Mengenal Anoa, Hewan Endemik Sulawesi yang Terancam Punah

Mengenal Anoa, Hewan Endemik Sulawesi yang Terancam Punah

Andi Sitti Nurfaisah - detikSulsel
Jumat, 17 Apr 2026 19:30 WIB
Mengenal anoa, hewan endemik Sulawesi yang terancam punah.
Foto: Anoa. (Laman Taman Safari Indonesia)
Makassar -

Indonesia dikenal sebagai negara dengan keanekaragaman hayati yang luar biasa, termasuk beragam satwa endemiknya. Salah satu di antaranya adalah anoa yang merupakan hewan endemik Sulawesi.

Hewan ini sekilas terlihat seperti sapi atau kerbau. Karena itu, anoa juga ini sering dijuluki kerbau kerdil atau cebol karena bentuk tubuhnya yang mirip namun berukuran lebih kecil.

Anoa hidup di daerah hutan lebat serta tepi sungai atau danau. Hewan khas Sulawesi ini cenderung memilih habitat yang jauh dari jangkauan manusia sebagai bentuk perlindungan diri dari ancaman, seperti perburuan.[1]

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sayangnya, populasi anoa terus mengalami penurunan akibat perburuan liar dan kerusakan habitat. Kondisi ini menjadikan anoa sebagai satwa yang terancam punah.[2]

Mengenal Anoa si "Kerbau Kerdil"

Anoa, hewan endemik SulawesiFoto: Anoa, hewan endemik Sulawesi. (Laman Taman Safari Indonesia)

Anoa terbagi menjadi dua jenis berdasarkan habitatnya, yaitu anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) dan anoa gunung (Bubalus quarlesi). Secara umum, anoa memiliki ciri fisik berupa kaki yang pendek serta kulit leher tebal.[3]

ADVERTISEMENT

Di Sulawesi Tenggara, anoa dataran rendah dikenal dengan sebutan anoa atau kadue, sedangkan anoa gunung disebut anoa perak. Sementara itu, di Sulawesi Selatan, anoa dataran rendah disebut dangko atau langkau, dan anoa gunung dikenal sebagai soko.[1]

Anoa yang masih muda memiliki kulit tebal berwarna coklat kekuningan yang ditutupi rambut. Sementara itu, anoa dewasa memiliki warna yang bervariasi dari coklat hingga hitam.[3]

Anoa merupakan salah satu mamalia terkecil di dunia dengan tinggi bahu sekitar satu meter dan berat mencapai 150 hingga 300 kg.[2] Panjang tubuhnya sekitar 150 cm dengan tinggi badan sekitar 85 cm, serta memiliki tanduk yang lurus ke belakang, runcing, dan agak memipih.[4]

Meskipun berukuran relatif kecil, satwa ini memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap lingkungan yang keras dan menantang. Kemampuan ini membuatnya mampu bertahan hidup di habitat alaminya.[2]

Berikut rincian identifikasi hewan endemik anoa:

  • Bentuk tubuh dan kepala menyerupai kerbau tetapi lebih kecil
  • Tanduk memanjang lurus ke belakang
  • Warna rambut dari hitam kecoklatan sampai hitam legam
  • Rambut lebih jarang ditemukan pada anoa dewasa
  • Panjang ekor mencapai lutut kaki belakang
  • Tinggi bahu sekitar antara 70cm-110cm
  • Berat badan dewasa mencapai 100-150 Kg
  • Telinga berbentuk oval(lonjong) dengan ujung meruncing, bagian dalam berwarna putih kecoklatan dan ada noktah putih di daun telinga sebelah dalam
  • Ujung hidung berwarna hitam
  • Kadang terdapat warna putih pada bagian bawah leher berbentuk bulan sabit (white crescent)
  • Bentuk pangkal tanduk mendekati segitiga, membesar di pangkal tanduk dan semakin mengecil serta meruncing di ujungnya
  • Terdapat garis-garis menyerupai cincin (wrinkle) dari pangkal sampai sekitar pertengahan panjang tanduk
  • Panjang tanduk dapat mencapai 35cm[5]
  • Bentuk kepala menyerupai kepala sapi
  • Kaki dan kuku menyerupai banteng
  • Kaki bagian depan berwarna putih dan memiliki garis hitam ke bawah[1]

Habibat Anoa

Habitat alami anoa berupa hutan lebat, dekat dengan aliran air, seperti sungai, danau, rawa, hingga sumber air panas yang mengandung mineral, serta sepanjang pantai. Selain itu, area terbuka seperti padang rumput yang jarang dihuni juga dapat menjadi tempat hidup si kerbau kerdil ini.

