Renungan Harian Katolik Senin 9 Maret 2026: Membuka Hati & Percaya pada Allah

Renungan Harian Katolik Senin 9 Maret 2026: Membuka Hati & Percaya pada Allah

Osmawanti Panggalo - detikSulsel
Senin, 09 Mar 2026 07:30 WIB
Renungan harian Katolik Senin, 8 Maret 2026
Ilustrasu (Foto: jcomp/Freepik)
Makassar -

Renungan harian Katolik Senin 9 Maret 2026 mengajak umat untuk semakin membuka hati terhadap karya Tuhan dalam kehidupan. Melalui Sabda-Nya, umat diajak untuk belajar percaya sepenuhnya kepada Allah, bahkan di tengah berbagai pergumulan hidup.

Renungan hari ini mengingatkan bahwa sikap percaya kepada Allah merupakan kunci untuk menjalani hidup dengan penuh harapan. Dengan membuka hati dan menyerahkan diri kepada kehendak-Nya, umat dapat merasakan penyertaan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan.

Renungan hari ini mengangkat tema "Membuka Hati dan Percaya Kepada Allah" dikutip dari buku Renungan Tiga Titik yang ditulis oleh Theresia M M Inaesih. Nah, secara lengkap artikel ini menyajikan:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

  1. Bacaan dan renungan Katolik Senin, 9 Maret 2026 berdasarkan kalender liturgi;
  2. Teks mazmur tanggapan;
  3. Teks doa penutup;

Yuk, simak selengkapnya!

Renungan Harian Katolik Hari Ini 9 Maret 2026

Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:

ADVERTISEMENT

Bacaan I: 2 Raj 5:1-15a

Naaman, panglima raja Aram, adalah seorang terpandang di hadapan tuannya dan sangat disayangi, sebab oleh dia TUHAN telah memberikan kemenangan kepada orang Aram. Tetapi orang itu, seorang pahlawan tentara, sakit kusta.

Orang Aram pernah keluar bergerombolan dan membawa tertawan seorang anak perempuan dari negeri Israel. Ia menjadi pelayan pada isteri Naaman.

Berkatalah gadis itu kepada nyonyanya: "Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya."

Lalu pergilah Naaman memberitahukan kepada tuannya, katanya: "Begini-beginilah dikatakan oleh gadis yang dari negeri Israel itu."

Maka jawab raja Aram: "Baik, pergilah dan aku akan mengirim surat kepada raja Israel." Lalu pergilah Naaman dan membawa sebagai persembahan sepuluh talenta perak dan enam ribu syikal emas dan sepuluh potong pakaian.

Ia menyampaikan surat itu kepada raja Israel, yang berbunyi: "Sesampainya surat ini kepadamu, maklumlah kiranya, bahwa aku menyuruh kepadamu Naaman, pegawaiku, supaya engkau menyembuhkan dia dari penyakit kustanya."

Segera sesudah raja Israel membaca surat itu, dikoyakkannyalah pakaiannya serta berkata: "Allahkah aku ini yang dapat mematikan dan menghidupkan, sehingga orang ini mengirim pesan kepadaku, supaya kusembuhkan seorang dari penyakit kustanya? Tetapi sesungguhnya, perhatikanlah dan lihatlah, ia mencari gara-gara terhadap aku."

Segera sesudah didengar Elisa, abdi Allah itu, bahwa raja Israel mengoyakkan pakaiannya, dikirimnyalah pesan kepada raja, bunyinya: "Mengapa engkau mengoyakkan pakaianmu? Biarlah ia datang kepadaku, supaya ia tahu bahwa ada seorang nabi di Israel."

Kemudian datanglah Naaman dengan kudanya dan keretanya, lalu berhenti di depan pintu rumah Elisa.

Elisa menyuruh seorang suruhan kepadanya mengatakan: "Pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir."

Tetapi pergilah Naaman dengan gusar sambil berkata: "Aku sangka bahwa setidak-tidaknya ia datang ke luar dan berdiri memanggil nama TUHAN, Allahnya, lalu menggerak-gerakkan tangannya di atas tempat penyakit itu dan dengan demikian menyembuhkan penyakit kustaku!

Bukankah Abana dan Parpar, sungai-sungai Damsyik, lebih baik dari segala sungai di Israel? Bukankah aku dapat mandi di sana dan menjadi tahir?" Kemudian berpalinglah ia dan pergi dengan panas hati.

Tetapi pegawai-pegawainya datang mendekat serta berkata kepadanya: "Bapak, seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah bapak akan melakukannya? Apalagi sekarang, ia hanya berkata kepadamu: Mandilah dan engkau akan menjadi tahir."

Maka turunlah ia membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan, sesuai dengan perkataan abdi Allah itu. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir.

Kemudian kembalilah ia dengan seluruh pasukannya kepada abdi Allah itu. Setelah sampai, tampillah ia ke depan Elisa dan berkata: "Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena itu terimalah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini!"

Mazmur Tanggapan: Mzm 42:2,3

Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?

Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: "Di mana Allahmu?"

Bacaan Injil: Luk 4:24-30

Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.

Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.

Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon.

Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorangpun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu."

Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu.

Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.

Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.

Renungan Hari Ini: Membuka Hati dan Percaya kepada Allah

Kata-Nya lagi,"Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Tidak ada nabi yang diterima di kampung halamannya." (Luk.4:24)

Dalam Injil Lukas hari ini dikisahkan bagaimana Yesus tidak dihargai di tempat asal-Nya, yaitu Nazaret. Awalnya orang Nazaret kagum mendengar pengajaran Yesus di rumah ibadat, namun ketika mereka menyadari bahwa Yesus adalah anak Yusuf, tukang kayu, mereka langsung meragukan dan mencibir Yesus.

Mereka menutup hati dan tidak percaya; Yesus yang mereka rasa kenal itu kok mampu mengajar dengan perkataan penuh rahmat? Mereka bukan saja tidak percaya, tapi juga marah, bahkan ingin membunuh Yesus ketika Ia mengingatkan ketidakpercayaan nenek moyang mereka di zaman Nabi Elia dan Nabi Elisa.

Pada saat itu mukjizat terjadi kepada seorang janda di Sarfat dan seorang panglima, Na'aman. Keduanya adalah orang non-Yahudi, yang mau membuka hati dan percaya, sehingga mukjizat terjadi. Menolak Yesus, seperti orang Nazaret tersebut, berakibat hilanglah kesempatan Roh Allah berkarya.

Belajar dari perikop ini, keterbukaan hati akan menimbulkan iman dan percaya yang mendatangkan rahmat Tuhan. Selain itu, kita dapat melihat dan mendengar lebih jernih; sehingga mampu menghargai orang lain, mudah mengucap syukur, dan menghalau amarah yang biasanya akan membawa kita semakin jauh dari ajaran dan kasih Tuhan.

Seorang teman pernah memiliki pengalaman merasa terasing dari keluarganya. Hal ini terjadi karena ia melakukan kesalahan yang membuat seluruh keluarganya malu.

Saat ia sungguh-sungguh menyadari kesalahannya dan berubah, keluarganya tidaklah mudah untuk langsung memercayai dan menerimanya. Hanya dengan pertolongan rahmat Tuhan dan keterbukaan hati, teman saya dapat melalui semua proses itu dengan sabar.

Ia bahkan bisa bersyukur telah diberi kesempatan untuk hidup baru. Di kemudian hari, pihak keluarganya juga diberi rahmat mau mengampuni dengan tulus dan kasih, sehingga damai sejahtera sebagai keluarga utuh kembali.

Mari kita belajar terbuka dan menerima Yesus dalam hati kita, agar rahmat-Nya yang ajaib menjadikan kita semakin percaya akan karya penyelenggaraan-Nya yang memberi keselamatan untuk semua orang yang percaya!

Doa Penutup

Bapa di dalam surga, penuhi kami dengan rahmat-Mu agar kami dimampukan untuk memiliki keterbukaan hati dan percaya, sehingga rahmat-Mu boleh bekerja melalui kami untuk semakin peduli dan belajar menghargai sesama, penuh pengampunan dan tidak mudah menghakimi. Doa ini kami panjatkan dengan perantaraan Yesus, Tuhan dan Juru Selamat kami, Amin.


Demikian renungan harian Katolik Senin 9 Maret 2026. Tuhan memberkati kita!




(alk/alk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads