Kamis Putih menjadi awal dari rangkaian Tri Hari Suci yang sarat makna bagi umat Katolik. Pada hari ini, Gereja mengenang kasih Yesus yang begitu mendalam, yang dinyatakan bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga tindakan nyata, bahkan dalam kerendahan hati yang paling sederhana.
Peristiwa pembasuhan kaki para murid menjadi salah satu momen paling menyentuh dalam perjamuan terakhir. Yesus, Sang Guru dan Tuhan, justru mengambil posisi sebagai seorang hamba dengan membasuh kaki murid-murid-Nya.
Melalui renungan Kamis Putih ini, kita diajak untuk merenungkan kembali makna sejati kepemimpinan dalam terang iman, bahwa menjadi besar bukanlah soal kedudukan, melainkan kesediaan untuk melayani sesama dengan tulus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nah, berikut bacaan, teks Mazmur Tanggapan, bait pengantar Injil dan bacaan Injil hingga renungan Katolik Kamis Putih 2 April 2026. Yuk, simak selengkapnya!
Renungan Harian Katolik Hari Ini 2 April 2026
Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:
Bacaan I: Keluaran 12:1-8.11-14
"Aturan perjamuan Paska."
Pada waktu itu berfirmanlah Tuhan kepada Musa dan Harun di tanah Mesir, "Bulan ini akan menjadi permulaan segala bulan bagimu, bulan yang pertama bagimu tiap-tiap tahun. Katakanlah kepada segenap jemaat Israel: Pada tanggal sepuluh bulan ini hendaklah diambil seekor anak domba oleh masing-masing menurut kaum keluarga, seekor anak domba untuk tiap-tiap rumah tangga.
Tetapi jika rumah tangga itu terlalu kecil jumlahnya untuk menghabiskan seekor anak domba, maka hendaklah ia bersama dengan tetangga yang terdekat mengambil seekor menurut jumlah jiwa; tentang anak domba itu, kamu buatlah perkiraan menurut keperluan tiap-tiap orang.
Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela dan berumur satu tahun; kamu boleh mengambil domba, boleh kambing. Anak domba itu harus kamu kurung sampai tanggal empat belas bulan ini.
Lalu seluruh jemaat Israel yang berkumpul harus menyembelihnya pada senja hari. Darahnya harus diambil sedikit dan dioleskan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas rumah, tempat orang-orang makan anak domba itu.
Pada malam itu juga mereka harus memakan dagingnya yang dipanggang; daging panggang itu harus mereka makan dengan roti yang tidak beragi dan sayuran pahit. Beginilah kamu harus memakannya: pinggangmu berikat, kaki berkasut, dan tongkat ada di tanganmu.
Hendaknya kamu memakannya cepat-cepat. Itulah Paskah bagi Tuhan. Sebab pada malam ini Aku akan menjelajahi negeri Mesir, dan membunuh semua anak sulung, baik anak sulung manusia maupun anak sulung hewan, dan semua dewata Mesir akan Kujatuhi hukuman.
Akulah Tuhan. Adapun darah domba itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah tempat kamu tinggal. Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan melewati kamu.
Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, pada saat Aku menghukum negeri Mesir. Hari ini harus menjadi hari peringatan bagimu, dan harus kamu rayakan sebagai hari raya bagi Tuhan turun temurun.
Mazmur Tanggapan: Mzm. 116:12-13.15-16bc.17-18
Mazmur Tanggapan Kamis Putih Foto: Dok. Lagu Misa |
Bacaan II: 1 Korintus 11:23-26
"Setiap kali kamu makan dan minum, kamu mewartakan wafat Tuhan."
Saudara-saudara, apa yang telah kuteruskan kepadamu ini telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam Ia diserahkan, mengambil roti, dan setelah mengucap syukur atasnya, Ia memecah-mecahkan roti itu seraya berkata, "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagimu; perbuatlah ini untuk mengenangkan Daku!"
Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata, "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan dalam darah-Ku. Setiap kali kamu meminumnya, perbuatlah ini untuk mengenangkan Daku." Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum dari cawan ini, kamu mewartakan wafat Tuhan sampai Ia datang.
Bait Pengantar Injil Yohanes 13:34
Bait Pengantar Injil Kamis Putih Foto: Dok. Lagu Misa |
Bacaan Injil: Yohanes 13:1-15
"Ia mengasihi mereka sampai saat terakhir."
Sebelum Hari Raya Paskah mulai, Yesus sudah tahu bahwa saatnya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sebagaimana Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya, demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai saat terakhir.