Salah satu kawasan yang dikenal sebagai habitatnya adalah Taman Nasional Botani Nani Wartabone (TNBNW), khususnya di kompleks hutan Gunung Poniki. Secara administratif, wilayah tersebut berada di Desa Toraut, Kecamatan Domuga Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow.

Kawasan hutan Gunung Poniki telah lama dikenal sebagai habitat yang mendukung kehidupan anoa. Dominasi hutan primer dengan ekosistem dataran rendah hingga pegunungan menjadikan wilayah ini sangat sesuai bagi keberlangsungan hidupnya.

Berbagai jenis pohon tumbuh di kawasan ini dan berperan penting dalam menjaga keseimbangan habitat hewan ini, salah satunya pohon poguingon (Calophyllum soulattri Burm.f.). Tajuknya yang cukup lebar dan rapat mampu menghalangi sinar Matahari mencapai lantai hutan sehingga memengaruhi pertumbuhan tumbuhan bawah.

Hal itu membuat lantai hutan menjadi relatif bersih dan kondisi tersebut justru disukai oleh anoa.[1]

Adapun persebaran anoa di Sulawesi tercatat berada di beberapa kawasan konservasi penting. Di antaranya adalah Taman Nasional Bogani Nani Wartabone di bagian utara Sulawesi, Suaka Margasatwa Buton Utara di Sulawesi Tenggara, dan Taman Nasional Lore Lindu di Sulawesi Tengah.

Sementara itu, di bagian selatan Sulawesi, populasi anoa hanya ditemukan dalam jumlah terbatas. Keberadaannya tercatat di Cagar Alam Parumpenai, Pegunungan Latimojong, dan wilayah Seko di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.[3]

Jenis Makanan Anoa

Anoa memiliki jenis pakan yang beragam, mulai dari buah, daun muda, rumput, tumbuhan paku, hingga jamur. Satwa ini cenderung mencari makan di kawasan yang masih alami dan belum banyak terganggu aktivitas manusia.

Lingkungan yang disukai umumnya memiliki permukaan tanah yang tidak rata dan tidak terlalu rapat ditumbuhi terna. Kondisi tersebut memungkinkan tersedianya berbagai jenis pakan alami yang mudah dijangkau oleh hewan berkaki pendek ini.

Adapun jenis tumbuhan yang dikonsumsi oleh anoa dataran rendah cukup beragam. Pakan tersebut mencakup berbagai tingkat vegetasi, mulai dari pohon, sapling, seedling, hingga tumbuhan lantai hutan.[3]

Reproduksi Anoa

Anoa mencapai usia dewasa pada umur 3-4 tahun dan memiliki rentang hidup atau life span hingga 27 tahun. Pada setiap proses kelahiran, betina umumnya hanya melahirkan satu anak.

Masa kehamilan berlangsung sekitar 275 sampai 315 hari. Musim kawin berlangsung selama musim kemarau, yaitu Agustus hingga November, sementara musim melahirkan biasanya berlangsung sekitar bulan September-November tahun berikutnya.[5]

Ancaman Populasi Anoa

Penurunan populasi anoa di habitat alaminya lebih banyak disebabkan oleh perburuan liar dan perdagangan ilegal. Selain itu, berkurangnya luas hutan sebagai habitat turut memperparah kondisi tersebut.

Penyempitan lahan hutan membuat hewan ini terpaksa hidup dalam kantong-kantong habitat yang tersisa. Padahal, untuk mempertahankan variasi genetik dan menghadapi berbagai ancaman lingkungan, dibutuhkan populasi yang cukup besar.

Populasi yang kecil membuatnya semakin rentan terhadap kepunahan. Risiko tersebut dapat meningkat akibat wabah penyakit maupun bencana alam yang terjadi di habitatnya.[1]

Referensi:

1. Buku "Ensiklopedia: Satwa Negeriku" oleh Ika Maryani dan Mukhsin Alfian
2. Laman Taman Safari "Anoa: Harta Karun Kecil Indonesia yang Terancam Punah"
3. Jurnal "Analisis dan Identifikasi Jenis Tumbuhan yang Dikonsumsi Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis Hamilton-Smith) Kecamatan Kambowa Kab. Buton Utara Provinsi
4. Buku "Mengenal & Mewarnai Hewan Khas Indonesia" oleh Nur Puspitasari Apandi, Spd Sulawesi Tenggara"
5. Laman Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan "Identifikasi TSL Kunci Sulawesi (Anoa Lowland)"




(alk/alk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads