5 Teks Khutbah Jumat Singkat Terbaru April 2026, Lengkap Format PDF

5 Teks Khutbah Jumat Singkat Terbaru April 2026, Lengkap Format PDF

Iswandy Rusli - detikSulsel
Kamis, 09 Apr 2026 19:15 WIB
Teks khutbah jumat terbaru April 2026 lengkap link download gratis pdf-nya.
Foto: Raisan Al Farisi/Antara Foto
Makassar -

Khutbah Jumat merupakan salah satu sarana dakwah bagi umat Islam. Terdapat berbagai tema yang dapat disampaikan oleh khatib kepada jemaah, mulai dari perkara akidah, akhlak, hingga isu nasional-global yang sedang menjadi perhatian.

Pesan-pesan dalam khutbah Jumat sebaiknya disusun dengan bahasa yang mudah dipahami, terstruktur, dan dilengkapi dalil dari Al-Qur'an dan hadits. Hal ini agar pesan-pesan keagamaan yang disampaikan khatib dapat diterima dengan baik oleh jemaah salat Jumat.

Sebagai referensi dalam menyusun materi khutbah, di bawah ini detikSulsel menyajikan kumpulan teks khutbah Jumat singkat terbaru April 2026 dengan berbagai tema menarik. Teks khutbah di bawah ini juga tersedia dalam format PDF yang dapat diunduh secara gratis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yuk simak selengkapnya!

Teks Khutbah Jumat #1: Kemenangan Sejati

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إلهَ إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah

Menang dan kalah merupakan dua sisi berlawanan yang lumrah terjadi dalam sebuah kompetisi. Setiap petarung tentu menginginkan kemenangan, meski tidak semua dapat mencapainya. Ketika hasil tidak sesuai harapan, menerima dengan lapang dada merupakan langkah yang paling bijak.

Sebagai orang beriman kita perlu menyadari bahwa segala bentuk kemenangan di dunia ini bersifat sementara. Maka, tidak perlu selebrasi berlebihan saat memperolehnya, cukup sewajarnya saja. Bagi seorang mukmin, kemenangan sejati adalah ketika ia berhasil mendapatkan ganjaran tertinggi dari Allah SWT, yakni surga yang penuh kenikmatan. Itulah puncak kemenangan yang tidak ada bandingannya dengan hadiah duniawi. Allah SWT berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ.

"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah balasan kalian disempurnakan. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu." (QS Ali Imran [3]: 185).

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah

Kemenangan sejati di kampung akhirat tidak datang dengan serta-merta. Ia merupakan hasil akhir dari proses perjuangan panjang selama hidup di dunia. Ketakwaan sebagai wujud hubungan erat antara hamba dengan Allah SWT, menjadi kunci utama untuk meraih kemenangan sejati.

Orang yang bertakwa akan meraih kemenangan setelah berhasil melewati berbagai ujian dunia. Dalam menjalani kehidupan, mereka menyadari bahwa dunia bukanlah tempat berleha-leha tanpa batas. Dunia bagi mereka adalah medan ujian yang penuh tantangan.

Allah SWT berfirman:

وَيُنَجِّى اللّٰهُ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا بِمَفَازَتِهِمْۖ لَا يَمَسُّهُمُ السُّوْۤءُ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

"Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka. Mereka tidak disentuh oleh azab dan tidak bersedih hati." (QS az-Zumar [39]: 61).

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah

Adakah kemenangan yang lebih didambakan oleh seorang mukmin selain kemenangan sejati saat kembali ke haribaan Ilahi? Allah SWT berfirman:

... وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

".....Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung." (QS al-Ahzab [33]: 71).

Surga dengan segala kenikmatan kelak menjadi tempat tinggal yang kekal bagi para pemenang sejati. Tidak ada lagi kesedihan, kelelahan, kecemasan dan segala hal yang menyesakkan dada. Para penghuninya akan hidup dalam kebahagiaan abadi dengan beragama nikmat yang Allah berikan.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah

Kemenangan sejati bagi orang mukmin bukanlah tentang jumlah medali atau piagam penghargaan yang diraih di dunia, tetapi tentang kebahagiaan abadi di surga. Jika hadiah dunia saja membuat kita begitu bersemangat untuk meraih kemenangan, seharusnya kita harus lebih bersemangat untuk mendapatkan surga sebagai hadiah utama bagi para hamba-Nya yang terpilih.

