Warna Liturgi Jumat Agung Lengkap dengan Makna dan Renungannya

Warna Liturgi Jumat Agung Lengkap dengan Makna dan Renungannya

Andi Sitti Nurfaisah - detikSulsel
Minggu, 29 Mar 2026 21:15 WIB
Umat Katolik merayakan Jumat Agung dalam suasana wabah COVID-19 melanda Indonesia. Begini potret misa Jumat Agung di sejumlah gereja di Indonesia.
Foto: Ilustrasi peringatan Jumat Agung. (Antara Foto)
Makassar -

Jumat Agung merupakan salah satu hari penting dalam kalender liturgi Kristen yang diperingati untuk mengenang wafatnya Yesus Kristus melalui penyaliban. Hari ini menjadi waktu refleksi bagi kristiani untuk mengenang pengorbanan dan kasih yang ditunjukkan Yesus kepada umat-Nya.

Pada tahun ini, Jumat Agung jatuh pada 3 April 2026. Setiap perayaan keagamaan dalam tradisi Kristen memiliki warna liturginya tersendiri, termasuk Jumat Agung.

Setiap warna yang digunakan memiliki arti yang mencerminkan makna perayaan yang sedang dijalani. Dengan memahami soal warna liturgi Jumat Agung, umat Kristen dapat lebih menghayati makna peringatan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, apa warna liturgi Jumat Agung?

Untuk mengetahuinya, simak penjelasan selengkapnya di bawah ini!

ADVERTISEMENT

Warna Liturgi Jumat Agung

Dilansir dari laman Paroki St Arnoldus Janssen Waikomo, warna liturgi Jumat Agung adalah warna merah. Sebagai warna api dan darah, merah melambangkan kasih, kebijakan, dan pengorbanan.

Dalam liturgi gereja, warna merah tidak hanya digunakan pada Jumat Agung saja. Warna ini juga digunakan saat Minggu Palma, Hari Pentakosta, perayaan Darah Suci, hari-hari perayaan para rasul dan santo martir, serta perayaan yang berkaitan dengan relikui suci.

Selain itu, warna merah juga digunakan pula selama perayaan Injil dan Peninggian Salib Suci. Warna ini juga dapat digunakan untuk misa sakramen konfirmasi, selama hari tersebut tidak bertepatan dengan hari perayaan liturgi lainnya.

Menukil laman Paroki Katedral Jakarta, warna liturgi digunakan oleh para imam, petugas lektor, putra altar atau putri sakristi, serta untuk altar gereja. Umat Kristen sendiri tidak ada diwajibkan mengenakan warna yang sama, kecuali saat bertugas atau pada momen tertentu.

Dalam tradisi gereja, setiap warna liturgi melambangkan sifat dasar misteri iman yang sedang dirayakan. Warna tersebut juga menegaskan perjalanan hidup umat Kristen sepanjang tahun liturgi.

Makna Jumat Agung

Merangkum penjelasan dalam laman Iman Katolik, Jumat Agung adalah Jumat sebelum Paskah, di mana umat Kristen memperingati penyaliban, kematian, dan penguburan Yesus Kristus. Hari ini menjadi momen refleksi atas penderitaan dan pengorbanan Yesus bagi keselamatan manusia.

Jumat Agung disebut sebagai salah satu hari terpenting dalam kalender umat Kristen. Hari ini dianggap sebagai puncak pelayanan Yesus di dunia, sehingga diberi sebutan "Agung" pada hari perayaannya.

Dalam Alkitab, kisah penyaliban Yesus diterangkan dalam keempat Injil, yang didahului oleh serangkaian peristiwa penting. Mulai dari perjamuan Kudus, pengkhianatan Yudas Iskariot, Yesus berdoa di taman Getsemani, penangkapan Yesus, hingga pengadilan oleh Mahkamah Agama, Pontius Pilatus, dan Herodes tercatat sebelum peristiwa salib dan kebangkitan-Nya.

Disadur dari laman Gereja Kalvari Lubang Buaya, Jumat Agung menjadi momentum bagi setiap umat Kristen untuk mengenang wafatnya Yesus Kristus di atas kayu salib di puncak Kalvari. Pada hari itu, Yesus mengorbankan diri-Nya untuk menanggung penderitaan demi menebus dosa para umat-Nya.

