Ikan sapu-sapu yang diolah menjadi pakan ternak ternyata mendatangkan keuntungan bagi peternak bebek di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan (Sulsel). Bisnis bebek yang digeluti warga meningkat tajam lantaran populasi ternak termasuk telur yang dihasilkan semakin bertambah.
"Alhamdulillah sangat terasa manfaat memanfaatkan ikan sapu-sapu ini menjadi pakan ternak bebek," kata peternak bebek bernama Senibar kepada wartawan, Kamis (30/4/2026).
Senibar mengklaim 150 ekor bebeknya bisa memproduksi telur secara maksimal selama diberi pakan olahan ikan sapu-sapu dicampur dedak dan jagung. Setiap hari telur yang dihasilkan ternaknya rata-rata mencapai 120 butir setiap hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bisa dibilang produksi telur itu 80 persen.Saya belum pernah pakai pakan modern tapi saya rasa kalau dibandingkan dengan pakan ikan sapu-sapu jelas jauh menguntungkan karena ini gratis dan sudah teruji bebek mampu bertelur dengan baik," paparnya.
Sementara itu, Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif mengungkapkan inovasi ikan sapu-sapu menjadi pakan meningkatkan perekonomian masyarakat desa. Dia mengklaim dalam satu desa, peternak dengan populasi sekitar 10.000 ekor bebek mampu menghasilkan pendapatan yang cukup besar.
"Dalam satu hari pendapatan peternak bisa mencapai sekitar Rp10 juta. Kalau dihitung, dalam sebulan itu bisa mencapai kurang lebih Rp 300 juta," ujar Syahar.
Warga di Sidrap mengolah ikan sapu-sapu untuk dijadikan pakan ternak bebek. Pakan dari ikan sapu-sapu diklaim meningkatkan produksi bebek. (Muhclis Abduh/detikSulsel) |
Dia memproyeksikan dalam jangka panjang, pendapatan tersebut akan semakin besar. Dalam satu periode usaha selama lima tahun, total pemasukan bisa mencapai miliaran rupiah.
"Kalau dikalkulasikan dalam satu periode lima tahun, itu bisa tembus sekitar Rp 3 miliar dalam setahun dari sektor tersebut," jelasnya.
Syahar menargetkan pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai pakan ternak akan dikembangkan ke tahap industri. Bahan baku yang melimpah di Danau Sidenreng tersebut ditargetkan bisa diolah menjadi pelet dan dikemas untuk dipasarkan secara luas.
"Ke depan akan jadi pakan resmi dan dikemas dengan baik," ucap Syahar.
Syahar mengatakan, saat ini program masih berada pada fase uji coba dan pengembangan. Setelah fase uji coba dinyatakan berhasil, pemerintah akan mendorong produksi dalam bentuk pelet sebagai pakan ternak komersial.
"Setelah fase atau tahap awal selesai, kita akan masuk ke produksi pelet dan seterusnya," ujarnya.
Dia mengaku inovasi pengolahan ikan sapu-sapu ini sebenarnya sudah terpikirkan sejak 2024. Namun pengembangannya baru dilakukan secara serius setelah dirinya menjabat sebagai bupati bersama dinas terkait.
"Setelah saya menjadi bupati, kami bersama Dinas Peternakan dan Perikanan mengkaji lebih dalam. Tahun 2025 bulan Maret mulai distribusi bantuan, asesmen, uji coba, dan melihat langsung di lapangan," jelasnya.
Program tersebut kemudian diperkuat dengan pemberian bantuan ternak bebek kepada masyarakat pada November 2025. Hasilnya mulai terlihat dalam beberapa bulan terakhir.
"Setelah bantuan diberikan, bulan Januari mulai bertelur, Februari sudah berjalan. Sekarang ini sudah masuk fase empat bulan uji coba dan enam bulan ke depan masih tahap pengembangan," ungkapnya.
Daftarkan Hak Paten Produk Ikan Sapu-sapu Jadi Pakan
Keseriusan itu juga ditunjukkan setelah Pemkab Sidrap mendaftarkan hak paten atau Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) atas inovasi pengolahan ikan sapu-sapu menjadi pakan ternak ke Kementerian Hukum. Langkah ini dilakukan untuk memastikan inovasi Pemkab Sidrap tersebut dapat diakui dan memberikan manfaat lebih luas.
"Kami sudah mengundang Kementerian Hukum, dalam hal ini Kanwil Hukum, di bidang HAKI dan paten. Ini sudah kami daftarkan atas nama Pemerintah Kabupaten Sidrap," kata Syahar.
Syahar berharap langkah itu ke depan menjadikan pemanfaatan ikan sapu-sapu dapat dikembangkan lebih luas. Dengan demikian memiliki nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat.
"Salah satu tujuan adanya paten ini juga agar semangat Pemkab dan warga untuk melakukan pengembangan dapat terpacu. Kita ingin ini terus dikembangkan. Misalnya soal pengolahan tidak sekadar manual tetapi bagaimana dikelola industri modern," paparnya.
Dia menilai inovasi ini bukan hanya solusi pengendalian hama perairan seperti ikan sapu-sapu. Namun juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga, khususnya peternak di wilayah pesisir Danau Sidenreng.
"Jadi pemanfaatan ikan sapu-sapu ini punya dua tujuan. Pertama agar populasi ikan sapu-sapu ini dapat ditekan sehingga ekosistem ikan seperti ikan nila dan sebagainya di Danau Sidenreng juga bisa berkembang," jelasnya.

