Balita perempuan berusia 2 tahun meninggal usai diduga lambat mendapatkan penanganan medis di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Johannes Leimena Kota Ambon, Maluku. Keluarga korban lalu memprotes pelayanan di rumah sakit tersebut.
"Keluarga memprotes sistem pelayanan medis yang lamban sehingga menyebabkan putri saya meninggal," kata ayah korban, Gani Purbaya Wowotubun kepada detikcom, Minggu (5/4/2026).
Gani dan keluarganya dari Maluku Tenggara datang ke Ambon untuk pengobatan putrinya. Putrinya kemudian dirawat di RSUP dr Johanes Leimena sejak Selasa (31/3).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namun dalam masa penanganan, pihak RSUP menyampaikan pada keluarga dari hasil pemeriksaan bahwa putrinya mengalami cairan yang menumpuk di perutnya," jelasnya.
Dari pemeriksaan awal tersebut, pihak rumah sakit menyampaikan akan dilakukan tindakan menyedot cairan. Namun pihak rumah sakit tidak memberikan kepastian terkait waktu tindakan.
"Tetapi pihak RSUP, tidak memberikan kepastian atau keterangan waktu beserta alasan kepada keluarga untuk melakukan tindakan penyedotan tersebut," bebernya.
Selama di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD), kondisi putrinya memburuk hingga sesak napas. Putrinya kemudian dinyatakan meninggal dunia pada Jumat (3/4).
"Selama tiga hari rawat nginap, hingga hari ketiga almarhumah mengalami sesak napas dikarenakan perutnya yang semakin bengkak akibat cairan yang semakin menumpuk di perutnya," jelasnya.
"Saat rasa sakit itu, tak berselang lama putri saya dinyatakan meninggal," tambahnya.
Terkait kejadian itu, detikcom telah menghubungi Direktur RSUP Dr Johannes Leimena, drg Saraswati namun hingga kini belum direspons.
Dalam video beredar dilihat detikcom, sejumlah keluarga balita itu mendatangi RSUP dr Johannes Leimena Ambon. Mereka memprotes pelayanan medis yang buruk di rumah sakit pemerintah tersebut.
