Umat Islam yang memiliki utang puasa Ramadhan wajib untuk menunaikan puasa qadha sebelum bulan Ramadhan selanjutnya tiba. Sebelum melaksanakannya, penting untuk memahami dan melafalkan niat puasa pengganti Ramadhan tersebut secara benar.
Melansir dari buku Tata Cara dan Tuntunan Segala Jenis Puasa karya Nur Solikhin, kewajiban mengganti utang puasa Ramadhan didasarkan pada firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah sebagai berikut:
فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Artinya: "...Maka, siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan, lalu ia berbuka, maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain..." (QS al-Baqarah [2]:184).
Untuk itu, berikut detikSulsel sajikan bacaan niat puasa qadha Ramadhan lengkap Arab, Latin, dan artinya. Yuk simak bacaan lengkapnya di bawah ini!
Niat Puasa Qadha Ramadhan
Dilansir dari buku Tata Cara dan Tuntunan Segala Jenis Puasa karya Nur Solikhin, berikut bacaan niat puasa qadha Ramadhan Arab, Latin, serta artinya:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى
Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin 'an qadhaai fardhi ramadhaana lillahi ta'aalaa.
Artinya: "Aku niat puasa esok hari sebagai ganti fardhu Ramadhan karena Allah Ta'ala."
Bolehkah Puasa Qadha Digabung dengan Puasa Senin Kamis?
Mengutip detikHikmah, dalam buku Ensiklopedia Islam (Akidah, Ibadah, Muamalah, Tematik) oleh Dr. Makmur Dongoran dijelaskan bahwa terdapat perbedaan pendapat mengenai boleh atau tidaknya puasa qadha digabung dengan puasa Senin-Kamis. Hal ini dikarenakan tidak ditemukannya dalil dari Al-Qur'an maupun hadits yang menjelaskan hukum menggabungkan niat puasa qadha dengan puasa Senin Kamis.
Pandangan Pertama: Boleh Digabung
Sebagian ulama, seperti beberapa ulama mazhab Syafi'i dan Lembaga Fatwa Mesir, berpendapat bahwa penggabungan niat puasa qadha dengan puasa sunnah Senin-Kamis boleh dilakukan. Pendapat ini merujuk pada Imam as-Suyuthi dalam kitab Al-Asybah wa An-Nadzair yang menyebutkan bahwa,
"Jika seseorang mengqadha puasa, atau puasa nazar, atau kaffarah, lalu niat bersama puasa Arafah, maka puasanya sah dan mendapatkan dua pahala (pahala wajib dan sunnah)."
Sejalan dengan pendapat tersebut, Imam ar-Ramli as-Syafi'i dalam kitab Nihayatul Muhtaj menjelaskan bahwa seseorang tetap bisa meraih pahala puasa sunnah walaupun pelaksanaannya digabung dengan puasa qadha. Ketentuan ini berlaku pada berbagai ibadah sunnah, seperti puasa Senin-Kamis, Syawal maupun puasa Asyura.
Meskipun demikian, para ulama tersebut tetap menyarankan agar puasa wajib dan sunnah dilaksanakan secara terpisah apabila memungkinkan.
Pandangan Kedua: Tidak Boleh Digabung
Di sisi lain, beberapa ulama seperti Syaikh bin Baz, Syaikh Dr. Abdurrahman Ali Al-Askar, dan Syaikh Dr. Muhammad bin Hassan mempunyai pandangan yang berbeda. Menurut mereka, puasa qadha Ramadhan wajib diniatkan secara khusus dan tidak diperbolehkan untuk disatukan dengan pelaksanaan puasa sunnah.
Apabila seseorang mencampurkan niat puasa qadha dengan puasa sunnah, maka secara hukum hanya ibadah qadhanya saja yang dinyatakan sah, sementara puasa sunnahnya dianggap tidak terhitung. Pendapat tersebut berdasarkan pada kaidah fikih yang menyatakan bahwa, "Niat yang digabungkan, yang lebih besar akan mengalahkan yang lebih kecil."
Apa Boleh Puasa Qadha Digabung dengan Puasa Arafah?
Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilaksanakan sehari sebelum Lebaran Idul Adha atau 9 Dzulhijjah. Banyak orang mempertanyakan hukum menggabungkan niatnya dengan puasa qadha Ramadhan karena ingin meraih keutamaan puasa Arafah sekaligus menuntaskan kewajiban hutang puasa yang masih tersisa.
Melansir laman Nahdlatul Ulama (NU), Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) Ustadz Alhafiz Kurniawan menjelaskan bahwa puasa Arafah boleh digabung dengan puasa qadha. Bagi umat Islam yang menjalankan kedua ibadah tersebut secara bersamaan, puasa qadhanya tetap dinyatakan sah sekaligus berhak memperoleh keutamaan dari puasa Arafah.
Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Zakariya Al-Anshari berikut ini:
قَوْلُهُ وَصَوْمُ عَاشُورَاءَ) أَفْتَى الْبَارِزِيُّ بِأَنَّ مَنْ صَامَ عَاشُورَاءَ مَثَلًا عَنْ قَضَاءٍ أَوْ نَذْرٍ حَصَلَ لَهُ ثَوَابُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ وَوَافَقَهُ الْأَصْفُونِيُّ وَالْفَقِيهُ عَبْدُ اللَّهِ النَّاشِرِيُّ وَالْفَقِيهُ عَلِيُّ بْنُ إبْرَاهِيمَ بْنِ صَالِحٍ الْحَضْرَمِيُّ وَهُوَ الْمُعْتَمَدُ (قَوْلُهُ صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ اُحْتُسِبَ عَلَى اللَّهِ إلَخْ) الْحِكْمَةُ فِي كَوْنِ صَوْمِ عَرَفَةَ بِسَنَتَيْنِ وَعَاشُورَاءَ بِسَنَةٍ أَنَّ عَرَفَةَ يَوْمٌ مُحَمَّدِيٌّ يَعْنِي أَنَّ صَوْمَهُ مُخْتَصٌّ بِأُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَاشُورَاءَ يَوْمٌ مُوسَوِيٌّ
Artinya: "(Puasa Asyura). Al-Barizi berfatwa bahwa orang yang berpuasa pada hari Asyura misalnya untuk qadha atau nazar puasa, maka ia juga mendapat pahala puasa sunnah hari Asyura. Pandangan ini disepakati oleh Al-Ushfuwani, Al-Faqih Abdullah An-Nasyiri, Al-Faqih Ali bin Ibrahim bin Shalih Al-Hadhrami. Ini pandangan yang muktamad. (Puasa hari Asyura dihitung oleh Allah) Hikmah di balik ganjaran penghapusan dosa dua tahun untuk puasa sunnah Arafah dan penghapusan dosa setahun untuk puasa Asyura adalah karena Arafah adalah harinya umat Nabi Muhammad SAW, yakni puasa sunnah Arafah bersifat khusus untuk umat Nabi Muhammad SAW. Sementara Asyura adalah harinya umat Nabi Musa AS," (Lihat Syekh Zakariya Al-Anshari, Asnal Mathalib, juz V, halaman 388).
Sejalan dengan pendapat tersebut, Sayyid Bakri dalam Kitab I'anatut Thalibin menjelaskan bahwa seseorang yang melaksanakan puasa pada hari-hari yang dianjurkan tetap akan mendapatkan keutamaan ibadah sunnah di waktu tersebut meskipun niat utamanya adalah untuk puasa qadha atau nazar.
وفي الكردي ما نصه في الأسنى ونحوه الخطيب الشربيني والجمال و الرملي الصوم في الأيام المتأكد صومها منصرف إليها بل لو نوى به غيرها حصلت إلخ زاد في الإيعاب ومن ثم أفتى البارزي بأنه لو صام فيه قضاء أو نحوه حصلا نواه معه أو لا
Artinya: "Di dalam Al-Kurdi terdapat nash yang tertulis pada Asnal Mathalib dan sejenisnya yaitu Al-Khatib As-Syarbini, Syekh Sulaiman Al-Jamal, Syekh Ar-Ramli bahwa puasa sunnah pada hari-hari yang sangat dianjurkan untuk puasa memang dimaksudkan untuk hari-hari tersebut. Tetapi orang yang berpuasa dengan niat lain pada hari-hari tersebut, maka dapatlah baginya keutamaan... Ia menambahkan dalam Kitab Al-I'ab. Dari sana, Al-Barizi berfatwa bahwa seandainya seseorang berpuasa pada hari tersebut dengan niat qadha atau sejenisnya, maka dapatlah keduanya, baik ia meniatkan keduanya atau tidak," (Lihat Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I'anatut Thalibin, [Kota Baharu-Penang-Singapura, Sulaiman Mar'i: tanpa catatan tahun], juz II, halaman 224).
Kendati demikian, umat Islam dianjurkan untuk memprioritaskan penyelesaian utang puasa Ramadhan terlebih dahulu sebelum mengamalkan ibadah puasa Arafah. Namun, apabila kewajiban qadha tersebut baru teringat saat mendekati hari Arafah, maka sebaiknya pembayaran qadha dilakukan tepat pada hari tersebut.
Nah, demikianlah penjelasan terkait niat puasa qadha Ramadhan Arab, Latin, dan artinya. Semoga bermanfaat ya, detikers!
(urw/urw)











































