Sejumlah wilayah di Sulawesi Utara (Sulut) dan Maluku Utara (Malut) terus diguncang gempa susulan usai gempa besar berkekuatan magnitudo (M) 7,6 terjadi di wilayah Bitung pada Kamis (2/4) pagi kemarin. Hingga siang ini sudah 484 kali gempa susulan.
Data itu dihimpun BMKG per hari ini, Jumat (3/4) hingga pukul 11.55 WIB. Total gempa bumi susulan (aftershock) yang tercatat mencapai 484 kali.
"Gempa bumi ini merupakan rangkaian susulan dari gempa bumi dengan kekuatan M 7.6 di Pulau Batang Dua pada tanggal 2 April 2026 pukul 05.48.14 WIB," ucap Plt Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG,Rahmat Triyono dalam keterangannya, Jumat (3/4/2026).
Gempa bumi susulan tersebut tercatat dengan magnitudo terbesar M 5.8 dan terkecil M 1,7. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami.
Rahmat Triyono menjelaskan dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas deformasi kerak bumi. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault).
"Gempa bumi ini berdampak dan dirasakan di daerah Batang Dua dan Ternate dengan skala intensitas III MMI (Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan akan truk berlalu)," terangnya.
Dampak Gempa M 7,6 di Sulut-Malut
Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan data terbaru dampak kerusakan akibat gempa berkekuatan magnitudo (M) 7,6 di Sulut dan Malut. Total 190 rumah rusak dari dua provinsi tersebut dan 355 jiwa mengungsi.
Berdasarkan data kaji sementara BNPB hingga Jumat (3/4) siang, gempa mengakibatkan satu orang meninggal dunia di Kota Manado, Sulut. Satu orang lainnya mengalami luka ringan di Kabupaten Minahasa.
"Di Sulawesi Utara terdapat 1 unit hotel, 5 kantor, dan 1 fasilitas umum (Gedung KONI) terdampak di Kota Manado Di Kabupaten Minahasa, tercatat 17 rumah, 1 kantor pemerintahan, 2 fasilitas ibadah, dan 1 akses jalan terdampak," Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangannya, Jumat (3/4).
(ata/nvl)