Prestasi duniawi tidak menjadi patokan untuk memperoleh kemenangan sejati. Meski perjuangan orang-orang beriman dalam menegakkan kebenaran diwarnai dengan penderitaan bahkan terkadang berujung duka, Allah SWT tetap memandang usaha mereka sebagai sebuah kemenangan. Allah SWT berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ەۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيْرُۗ

"Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, itulah kemenangan yang agung." (QS Al-Buruj [85]: 11).

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah

Mudah-mudahan kita termasuk golongan hamba Allah yang kelak menjadi pemenang sejati.

بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَجَعَلَنَا اللهُ مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِـرُ الله لِيْ وَلَكُمْ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إله إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،

قَالَ الله تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ:

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهم بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهم اغْـفِـرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمَنَاتِ, الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ, إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْواتِ, يَا قَضِيَ الْحَاجَتِ, رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ, رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْـفِـرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اللهم إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَصَلى الله عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Oleh: Safwannur, Alumnus Ponpes Ihyaaussunnah Lhokseumawe, Aceh dan Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) Yogyakarta
Sumber: Suara Muhammadiyah

Teks Khutbah Jumat #2: Menjadi Teladan yang Dikenang Sepanjang Zaman

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالْخَيْرِ وَنَهَانَا عَنِ الشَّرِّ حِفْظًا لِدِيْنِنَا وَدُنْيَانَا، وَجَعَلَ أَعْمَالَنَا مِيْرَاثًا يَبْقَى أَثَرُهُ فِي أَوْلَادِنَا وَأَقْرِبَائِنَا وَ جَمِيْعِ النَّاسِ مِنْ حَوْلِنَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَ هُوَ رَبُّنَا وَمَوْلَانَا، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَ هُوَ خَيْرُ مَنْ تَرَكَ لِلْأُمَّةِ دِينًا وَهُدًى وَبَيَانًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ الَّذِينَ تَرَكُوا لَنَا مِنَ الْخَيْرِ أَعْظَمَ بُنْيَانًا، أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَ قَدْ قَالَ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ.

Jemaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,

Segala puji kita haturkan ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, kita masih diberi kesehatan, kesempatan, dan kelapangan dalam menjalani kehidupan ini.

Dengan pertolongan-Nya pula, berbagai urusan kita dimudahkan dan kebutuhan kita dicukupkan. Hingga pada hari Jumat yang penuh berkah ini, kita dapat hadir bersama, menunaikan ibadah dengan hati yang tentram dan damai.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW sosok agung yang menjadi teladan dalam setiap lini kehidupan. Melalui beliau, kita mengenal jalan kebenaran, serta memperoleh cahaya petunjuk yang membimbing umat manusia keluar dari gelapnya masa Jahiliyah menuju terang benderangnya iman dan Islam.

Semoga shalawat dan salam itu juga terlimpahkan kepada keluarga beliau, para sahabat, tabi'in, serta seluruh umat yang istiqamah menapaki jejak perjuangan beliau hingga akhir zaman.

Selanjutnya, marilah kita senantiasa memperkuat ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Salah satu cara merawat ketakwaan ialah dengan senantiasa mengukur amal ibadah yang telah kita lakukan di masa yang lalu.

Sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Hasyr ayat 18:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan."

Jemaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,

Kita hidup di dunia ini hanya sementara. Sejak bayi hingga menapaki lanjut usia, umur kita berkisar antara 0-60 tahun saja. Masa tersebut sangat singkat apabila dibandingkan dengan perjalanan kehidupan di alam semesta ini. Apalagi disebutkan oleh Nabi Muhammad SAW, bahwa umur rata-rata manusia akhir zaman itu hanya sampai pada usia 60-70 tahun.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, bersumber dari Abu Hurairah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

Artinya: Dari Abu Hurairah, Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: "Usia umatku (manusia akhir zaman) itu berkisar di antara 60-70 tahun saja. Sedikit sekali dari mereka yang melewati rentang usia tersebut (diberikan umur panjang)." (HR. Ibnu Majah)

Jemaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,

Berangkat dari kenyataan bahwa usia manusia begitu singkat sebuah hal yang bisa kita saksikan setiap hari, serta dikuatkan oleh sabda Nabi SAW yang menegaskan bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara, maka sudah sepantasnya kita berusaha meninggalkan jejak sebagai pribadi yang layak diteladani oleh generasi setelah kita, sepanjang masa.

Dengan umur yang terbatas ini, kita hendaknya berupaya menjadi insan yang berakhlak baik: beribadah sesuai syariat, menjauhi larangan Allah, memperlakukan sesama dengan santun, serta menjaga dan menyayangi alam serta lingkungan di sekitar kita.

Sebab perlu disadari, ketika kita telah tiada, yang akan tetap dikenang adalah kebaikan-kebaikan yang pernah kita lakukan selama hidup. Bahkan Al-Qur'an pun menegaskan bahwa setiap jejak dan peninggalan manusia akan terabadikan dan menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya baik itu kebaikan maupun keburukan.

Sebagaimana yang diterangkan oleh surat Yasin ayat 12:

اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰثَارَهُمْۗ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْٓ اِمَامٍ مُّبِيْنٍ ࣖ

Artinya: "Sesungguhnya Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati dan Kami (pulalah) yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (Lauh Mahfuz)."

Jemaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,

Di dalam surat Yasin ayat 12 tersebut dijelaskan, bahwa Allah SWT telah menetapkan, kalau umat manusia itu akan dikenang melalui "bekas-bekas peninggalan mereka". Maksudnya adalah apa saja yang kita lakukan, entah berupa kebaikan atau keburukan, akan abadi dan tetap diingat oleh generasi setelah kita.

Berkaitan dengan uraian tersebut, Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab Tafsirul Munir, jilid XXII, halaman 291, menjelaskan:

وَآثَارَهُمْ( أَيْ مَا أَبْقَوْهُ بَعْدَهُمْ مِنَ الْحَسَنَاتِ الَّتِي لَا يَنْقَطِعُ نَفْعُهَا بَعْدَ الْمَوْتِ، كَالْعِلْمِ وَالْكِتَابِ وَالْمَسْجِدِ وَالْمُسْتَشْفَى وَالْمَدْرَسَةِ، أَوْ مِنَ السَّيِّئَاتِ كَنَشْرِ الْبِدَعِ وَالْمَظَالِمِ وَالْأَضْرَارِ وَالضَّلَالَاتِ بَيْنَ النَّاسِ.

Artinya: "(Firman-Nya: 'dan bekas-bekas mereka') maksudnya adalah apa saja yang mereka tinggalkan setelah mereka wafat berupa kebaikan-kebaikan yang manfaatnya tidak terputus, seperti ilmu, buku, masjid, rumah sakit, dan sekolah; atau berupa keburukan, seperti menyebarkan bid'ah, kezaliman, berbagai bentuk bahaya, dan kesesatan di tengah manusia."

Jemaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,

Perbuatan baik maupun buruk yang yang kita kerjakan, memiliki potensi besar untuk diikuti dan diingat oleh orang lain atau generasi sesudah kita. Maka, untuk dikenang sebagai orang baik sepanjang masa, kita harus senantiasa berbuat baik juga untuk sesama manusia, alam, dan lingkungan sekitar kita.

Namun dalam prosesnya, tetap niatkan dalam diri, bahwa berbuat baik ini semata-mata karena Allah juga. Sebab amal ibadah yang tidak didasari dengan niat karena Allah, maka balasan atas amalnya itu sesuai dengan apa yang diniatkan.

Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi Muhammad SAW, riwayat Imam Bukhari, bersumber dari 'Alqamah:

عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ قَالَ: سَمِعْتُ عُمَرَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ، وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى

Artinya: "Dari Alqamah bin Waqqash, ia berkata: Aku mendengar Umar bin Khattab RA berkata, bahwa ia mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda: "Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan." (HR. Bukhari)

Jemaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,

Jika kita seorang guru, yang setiap hari bergelut dengan ilmu dan pendidikan, maka jadilah teladan yang dikenang melalui ilmu yang kita ajarkan. Didiklah dengan penuh keikhlasan, karena boleh jadi satu ilmu yang bermanfaat akan terus mengalirkan pahala meskipun kita telah tiada.

Jika kita seorang saudagar, seorang pebisnis yang Allah lapangkan rezekinya, maka jadilah teladan melalui kedermawanan. Gunakan harta yang kita miliki untuk membantu sesama, meringankan beban mereka, dan memperluas manfaat bagi banyak orang.

Jika kita seorang pejabat atau pemimpin, maka jadilah teladan melalui kebijakan yang adil dan berpihak kepada rakyat. Gunakan amanah tersebut untuk menghadirkan kemaslahatan, bukan kepentingan pribadi atau golongan.

Dan sesungguhnya, apapun profesi dan keahlian kita, selalu ada peluang untuk menjadi teladan kebaikan. Tidak ada alasan untuk tidak berbuat baik.

Karena itu, pilihlah untuk dikenang sebagai orang baik. Jangan sampai kita dikenal sebagai pribadi yang membawa keburukan, merugikan orang lain, atau bahkan menjadi musuh masyarakat. Na'udzubillahi min dzalik.

Semoga Allah menjadikan kita semua hamba-hamba-Nya yang istiqamah dalam kebaikan, ikhlas dalam beramal, dan mulia dalam kenangan. Amin ya Rabbal 'alamin.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى.

وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلَآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللّٰهِ ! إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِيْ الْقُرْبٰى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوْا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَ اللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Oleh: Muhaimin Yasin, Alumnus Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin Lombok Barat dan Pegiat Kajian Keislaman
Sumber: NU Online

Teks Khutbah Jumat #3: Kenaikan BBM dan Panic Buying dalam Pandangan Islam

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَ بِالْقَصْدِ وَالِاعْتِدَالِ، وَنَهَى عَنِ الْإِسْرَافِ وَالِاحْتِكَارِ فِيْ كُلِّ حَالٍ، وَجَعَلَ التَّكَافُلَ بَيْنَ الْعِبَادِ سَبَبًا لِدَفْعِ الْبَلَاءِ وَحُسْنِ الْمَآلِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَ قَدْ قَالَ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ

Jemaah kaum muslimin yang dirahmati Allah

Puji syukur atas kehadirat Allah, Tuhan semesta alam. Dia adalah Dzat yang telah menjadikan manusia membutuhkan makhluk lain untuk memastikan kelangsungan hidup. Manusia membutuhkan tumbuhan untuk bernafas dan makan, serta membutuhkan hewan dan energi untuk beraktivitas. Semua itu menunjukkan bahwa tidak ada manusia yang bisa hidup dengan sendirinya.

Shalawat dan salam, harus selalu kita senandungkan untuk junjungan kita, Nabi Muhammad SAW. Makhluk yang paling sempurna, sosok insan yang layak untuk kita ikuti setiap perilakunya. Begitu juga kepada para kerabat beliau, sahabat, dan para ulama yang telah menyebarkan ajaran suci yang dibawanya, semoga Allah memberikan rahmat kepada mereka.

Khatib berwasiat kepada diri sendiri dan jamaah shalat Jum'at, mari tingkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Salah satu caranya adalah dengan tetap mengikuti orang-orang yang berada di jalan kebenaran. Sebagaimana firman Allah dalam QS At-Taubah ayat 119:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar!"

Jemaah kaum muslimin yang dirahmati Allah

Sejak selat Hormuz ditutup oleh Iran, pada akhir bulan Februari dan awal Maret 2026, seluruh negara di dunia menetapkan status siaga dan merancang kebijakan tanggap darurat untuk penghematan energi bahan bakar minyak (BBM).

Bagaimana tidak, selat Hormuz ini adalah jalur perdagangan internasional yang setiap harinya, terdapat kapal-kapal tanker berlalu-lalang menyebarkan 20% kebutuhan energi ke seluruh dunia.
Maka dengan ini, sejak 17 Maret, Jepang mulai mencari sumber energi alternatif dan mulai menggunakan pasokan energi cadangan. Sri Lanka, sejak penutupan selat Hormuz, di negara tersebut pemilik kendaraan pribadi hanya bisa memperoleh 15 liter bensin per pekan. Kemudian, di Mesir, pemerintahnya berupaya menekan konsumsi energi dengan membuat kebijakan pembatasan jam operasional pusat perbelanjaan dan restoran hingga pukul 21.00. Selain ketiga negara tersebut, masih banyak kebijakan penghematan yang dilakukan oleh negara lain.

Termasuk di negara tercinta, Indonesia, baru-baru ini, Menteri Perdagangan, Airlangga Hartarto, menyampaikan 8 poin kebijakan pemerintah dalam menyikapi krisis energi ini, di antaranya: penerapan kerja dari rumah dan pembatasan penggunaan kendaraan dinas bagi pejabat.

Jemaah kaum muslimin yang dirahmati Allah

Saat kondisi darurat semacam ini, kita harus tetap sadar dan berhati-hati dalam menerima berita. Pastikan sumbernya kredibel dan menampilkan fakta yang tengah terjadi. Termasuk juga mengendalikan reaksi terhadap isu-isu liar yang tengah berkembang di masyarakat.

