Orang tua siswa SD di Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel), meminta maaf usai memprotes program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menu pisang bonyok alias tidak layak yang dibagikan saat Ramadan. Ortu mengaku persoalan yang sempat disampaikan lewat akun media sosialnya tersebut hanya kesalahpahaman.
"Saya memohon maaf terhadap gambar itu. Insyaallah kita tetap akan menjalin komunikasi yang baik dengan SPPG tentang apabila ada hal-hal yang ingin diperbaiki," kata ortu siswa, Herman Made Ali kepada detikSulsel, Kamis (5/3/2026).
Herman mengaku memang sempat memfoto penampakan MBG yang berisi pisang dari anaknya. Dari informasi yang diterimanya dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pisang itu sudah diberikan dalam kondisi layak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya klarifikasi tentang beberapa hari yang lalu di Facebook dan beberapa media tentang foto pisang terhadap MBG yang diberikan kepada anak kami. Jadi pisang tersebut memang fotonya demikian, namun itu dari SPPG dibawa ke sekolah dalam kondisi bagus," paparnya.
Dia melanjutkan, pisang tersebut rusak karena faktor waktu penyimpanan yang terlalu lama di dalam tas anaknya. Paket MBG itu difoto setelah baru dikeluarkan dalam tas anaknya.
"Tapi anak-anak ini nanti dia bermalam ini pisang baru dia perlihatkan, baru difoto, dan itulah yang kami masukkan di media dan itu ternyata menyebar," ungkap Herman.
Sementara itu, Yayasan SPPG Bukit Harapan Parepare persoalan tersebut hanya kesalahpahaman. Pisang yang disebut rusak dan sempat difoto orang tua siswa karena lama tersimpan dalam tas hingga bermalam.
"Pihak SPPG melakukan distribusi ke sekolah pada hari Senin, 23 Februari 2026, dengan kondisi buah yang baik dan tidak ada buah yang rusak diterima oleh pihak sekolah," ujar Perwakilan Yayasan SPPG Bukit Harapan, Ikhsan Ilmuddin kepada wartawan.
Ikhsan sudah menelusuri distribusi MBG di pihak SDN 10 Parepare. Dia mengatakan, pihak sekolah tidak menemukan pisang rusak saat dibagikan ke siswa.
"Kami juga sudah berkoordinasi dengan pihak sekolah persoalan buah yang rusak seperti yang diberitakan di media," katanya.
Dia menjelaskan, paket yang dibagikan saat itu merupakan menu untuk jatah tiga hari sekaligus. Namun, berdasarkan penelusuran, menu tersebut tidak segera dikeluarkan dari tas siswa.
"Adapun menu yang dibagikan pada saat itu berupa menu rapelan (Senin, Selasa, Rabu). Dari hasil klarifikasi dari pihak orang tua, ternyata menu tersebut baru dikeluarkan dari tas anaknya di hari Rabu, 25 Februari 2026, dan sudah bermalam," jelasnya.
Ikhsan turut meluruskan adanya ketidaksesuaian informasi mengenai isi menu yang beredar di media sosial. Termasuk isu adanya kacang dan hilangnya komponen susu dalam foto yang viral.
"Sehingga menyebabkan buah tersebut rusak. Pada menu rapelan tersebut pihak SPPG tidak pernah menggunakan kacang, tapi yang beredar di media menyatakan ada kacang. Foto yang dibagikan juga tidak lengkap karena ada berupa susu yang tidak ada dalam foto menu," tambahnya.
Sebelumnya diberitakan, MBG menu pisang yang diduga tidak layak dibagikan di SDN 10 Parepare pada Senin (23/2). Persoalan ini pun viral usai orang tua siswa mengunggah foto pisang yang disebut sudah dalam kondisi rusak namun dibagikan ke anaknya.
Adapun MBG yang diterima siswa berupa roti, susu kotak, kacang, telur dan pisang. Menu MBG tersebut diterima untuk tiga hari.
(sar/hsr)











