Ketika mereka sedang makan bersama, Iblis membisikkan dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, rencana untuk mengkhianati Yesus. Yesus tahu, bahwa Bapa telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Maka bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya.
Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya. Kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya, lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.
Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya, "Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?" Jawab Yesus kepadanya, "Apa yang Kuperbuat, engkau tidak mengerti sekarang, tetapi engkau akan memahaminya kelak."
Kata Petrus kepada-Nya, "Selama-lamanya Engkau tidak akan membasuh kakiku!" Jawab Yesus, "Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak akan mendapat bagian bersama Aku."
Kata Simon Petrus kepada-Nya, "Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!" Kata Yesus kepadanya, "Barangsiapa sudah mandi, cukuplah ia membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya.
Kamu pun sudah bersih, hanya tidak semua!" Yesus tahu siapa yang akan menyerahkan Dia; karena itu Ia berkata, "Tidak semua kamu bersih." Sesudah membasuh kaki mereka, Yesus mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya.
Lalu Ia berkata kepada mereka, "Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.
Nah, jikalau Aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, maka kamu pun wajib saling membasuh kaki. Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepadamu, supaya kamu juga berbuat seperti yang telah Kuperbuat padamu."
Renungan Hari Ini: Guru yang Membasuh Kaki
Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. (Yoh. 13:13)
Saya mempunyai seorang guru yang selalu tiba paling pagi di sekolah. Suatu hari saya bertanya kepadanya, "Mengapa ibu selalu datang paling pagi ke sekolah?" Beliau tersenyum dan menjawab, "Supaya saya bisa memastikan kelas ini siap untuk kalian belajar." Saya baru menyadari sesuatu. Setiap pagi, beliau sudah lebih dulu menyapu kelas, merapikan kursi, bahkan menghapus papan tulis yang belum sempat dibersihkan hari sebelumnya. Beliau tidak pernah meminta murid melakukannya. Ia melakukannya diam-diam. Di mata dunia, guru adalah orang yang dihormati. Bagi saya, guru adalah orang yang mengajar, memberi tugas, dan memberi nilai. Kini saya melihat sesuatu yang berbeda seiring perkembangan iman saya, di mata dan hati saya beliau adalah seorang guru yang melayani.
Peristiwa kecil itu mengingatkan saya pada perkataan Yesus dalam Yohanes 13:13: "Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan." Yesus adalah Guru dan Tuhan. Namun, pada bagian sebelumnya dalam perikop ini, Ia justru melakukan sesuatu yang mengejutkan: Ia membasuh kaki murid-murid-Nya. Pada zaman itu, membasuh kaki adalah pekerjaan seorang hamba. Tuhan adalah pribadi yang diagungkan. Tetapi Yesus menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam Kerajaan Allah tidak dimulai dari posisi yang tinggi, melainkan dari kerendahan hati untuk melayani. Yesus tidak hanya mengajar dengan kata-kata. Ia mengajar dengan tindakan. Sering kali kita ingin dihargai sebelum melayani. Kita ingin diakui sebelum memberi. Namun, Yesus memperlihatkan jalan yang berbeda: menjadi besar dengan cara merendahkan diri, dan memimpin dengan cara melayani.
Hari ini kita mungkin juga menyebut Yesus sebagai Guru dan Tuhan. Tetapi pertanyaannya bukan hanya apa yang kita katakan, melainkan bagaimana kita hidup. Apakah orang lain melihat ajaran Yesus melalui sikap kita? Apakah dalam keluarga, pekerjaan, atau komunitas, kita bersedia melakukan hal-hal kecil yang melayani orang lain? Mungkin justru di situlah kita perlu benar-benar belajar dari Sang Guru.
Sumber: Buku Renungan Tiga Titik
Oleh Maria Theresia Widyastuti
Doa Penutup
Tuhan, terima kasih atas hikmat-Mu, sehingga kami bisa melihat betapa Putera-Mu adalah Guru dan Tuhan sejati yang melayani dengan kerendahan hati dan memimpin dengan contoh. Mampukan kami untuk terus dapat belajar dari Yesus dan meneladaninya seumur hidup kami. Terima kasih Tuhan, kami mencintai-Mu. Amin
Demikian bacaan dan renungan Kamis, 2 April 2026. Selamat Menyambut Tri Hari Suci detikers!
(alk/alk)













