Jangan sampai ada kabar atau isu hoax beredar di masyarakat, misalnya harga BBM akan dinaikkan oleh pemerintah, imbas dari perang di Timur Tengah. Sehingga dengannya menyebabkan kita panik dan berupaya memborong segala hal untuk menjaga ketersediaan, termasuk secara tergesa-gesa ke SPBU untuk menyiapkan cadangan BBM.

Kita tidak boleh melakukan tindakan demikian. Sebab dalam Islam, hal ini termasuk dalam kategori israf (berlebih-lebihan). Sebagaimana yang diterangkan dalam QS. Al-A'raf ayat 31:

وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ

Artinya: "Dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan."

Jemaah kaum muslimin yang dirahmati Allah

Meskipun ayat ini secara eksplisit menyinggung perilaku berlebihan dalam urusan makan dan minum, akan tetapi, dijelaskan oleh Syekh As-Sya'rawi dalam kitab Tafsir Asy-Sya'rawi, jilid VII, halaman 4113, bahwa segala tindakan melebihi batas normal, termasuk ke dalam hal yang tidak diperbolehkan dan menyebabkan pelakunya sebagai orang yang melampaui batas. As-Sya'rawi merincikan:

فَإِذَا لَمْ يُوجَدْ مَا يُغْنِيكَ، فَالْحَقُّ يَحِلُّ لَكَ أَنْ تَأْخُذَ عَلَىٰ قَدْرِ مَا يَحْفَظُ عَلَيْكَ حَيَاتَكَ، وَالْمُسْرِفُونَ هُمُ الْمُتَجَاوِزُونَ الْحُدُودَ

Artinya: "Maka apabila tidak ditemukan sesuatu yang dapat mencukupimu, diperbolehkan bagimu untuk mengambil sekadar saja yang dapat menjaga kelangsungan hidupmu. Dan orang-orang yang berlebihan adalah mereka yang melampaui batas."

Jemaah kaum muslimin yang dirahmati Allah

Selain menyebabkan kita berpotensi melakukan hal yang tidak diperkenankan oleh Islam, perilaku kita yang memborong kebutuhan seperti BBM untuk menimbunnya dapat menyebabkan kita menjadi orang yang salah dan berdosa. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bersumber dari Ma'mar bin Abdillah:

عَنْ مَعْمَرِ بْنِ عَبْدِ اللّٰهِ ، عَنْ رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا يَحْتَكِرُ إِلَّا خَاطِئٌ

Artinya: "Dari Ma'mar bin Abdillah, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: "Tidaklah seseorang itu menimbun (barang) kecuali ia bersalah." (HR. Muslim).

Jemaah kaum muslimin yang dirahmati Allah

Abul Abbas al-Qurthubi dalam kitab Al-Mufhim lima Asykala min Talkhish Kitab Muslim, jilid IV, halaman 520, menjelaskan, perbuatan menimbun ini tidak diperkenankan dalam hal apapun:

قُلْتُ: وَهٰذَا الْحَدِيْثُ بِحُكْمِ إِطْلَاقِهِ، أَوْ عُمُوْمِهِ، يَدُلُّ عَلَىٰ مَنْعِ الِاحْتِكَارِ فِي كُلِّ شَيْءٍ

Artinya: "Aku berkata: 'Hadits ini, berdasarkan keumuman dan cakupannya, menunjukkan larangan penimbunan dalam segala hal'."

Jemaah kaum muslimin yang dirahmati Allah

Dalam situasi sulit seperti sekarang, ketika kebutuhan energi sedang langka dan kondisi terasa tidak pasti, sebagian orang cenderung membeli barang secara berlebihan karena panik.

Padahal, dalam Al-Qur'an Surah Al-A'raf ayat 31, Allah mengingatkan agar kita tidak berlebih-lebihan. Panic buying pada dasarnya adalah bentuk sikap berlebihan yang lahir dari rasa takut, bukan keputusan yang timbul sebab untuk memenuhi kebutuhan.

Selain itu, penimbunan barang yang dibutuhkan banyak orang, seperti BBM, juga termasuk perbuatan yang dilarang. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang yang menimbun barang termasuk orang yang berdosa.

Karena itu, yang perlu kita lakukan adalah tetap tenang dan tidak terbawa kepanikan. Belilah barang secukupnya sesuai kebutuhan. Mari kita jaga kepedulian terhadap sesama, agar di tengah situasi sulit ini, semua orang tetap bisa mendapatkan kebutuhannya dengan adil. Serta tetaplah ikuti kebijakan pemerintah.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِيْ الْقُرْبٰى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوْا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Oleh: Ustadz Muhaimin Yasin, Alumnus Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin Lombok Barat dan Pegiat Kajian Keislaman
Sumber: NU Online

Teks Khutbah Jumat #4: Makna dan Keutamaan Membaca Basmalah

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْقُرْأَنَ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ، وَجَعَلَ فِيْ ذِكْرِهِ طُمَأْنِيْنَةً لِلْقُلُوْبِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ, فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Jemaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah SWT,

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kita kesempatan untuk bisa berjumpa di siang hari ini untuk melaksanakan rangkaian shalat Jumat bersama di masjid yang mulia ini.

Selanjutnya, tak lupa marilah kita haturkan pula shalawat beserta salam kepada Nabi Muhammad SAW, juga kepada para keluarganya, sahabatnya, dan semoga melimpah kepada kita semua selaku umatnya. Amin ya Rabbal 'alamin.

Khatib juga mengajak pada jamaah sekalian sekaligus diri pribadi agar selalu meningkatkan takwa kepada Allah SWT dengan cara menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Allah Ta'ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. (QS. Ali-Imran: 102).

Jemaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah SWT,

Salah satu amalan sunnah bagi umat Islam adalah memulai setiap pekerjaan dengan mengucapkan basmalah. Basmalah, atau bismillah, berarti "dengan nama Allah". Artinya, ketika seorang Muslim mengucapkannya sebelum melakukan sesuatu, ia memulai pekerjaan tersebut dengan menyandarkan niatnya pada Allah dan menyadari bahwa segala sesuatu adalah milik-Nya.

Allah melalui Nabi-Nya menjadikan basmalah sebagai etika bagi setiap Muslim dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam At-Thabari dalam Tafsir Jamiul Bayan 'an Takwili ayil Qur'an, jilid I halaman 114, Allah mendidik Nabi Muhammad SAW dengan mengajarkan beliau untuk selalu menyebut nama Allah sebelum melakukan setiap pekerjaan.

Simak penjelasan Imam Thabari;

إِنَّ اللهَ تَعَالَى ذِكْرُهُ وَتَقَدَّسَتْ أَسْمَاؤُهُ أَدَّبَ نَبِيَّهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِتَعْلِيْمِهِ تَقْدِيْمَ ذِكْرِ أَسْمَائِهِ الْحُسْنَى أَمَامَ جَمِيْعِ أَفْعَالِهِ، وَتَقَدَّمَ إِلِيْهِ فِيْ وَصْفِهِ بِهَا قَبْلَ جَمِيْعِ مُهِمَّاتِهِ، وَجَعَلَ مَا أَدَّبَهُ بِهِ مِنْ ذَلِكَ وَعَلَّمَهُ إِيَّاهُ مِنْهُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ سُنَّةً يَسْتَنُّوْنَ بِهَا، وَسَبِيْلًا يتَّبِعُوْنَهُ عَلَيْهَا، فَبِهِ افْتِتَاحُ أَوَائِلِ مَنْطِقِهِمْ، وَصُدُوْرِ رَسَائِلِهِمْ وَكُتُبِهِمْ وَحَاجَاتِهِمْ

Artinya: "Allah SWT mendidik Nabi Muhammad SAW dengan mengajarkannya untuk selalu menyebut nama Allah sebelum melakukan semua pekerjaannya, mendahulukan menyebut sifat Allah sebelum semua kepentingannya. Allah juga menjadikan etika yang diajarkan kepada nabi-Nya untuk dilakukan pula oleh seluruh manusia sebagai sunnah yang diikuti. Dengan basmalah sebagai pembuka setiap ucapan, permulaan surat, buku maupun pembuka dalam kebutuhan manusia".

Jemaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah SWT,

Menurut Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah jilid I halaman 12, basmalah memiliki dua makna, yaitu memulai dan kekuasaan.

Makna yang pertama, memulai, berarti ketika seorang Muslim mengucapkan bismillah sebelum melakukan suatu pekerjaan, ia meniatkan dalam hatinya untuk memulai aktivitas itu dengan nama Allah. Harapannya, pekerjaan tersebut menjadi baik, pengucapnya terhindar dari godaan nafsu, tidak merugikan orang lain, dan bahkan membawa manfaat.