Jumat Agung juga dimaknai sebagai wujud cinta terbesar Yesus kepada seluruh umat manusia. Meski harus melalui jalan yang penuh sengsara, Dia tetap teguh menyerahkan diri tanpa kebencian demi keselamatan umat-Nya.

Renungan Jumat Agung 2026

Dilansir dari laman Pena Katolik, berikut adalah renungan Jumat Agung 2026:

Cinta yang Tuntas di Atas Salib

Membaca kisah sengsara menurut penginjil Yohanes membawa kita pada sebuah kontras yang tajam: di satu sisi ada kehinaan dan penderitaan yang luar biasa, namun di sisi lain terpancar kemuliaan dan kedaulatan seorang Raja. Berbeda dengan penginjil lainnya, Yohanes menampilkan Yesus bukan sebagai korban yang malang, melainkan sebagai Pribadi yang memegang kendali penuh atas nasib-Nya karena ketaatan-Nya kepada Bapa.

Dalam perikop ini, kita melihat Yesus yang melangkah maju di Taman Getsemani. Ketika pasukan datang menjemput-Nya, Ia tidak bersembunyi. Sebaliknya, Ia bertanya, "Siapakah yang kamu cari?" Jawaban-Nya, "Akulah Dia," bukan sekadar pengakuan identitas, melainkan gema dari nama ilahi Allah. Kekuatan kalimat ini begitu besar hingga membuat para prajurit rebah ke tanah. Di sini kita belajar bahwa Yesus menyerahkan diri-Nya secara sukarela. Ia tidak ditangkap karena kalah, tetapi Ia menyerah karena cinta-Nya kepada kita telah sampai pada puncaknya.

Drama penyaliban kemudian berlanjut melalui pengadilan Pilatus. Di hadapan kekuasaan dunia, Yesus tetap teguh pada kebenaran. Puncak dari narasi ini adalah kata-kata terakhir-Nya di atas salib: "Sudah selesai" (Tetelestai). Dalam bahasa aslinya, kata ini bukan berarti "Aku sudah habis" atau "Aku menyerah," melainkan "Tugas ini telah terlaksana dengan sempurna." Hutang dosa manusia telah lunas dibayar, dan jembatan antara Allah dan manusia telah dibangun kembali melalui darah-Nya.

Penderitaan Yesus dalam Injil Yohanes mengajarkan kita bahwa penderitaan yang disatukan dengan kasih Allah tidak akan pernah sia-sia. Salib, yang bagi dunia adalah simbol kegagalan dan kutukan, di tangan Yesus berubah menjadi takhta kemenangan.

Hari ini, kita diundang untuk memandang salib bukan dengan rasa kasihan yang dangkal, melainkan dengan rasa syukur yang mendalam. Di sana, kita melihat sejauh mana Allah bersedia melangkah demi mendapatkan kembali hati kita. Ketika kita menghadapi "salib" pribadi dalam hidup kita-entah itu kegagalan, sakit penyakit, atau pengkhianatan-ingatlah bahwa Yesus telah melewati jalan itu terlebih dahulu. Ia tidak meninggalkan kita, tetapi Ia memampukan kita untuk menyelesaikan tugas perutusan kita masing-masing hingga kita pun dapat berkata bersama-Nya, "Semuanya sudah selesai menurut kehendak-Mu."

Doa Penutup

Tuhan Yesus Kristus, kami bersujud di kaki salib-Mu dengan hati yang penuh syukur dan penyesalan. Terima kasih atas cinta-Mu yang tuntas, yang tidak berhenti pada kata-kata, melainkan dibuktikan melalui darah yang tercurah dan nyawa yang diserahkan. Ampunilah kami yang sering kali mengkhianati kasih-Mu demi kenyamanan sesaat. Tuhan, berikanlah kami keberanian seperti Engkau untuk tetap berdiri teguh dalam kebenaran meski dunia menghakimi. Biarlah pengorbanan-Mu menjadi kekuatan bagi kami saat kami memikul salib harian kami. Semoga melalui penderitaan-Mu, kami layak menerima janji kebangkitan dan hidup kekal bersama-Mu di rumah Bapa. Amin.

Demikianlah penjelasan mengenai warna liturgi Jumat Agung beserta makna perayaan dan renungannya. Semoga bermanfaat!



(alk/urw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads