Umat Islam telah memasuki paruh kedua bulan Ramadhan 2026, yang menandakan semakin dekatnya Hari Raya Idul Fitri. Menjelang Idul Fitri, para khatib biasanya mulai mempersiapkan materi khutbah yang akan disampaikan kepada jamaah saat pelaksanaan sholat Ied.
Materi khutbah Idul Fitri umumnya berisi refleksi tentang makna Ramadhan, pentingnya menjaga ketakwaan, serta ajakan untuk kembali kepada fitrah sebagai manusia yang bersih dari dosa. Karena itu, khatib perlu menyiapkan teks khutbah dengan baik agar pesan dakwah dapat disampaikan secara jelas, runtut, dan mudah dipahami oleh jamaah.
Nah, untuk itu detikSulsel menyediakan teks khutbah Idul Fitri 2026 yang berjudul "Kembali Pada Fitrah" yang dapat dijadikan referensi bagi para khatib. Teks disusun dengan bahasa yang sederhana namun sarat makna, sehingga cocok disampaikan pada momentum Idul Fitri yang penuh kehangatan dan kebersamaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Teks khutbah Idul Fitri ini juga tersedia dalam format PDF yang dapat diunduh secara gratis. Yuk simak selengkapnya di bawah ini!
Teks Khutbah Idul Fitri: Kembali Pada Fitrah
Khutbah I
الله اكبر ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا . لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَ لا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينِ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُونَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبَدَهُ وَأَعَزَّ جَنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لا إلهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الحَمدُ.
الحَمدُ لِلَّهِ الذِي أَمَرَنَا أَنْ يُقِيمُ الاجْتِمَاعِ وَالْعَفْوِ بَيْنَ الْعِبَادِ وَنَهَا نَا عَنِ التَّفَرَقِ وَالتَّبَاعْضِ وَالابْتِحَادِ أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ اللَّهِ أَعَادَ الأَعْيَادِ وَاتَّخَرَهَا بِكُلِّ عَمَلٍ فِي يَوْمِ الْمَعَادِ وَأَطَالَ
الرِّجَالَ إِلَيْهَا لِيَنَالَ بِفَضْلِهَا أَنجَزَاءِ الْمُوْبَدِ اشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الفرد الصمد . وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولَهُ الْحَائِنُ الشَّرَفُ فَوْقَ الْعِبَادِ صَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدَ الَّذِي أَرْشَدَنَا إِلَى سَبِيلِ الرَّشَادِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِينَ كَانُوا يَعْتَصِمُونَ بِشَرِيعَتِهِ حَقَّ الْإِعْتِمَادِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا إلى يوم المعاد.
امَّا بَعْدُ : فَيَا مَعَاشِرَ الْحَاضِرُونَ رَحِمَكُمُ اللهُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُمُ مُسْلِمُونَ ،وَاعْلَمُوا أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ وَعِيدٌ مُبَارَكٌ سَعِيدُ كَرِيمٌ أُحِلَّ لَكُمْ فِيهِ الطَّعَامَ وَحُرِّمَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامِ .
Hadirin jemaah Idul Fitri rahimakumullah,
Di hari kemenangan yang penuh suka cita ini, marilah kita menundukkan kepala dan meneguhkan hati untuk mengagungkan Allah SWT. Dzat Yang Maha Kuasa atas segala-segalanya. Penguasa alam semesta dan segala isinya. Seraya membaca takbir, tahlil, dan tahmid sebagai bentuk pengakuan dan kepasrahan diri kepadaNya, serta wujud syukur kita atas segala kenikmatan dan anugerahNya, salah satunya adalah, Allah SWT. masih memberikan kesempatan kepada kita untuk melaksanakan ibadah puasa selama bulan suci Ramadhan hingga selesai, di mana tujuan utama ibadah tersebut adalah agar kita kembali fitrah (suci), menjadi manusia yang bertaqwa yang insyaallah hari ini kita raih bersama. Dan gelar muttaqin yang kita peroleh dengan susah payah ini harus kita jaga dengan baik kapanpun dan dimanapun hingga ajal menjemput.
Hadirin jemaah Idul Fitri rahimakumullah,
Setelah sebulan penuh lamanya kita berpuasa, kini, dengan rahmat Allah SWT, kita berkumpul di sini dalam keadaan gembira bercampur sedih. Kita bergembira karena telah lulus dari ujian yang sangat berat, yaitu mengendalikan nafsu sebulan penuh lamanya. Kegembiraan ini dirasakan khusus bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa. Tetapi kita juga bersedih karena telah ditinggalkan oleh bulan yang penuh dengan rahmat dan ampunan, sedang umur kita belum tentu akan bertemu kembali dengan bulan mulia ini.
Bulan Ramadhan telah kita lalui, ibadah puasa telah kita jalani. Kini, pada hari ini, kita dan kaum muslimin di seluruh dunia beridul fitri. Ada ucapan yang sangat populer dikalangan kaum muslimin yang sedang merayakan Idul Fitri, yaitu: minal aidin wal faizin yang bila diterjemahkan secara harfiah, ucapan itu berarti: (semoga kita) termasuk ke dalam golongan orang-orang yang kembali dan orang-orang yang beruntung. Sebuah ucapan yang mengandung doa yang diperuntukkan bagi orang-orang yang baru saja selesai melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan.
Minal Aidin berarti (semoga kita) termasuk ke dalam golongan orang-orang yang kembali. Kata 'kembali' memberikan kesan bahwa selama ini kita berada jauh dari agama; selama ini langkah hidup kita keliru dan salah arah sehingga perlu diluruskan dengan kembali kepada keadaan semula, Idul fitri yakni kembali kepada fitrah.
Fitrah berarti kesucian, asal kejadian, atau agama yang benar. Bila fitrah dipahami dalam arti kesucian maka dengan ucapan minal-aidin, kita berdoa kepada Allah semoga. Setelah sebulan penuh lamanya berpuasa, kita bersama kembali menjadi manusia yang suci bersih dari segala dosa dan noda. Bila fitrah dipahami dalam arti asal kejadian maka ucapan minal-aidin berarti semoga, setelah sebulan penuh lamanya berpuasa, kita semua kembali menyadari jati diri kita sebagai makhluk dua dimensi, yaitu dimensi ruhaniah dan dimensi lahiriah, menjadi manusia yang utuh sehingga tidak terjadi pemisahan antara yang ideal dan yang aktual, ilmu dan amal, akidah dan syariah, moral dan perilaku semuanya saling melengkapi, kebutuhan jasmaniah tidak mengalahkan kebutuhan ruhaniah, dan dunia tidak mengalahkan akhirat. Dan bila fitrah dipahami sebagai agama yang benar, doa itu berarti semoga, setelah sebulan penuh lamanya berpuasa, kita kembali dapat melaksanakan ajaran-ajaran agama sesuai dengan tuntunan Allah dan RasulNya.
Adapun wal-faizin artinya: Dan (semoga kita) termasuk ke dalam orang-orang yang beruntung. Keberuntungan dalam bahasa al-Qur'an berarti ketaatan kita dalam menjalankan perintah Allah dan RasulNya, pengampunan atas segala dosa yang telah kita perbuat, dan surga yang dijanjikan. Jadi dengan ucapan wal-faizin kita berdoa semoga kita semua, setelah menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan, menjadi semakin taat dalam beribadah dan mendapat ampunan dari Allah sehingga di akhirat kelak kita mendapatkan surgaNya.
Orang-orang yang beruntung adalah mereka yang pasca Ramadhan menemukan kembali kesadaran dirinya, yaitu fitrah yang dengan fitrah itu manusia cenderung kepada kebenaran. Dan orang-orang yang merugi adalah mereka yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga karena mereka masih tetap berada jauh dari kesadaran dirinya, jauh dari Tuhannya, jauh dari agamanya, dan tetap jauh dari jalan kebenaran.
Allahu Akbar 3 X. Allah Maha Besar 3X
Hadirin jemaah Idul fitri yang berbahagia,
Manusia mempunyai dua jenis kesadaran fitri, yaitu kesadaran ilahiah dan kesadaran insaniah. Kesadaran ilahiah adalah kesadaran akan diri seseorang dalam kaitannya dengan Yang Maha Ada, Allah SWT. Dengan kesadaran ilahiyah, manusia senantiasa berada dalam orbit kerinduannya untuk semakin dekat secara vertikal kepada Allah SWT. Adapun kesadaran insaniah adalah kesadaran akan diri seseorang dalam kaitannya dengan seluruh umat manusia. Dengan kesadaran insaniah, semua manusia mempunyai rasa kemanusiaan yang sama yang membentuk kesatuan faktual dengan satu nurani insani bersama yang membuat manusia merindukan kedekatan hubungan secara horizontal dengan sesamanya. Kedua kesadaran tersebut merupakan potensi dasar manusia yang dibawa sejak manusia masih hidup di alam ruh, bersifat primordial dan laten.
Syaikhul Islam Prof. Dr. Muhammad Tahir Ul Qadri mengatakan, "Kesadaran potensial akan keberadaan Allah adalah fenomena universal. Setiap masyarakat manusia, dalam satu bentuk atau yang lain, telah mengemukakan gagasan tentang keilahian. Bahkan dalam masyarakat un-islami dan atheistik sekalipun, orang cenderung mengakui kehadiran dan relevansi dari kekuatan super-natural dan supra-rasional yang mereka tidak berdaya untuk menjelaskan dengan standar yang dapat diterima.
Jadi, manusia bukan dilahirkan terlebih dahulu kemudian kesadarannya datang menyusul pada tahap selanjutnya. Kedua kesadaran itu bersifat fitri yang sudah ada jauh sebelum manusia dilahirkan ke muka bumi. Allah SWT berfirman yang artinya:
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), Bukankah Aku ini Tuhanmu? "Mereka menjawab, betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (QS al-A'raf: 172)
Setelah manusia lahir ke alam dunia, kesadarannya seringkali terpenjara oleh dorongan-dorongan hawa nafsu dan berbagai rangsangan indrawi yang datang dari luar dirinya yang membuat manusia lupa akan perjanjian yang telah diucapkannya di hadapan Tuhannya, lupa akan amanat yang telah diterimanya sebagai khalifah atau wakil Tuhan di muka bumi.
Meskipun demikian, kesadaran tersebut tidak pernah hilang, ia tetap tersimpan di alam bawah sadar yang sewaktu-waktu muncul ke permukaan. Ketika seseorang hendak melakukan tindak kejahatan, kesadarannya seringkali muncul dan akan berusaha untuk mencegahnya, dan jika dia terpaksa melakukannya dia akan menyesal; penyesalan adalah sebagai pertanda bahwa dia telah kembali kepada kesadarannya. Para pemabuk, penjudi, perampok, pezina, dan koruptor pada saat-saat tertentu muncul kesadarannya untuk menghentikan semua perbuatan tersebut; namun, karena kuatnya dorongan hawa nafsu, kesadaran mereka sering kali terkalahkan dan akhirnya kembali tenggelam ke alam bawah sadar. Mereka pun kembali kumat lagi.
Dengan demikian, ketidaksadaran adalah suatu kondisi ketika seseorang melupakan Allah dan amanat yang telah diterimanya, melupakan agamanya, dan lupa akan jalan kebenaran yang harus ditempuhnya dikarenakan dirinya telah menjadi budak harta, budak pangkat dan jabatan, budak nafsu birahi, dan budak nafsu-nafsu lahiriah lainnya. Ketidaksadaran juga dapat terjadi karena jiwa terhalangi oleh pikiran-pikiran salah seperti prasangka buruk, fanatik kelompok, sudut pandang yang keliru, eksklusivisme, iri-dengki, dan lain-lain. Dalam kondisi seperti itu, jiwa menjadi lemah, tidak mampu melakukan rekoleksi atau pengingatan kembali akan alam yang lebih tinggi dan lebih indah disebabkan oleh keterlenaan hati pada dunia fenomenal.
Allahu Akbar 3x walillahilhamd,
Hadirin jemaah Idul Fitri yang berbahagia,
Yang dimaksud hati di sini bukanlah hati fisik, tetapi hati spiritual yang berperan sebagai penghubung antara fitrah atau ruh ilahiah dan dunia fenomenal, penentu segala perbuatan manusia. Jika hati mengonstrasikan perhatiannya pada pranata ilahiah, ia akan menentukan sikap yang diambilnya sesuai dengan pranata iahiah tersebut. Sebaliknya jika hati teramat asyik dengan rangsangan-rangsangan indrawi dari dunia fenomenal, syahwatnya akan menguasainya sehingga manusia menjadi budak dari hawa nafsu dan syahwatnya, sama seperti binatang-binatang lain yang berkeliaran di kota-kota dan di desa-desa.
Untuk menemukan kembali kesadaran diri, nafsu harus dikendalikan, hati perlu ditempa dengan iman dan diisi dengan ajaran-ajaran ilahiah yang terkandung di dalam al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAW yang dijelaskan oleh para ulama. Allah SWT berfirman yang artinya:
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS Al-Rum 30)
Menghadapkan diri pada agama Allah merupakan jalan praktis bagi hati untuk menemukan kembali kesadaran diri manusia, yang selama berpuasa di bulan Ramadhan, kita dilatih agar mampu menahan diri dari segala godaan hawa nafsu dengan berusaha meninggalkan segala perbuatan yang dilarang agama; hati kita diisi dengan iman dan ilmu ilahiah dengan memperbanyak ibadah, baik ibadah mahdhah yang bertujuan untuk meningkatkan hubungan batin dengan Allah maupun ibadah muamalah yang bertujuan untuk meningkatkan hubungan baik dengan sesama.
Selama berpuasa di bulan Ramadhan, kita dilatih agar mampu menahan diri dari segala godaan hawa nafsu dengan berusaha meninggalkan segala perbuatan yang dilarang agama; hati kita diisi dengan iman dan ilmu ilahiah dengan memperbanyak ibadah, baik ibadah mahdhah yang bertujuan untuk meningkatkan hubungan batin dengan Allah maupun ibadah muamalah yang bertujuan untuk meningkatkan hubungan baik dengan sesama.
Dengan berlalunya bulan Ramadhan, haruslah lahir pribadi-pribadi baru, yaitu pribadi-pribadi yang telah menemukan kembali kesadaran dirinya, yang mampu merekoleksi perjanjian yang telah diucapkannya di hadapan Allah pada saat masih berada di alam ruh dan yang mampu melaksanakan amanat yang telah diterimanya sebagai khalifah atau wakil Tuhan di muka bumi. Pribadi-pribadi tersebut adalah pribadi-pribadi muttaqin.
Pribadi-pribadi muttaqin adalah pribadi-pribadi yang karena kesadarannya senantiasa mendambakan kedekatan hubungan dengan Allah azza wa Jalla. Dan kedekatan hubungan dengan Allah hanya dapat dicapai apabila disertai pula dengan kesediaan untuk mendekati sesama manusia. Pribadi-pribadi muttaqin adalah para pecinta Allah; dan para pecinta Allah tidak akan pernah tinggal diam ketika melihat saudara-saudaranya berbalut duka karena kemiskinan, kebodohan, kekerasan, dan penyakit.
Mereka, baik secara sendiri-sendiri atau bersama-sama, terjun ke medan laga untuk membantu nasib orang lain yang hidup serba kekurangan. Pribadi-pribadi muttaqin adalah mereka yang enggan melakukan tindakan yang merugikan atau mencelakakan orang lain, karena mereka sadar bila mereka tidak suka mendapat perlakuan seperti itu, orang lain pun mempunyai perasaan yang sama. Duka orang lain adalah duka mereka juga. Dan akhirnya, pribadi-pribadi muttaqin adalah mereka yang mencintai orang lain sebagaimana mereka mencintai diri mereka sendiri, menyayangi dan menghargai orang lain sebagaimana mereka menyayangi dan menghargai diri mereka sendiri.
Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allah Maha Besar... Allah Maha Besar.. Allah Maha Besar...
Saudara-saudara kaum muslimin wal muslimat yang berbahagia.
Setelah sebulan penuh lamanya kita berpuasa di bulan Ramadhan, kini kita beridul fitri yang berarti kita kembali ke fitrah semula, suci bersih sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW yang artinya:
Orang yang berpuasa di bulan Ramadhan atas dasar iman dan mengharapkan keridhoan Allah SWT, maka dia dikembalikan menjadi suci bersih dari dosa dan kesalahan seperti bayi yang baru saja dilahirkan oleh ibunya.
Oleh karena itu, janganlah diri yang suci ini kembali dikotori dengan perbuatan-perbuatan dosa. Di hari yang fitri ini, hari ketika kita menemukan kembali kesadaran diri kita, genggamlah erat-erat kesadaran itu, dan jangan sampai lepas lagi. Marilah kita rayakan hari kemenangan ini, bukan dengan mengunjungi tempat-tempat maksiat, bukan berpesta pora bermabuk-mabukan; tetapi kita rayakan Idul Fitri ini dengan melakukan zikrullah, mengungkapkan dan mensyiarkan agama Ilahi, mengumandangkan kalimat takbir, tahmid dan tahlil, Yaitu pengakuan yang bulat dan mutlak akan kebesaran dan kekuasaan Ilahi. Juga kita rayakan Idul Fitri ini dengan meningkatkan ikatan persaudaran, saling cinta-mencintai, santun menyantuni, dan dengan memupuk rasa kesetiakawanan. Merapatkan tali silaturrahim dengan saling bersalaman, bermaaf-maafan, kunjung-mengunjungi baik antara keluarga dengan keluarga, tetangga dengan tetangga, sahabat-sahabat dan lain-lain.
Merayakan Idul Fitri berarti mengisinya dengan hal-hal yang baik dan positif, salah satunya adalah menjalin silaturahim dan mempereratnya kembali. