Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar melakukan langkah proaktif dalam mendukung Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) melalui riset inovatif berbasis teknologi. Riset ini menghasilkan sebuah aplikasi digital yang dirancang khusus untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak secara akurat.
Rektor UIN Alauddin Makassar Prof Hamdan Juhannis menekankan pentingnya intervensi gizi sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia. Kehadiran inovasi ini kemudian diharapkan memastikan intervensi gizi dari program pemerintah tepat sasaran dan berdampak nyata bagi kesehatan generasi mendatang.
"Jika kita bicara Indonesia Emas 2045, maka kita sedang bicara tentang kualitas anak-anak hari ini. Dan itu dimulai dari hal paling mendasar: gizi," ujar Hamdan Juhannis dalam keterangannya, Kamis (9/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hamdan Juhannis lantas menyinggung bahwa berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2023, prevalensi stunting di Indonesia masih berada pada kisaran 21,5 persen. Menurutnya, angka tersebut menunjukkan bahwa masalah gizi kronis pada anak masih menjadi pekerjaan besar.
"Dalam konteks itu, UIN Alauddin Makassar menghadirkan kontribusi melalui inovasi riset yang berfokus pada program MBG berbasis kearifan lokal," jelasnya.
UIN Ciptakan Aplikasi Digital Pemantau Gizi Anak
Salah satu inovasi utama yang dikembangkan adalah aplikasi digital untuk pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak. Aplikasi ini memungkinkan orang tua dan tenaga kesehatan memantau status gizi anak secara berkala, sekaligus mendeteksi dini potensi gangguan pertumbuhan.
Ketua tim riset UIN Alauddin Makassar, Fais Satrianegara mengatakan bahwa aplikasi digital ini penting untuk mendorong pendekatan yang menggeser pola intervensi dari yang bersifat reaktif menjadi lebih preventif dan berbasis data. Dia percaya aplikasi ini dapat membantu program makanan bergizi lebih akurat.
"Dengan ketersediaan informasi yang terintegrasi, penanganan masalah gizi dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran," ujar Fais dalam keterangannya.
Selain itu, tim peneliti juga mengintegrasikan fitur edugames dalam aplikasi sebagai media edukasi gizi. Melalui pendekatan ini, anak-anak diperkenalkan pada konsep gizi seimbang, jenis makanan sehat, serta pentingnya pola makan yang baik dengan cara yang lebih interaktif.
"Persoalan gizi tidak hanya soal ketersediaan makanan, tetapi juga pengetahuan dan kebiasaan. Edukasi sejak dini menjadi bagian penting dari intervensi," kata Fais.
Inovasi lainnya adalah penyusunan katalog menu makanan bergizi berbasis kearifan lokal. Berbeda dengan pendekatan seragam, katalog ini disusun dengan mempertimbangkan potensi bahan pangan daerah, kebiasaan konsumsi masyarakat, serta nilai budaya yang berkembang.
"Pendekatan berbasis lokal ini dinilai dapat meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap program MBG sekaligus memperkuat keberlanjutannya. Selain itu, pemanfaatan bahan pangan lokal juga berpotensi mendorong ekonomi masyarakat setempat," jelasnya.
Sebagai informasi, riset dan inovasi aplikasi digital tersebut dilakukan oleh tim peneliti UIN Alauddin Makassar pada 2025 lalu. Riset ini dilakukan setelah tim memperoleh pendanaan dari skema LPDP-MORA (MoRA The Air Fund).
"Sejak awal, penelitian ini memang diarahkan agar tidak berhenti pada rekomendasi, tetapi menghasilkan solusi yang bisa digunakan," ujar Fais.
Rektor UIN Makasar Harap Riset Ini Perkuat MBG
Hamdan Juhannis turut mengapresiasi inovasi tersebut. Dia menilai capaian tersebut menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendukung program prioritas Presiden Prabowo Subianto.
"Kampus tidak hanya menjadi pusat produksi pengetahuan, tetapi juga harus mampu menghadirkan solusi nyata yang berdampak bagi masyarakat," ujar Hamdan Juhannis.
Dia mengatakan bahwa integrasi antara teknologi, edukasi, dan pendekatan budaya dalam riset ini mencerminkan upaya untuk menjawab persoalan gizi secara lebih komprehensif. Tidak hanya berfokus pada penyediaan makanan, tetapi juga membangun ekosistem yang mendukung perubahan perilaku dan pemantauan berkelanjutan.
"Ke depan, inovasi semacam ini diharapkan dapat memperkuat pelaksanaan program MBG secara nasional. Lebih dari itu, langkah tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan setiap anak Indonesia tumbuh dengan gizi yang cukup, pengetahuan yang memadai, dan lingkungan yang mendukung perkembangannya," jelasnya.
(hmw/sar)











































