada pukul 05.30 WIT dan tiba di dekat puncak sekitar pukul 07.20 WIT.
"Saat saya pantau dengan drone tidak kelihatan aktivitas apa-apa di kawah. Asapnya pun enggak ada. Sangat tenang," ujar Reza dilansir detikNews yang mengutip BBC.
Reza yang merasa kondisi aman lantas mengizinkan rombongan naik lebih dekat ke puncak dengan syarat mereka tak berlama-lama dan lekas turun. Yang naik ke puncak gunung, menurut Reza, mencakup sembilan warga negara asing, dua anggota timnya, dan tiga tamu lokal.
Pada saat Gunung Dukono erupsi, Reza mengatakan dirinya masih berada di bawah sambil menerbangkan drone. "Di 07.40 saya sempat nge-drone dari jauh. Pas di 07.41 langsung gunungnya meletus," katanya.
Saat itu, menurutnya, terjadi dua letusan dalam selang waktu kurang dari satu menit. Para pendaki langsung berhamburan turun.
"Letusan pertama masih keluar asap. Sekian detik kemudian letusan susulan keluar dan itu keluar material (vulkanik) semuanya," ujarnya.
"Begitu mereka berhamburan lari ke bawah, saya dekatkan drone untuk melihat apakah ada yang tertinggal atau enggak. Ternyata ada satu orang yang terkapar di atas, dekat puncak," katanya.
Korban tersebut kemudian diketahui bernama Shahin Muhrez bin Abdul Hamid, warga negara Singapura. Reza mengatakan seorang pendaki lain, Timothy Heng, sempat turun, namun kembali naik ke puncak untuk membantu Shahin.
"Dia sudah lari turun. Tapi dia balik lagi karena tahu ada temannya," katanya. Sesaat kemudian, Reza berlari ke atas bersama Timothy.
Keduanya kemudian mencoba mengevakuasi Shahin dengan cara menyeret tubuhnya menuruni jalur pendakian di tengah hujan batu vulkanik.
"Saya pegang kaki, Timo pegang tangannya. Jadi kita seret dia turun," ujar Reza.
Namun saat mencoba mengubah jalur, kawah memuntahkan sebuah batu besar, yang kemudian memantul ke tanah dan menghujam ke arah mereka. Reza menyaksikan batu besar itu lalu menghantam tubuh keduanya.
"Batu itu sekitar dua meter lebarnya. Saya sudah teriak 'stone', tapi Timo balik dan hanya sepersekian detik dia langsung memeluk Shahin," katanya.
"Kena semuanya, kepala, badan, seluruhnya, karena batunya besar," katanya.
Reza mengaku sempat membeku setelah menyaksikan langsung dua orang tertimpa batu. Sayup-sayup Reza mendengar seseorang berteriak memanggil-manggil namanya. Barulah dia tersadar dan lari menuju titik aman.
"Saya sempat nge-freeze. Saya melihat langsung bagaimana dua orang yang saya kenal selama perjalanan terhimpit batu," katanya.
"Saya langsung mengabari grup mapala saya, grup keluarga saya," katanya.
Di tengah kekacauan itu, Reza mengatakan satu peserta lain juga dinyatakan hilang. Belakangan, jasad Angel Krishela Pradita, ditemukan oleh tim pada Sabtu (9/5). Angel disebut merupakan peserta pendakian asal Ternate. Sementara Jasad Timothy dan Shahin berhasil dievakuasi pada Minggu (10/5).