Makna yang kedua, kekuasaan, berarti saat mengucapkan basmalah, seorang Muslim meniatkan bahwa semua pekerjaan yang dilakukannya akan terlaksana dengan baik berkat kuasa dan pertolongan Allah SWT. Seolah-olah hatinya berkata: "Dengan kekuasaan dan pertolongan Allah, pekerjaan yang saya lakukan ini dapat berhasil."

Jemaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah SWT,

Lebih dari itu, basmalah memiliki banyak keutamaan. Salah satunya adalah berperan sebagai pembuka bagi setiap perbuatan atau pekerjaan baik, seperti saat makan, minum, berbicara, atau melakukan kebaikan yang bermanfaat lainnya.

Bahkan, dalam sebuah riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal, disebutkan bahwa setiap ucapan atau pekerjaan yang bernilai baik, jika tidak diawali dengan menyebut nama Allah, maka nilainya menjadi kurang sempurna atau cacat. Dengan kata lain, basmalah bukan sekadar kata, tetapi kunci agar setiap amal kita mendapatkan keberkahan dari Allah.

Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya berkata:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " كُلُّ كَلَامٍ، أَوْ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُفْتَحُ بِذِكْرِ اللهِ، فَهُوَ أَبْتَرُ أَوْ قَالَ: أَقْطَعُ

Artinya: "Dari Abi Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda: "setiap ucapan atau perbuatan yang memiliki nilai baik yang tidak diawali dengan menyebut nama Allah maka perbuatan tersebut dianggap cacat". (HR. Ahmad bin Hanbal).

Jemaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah SWT,

Terkait hadits di atas, Syekh Nawawi Banten dalam Kasyifatus Saja hal 3 menjelaskan bahwa maksudnya ialah setiap pekerjaan mulia yang bernilai baik yang tidak diawali dengan membaca bismillah dinilai kurang sempurna meski secara kasat mata terlihat baik.

Syekh Nawawi berkata:

وَمَعْنَى الْحَدِيْثِ: كُلُّ شَيْءٍ لَهُ شَرَفٌ وَعَظَمَةٌ أَوْ كُلُّ شَيْءٍ يُطْلَبُ أَوْ يُبَاحُ أَوْ كُلُّ شَيْءٍ لَهُ قَلْبٌ أَيْ يَمْلِكُ قَلْبًا لَا يُبْدَأُ بِسَبَبِ ذَلِكَ الشَّيْءِ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ فَهُوَ كَالْحَيَوَانِ الْمَقْطُوْعِ الذَّنَبِ أَوْ كَمَنْ قُطِعَتْ يَدَاهُ أَوْ كَمَنْ ذَهَبَتْ أَنَامِلُهُ أَوْ كَمَنْ بِهِ جُذَامٌ فِيْ نَقْصِهِ وَعَيْبِهِ شَرْعًا وَإِنْ تَمَّ حِسًّا

Artinya: "Makna hadits tersebut ialah setiap sesuatu yang bernilai mulia atau perbuatan yang dianjurkan atau diperbolehkan atau sesuatu yang memiliki hati di dalamnya yang tidak dimulai dengan membaca bismillah maka perbuatan tersebut seperti halnya hewan yang terpotong ekornya (cacat), atau seperti manusia yang terpotong tangannya atau seperti halnya seseorang yang memiliki penyakit kulit. Dalam artian kurang secara syariat meski terlihat sempurna secara kasat mata".

Demikian yang bisa khatib sampaikan. Kesimpulannya, sangat dianjurkan bagi umat Islam untuk membaca basmalah ketika memulai pekerjaan yang bernilai baik. Dengan harapan pekerjaan yang dilakukan tidak hanya sempurna secara fisik namun juga bernilai berkah di sisi Allah SWT.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ

Khutbah Kedua

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَر.ِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ

Oleh: Alwi Jamalulel Ubab
Sumber: NU Online

Teks Khutbah Jumat Bahasa Jawa: Nalika Kahanan Rekasa, Tansah Cekelen Sabar lan Takwa

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، خَيْرُ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ اللّٰهُ إِلَى الْعَالَمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah

Sedaya puji namung kagunganipun Gusti Allah SWT, dzat ingkang Maha Kuwaso, ingkang sampun nyiptaaké langit lan bumi sak isine. Kanthi sedaya nikmatipun, mangga kita syukuri kelawan gunaaké nikmat punika ing dalan kang saé.

Wonten ing pambuka sidang khutbah ingkang minulya punika, kepareng khatib ngaturaken pepéling kagem kita sedaya. Manggaha kita tansah ningkataken takwa kita, kelawan nindakaké perintah saking Gusti saha nebihi sedaya awisanipun. Mugi-mugi kita kalebet golongan ingkang angsal Ridha saking Gusti Allah ta'ala. Dhawuhipun Allah ing Al-Qur'an:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الأَلْبَابِ

Artosipun, "Pada (gawa) sanguha sira kabeh, mangka setuhuné luwih bagus-bagusé sangu, yaiku takwa marang Allah. Lan padha takwaha sira kabeh ing Ingsun (Allah), héi wong kang padha duweni akal." (QS Al Baqarah ayat 197).

Jamaah sidang Jumat ingkang minulya

Nalikané urip ana ing dunya, Manungsa mesti bakal dipun coba kanthi pinten-pinten coba utawa ujian. Dhawuhipun Gusti Allah wonten ing Al-Qur'an:

وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

Artosipun, "Lan yekti nguji sapa Ingsun (Allah) ing sira kabeh, kelawan suwiji-wiji saking rasa kuwatir (wedi), luwé, larang pangan, kekurangan bandha lan woh-wohan. Nalika ana coba kang mengkunu iku begja banget wong-wong kang padha sabar." (QS Al-Baqarah ayat 155).

Rasa kuwatir niku lumrah kanggoné manungsa, sebab manungsa iku makhluk kang nduwéni sifat apes. Nalika wonten kahanan kang medeni kaya déné musibah utawa perang mesthi bakal nduwéni rasa kuwatir, mbok menawa bakal kelakon kahanan sing marakaké rekasa.

Menawi ing kahanan rekasa utawa nduwéni rasa kuwatir utawa nampa ujian-ujian kados ingkang sampun kasebat wau, mangka kedah dipun lampahi kanthi rasa sabar utawa tabah. KH Bisri Musthofa maringi keterangan bilih kanthi rasa sabar utawi sabar punika saget dadi dalan tampa bungah ing swarga.

Lajeng sapa iku wong-wong kang sabar? Yaiku wong-wong kang nalika tampa bilahi nuli maos: inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Wong-wong kang padha sabar tabah mau, bakal oleh pangapura lan nikmat saking Allah Ta'ala, lan wong-wong kang padha sabar mau sakbeneré wong-wong kang oleh pituduhé Allah Ta'ala. (Tafsir Al-Ibriz, juz II, kaca 51-52).

Sabar ugi saget dados pepadhangé manah. Kados dhawuhipun Kanjeng Nabi Muhammad SAW ing hadits kang dipun riwayatké saking Sahabat Abu Malik Al-Harits ra:

وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ

Artosipun: "Utawi sabar iku dadi pepadhang (HR Imam Muslim).

Jamaah sidang Jumat ingkang minulya

Kejaba sabar, nalika ing kahanan napa mawon kita kedah gadahi rasa takwa marang Gusti Allah SWT. Kanthi takwa punika, insyallah bakal maringi gampil lan dipun buka dalané. Gusti Allah ugi sampun maringi dhawuh ing Al-Qur'an:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا

Artosipun, "Lan sapa wongé kang takwa marang Allah Ta'ala, bakal didamel urusané (ana ing dunya lan akhirat) dadi gampang." (QS At-Thalaq ayat 5).

Wonten ing ayat sanesipun, ugi dipun terangaken bilih tiyang ingkang takwa ugi bakal diparingi rezeki saking Allah Ta'ala, kanthi dalan-dalan kang dhèwèké ora padha ngira-ngira.

Menikahlah prakawis-prakawis ingkang saget lampahi, khususipun nalika kita nampi ujian saking Gusti Allah SWT. Kangge mungkasi khutbah punika, mangga kita tansah dedunga mugi kita sumrambah ing keluarga kita dipun dadosaken Allah, dados tiyang ingkang begja wonten ing dunya lan akhirat. Lan mugi-mugi sedaya amal ibadah kita dipun tampi kalian Gusti Allah SWT. Amin ya Rabbal 'alamin.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا يَآ أُوْلِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللّٰهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى. فَقَدْ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ .اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرْ

Oleh: Ustadz Ajie Najmuddin, Pengurus MWCNU Banyudono Boyolali
Sumber: Nu Online

Download Teks Khutbah Jumat Terbaru April 2026 PDF

Berikut link download gratis teks khutbah Jumat terbaru April 2026 dalam format PDF:




(alk/alk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads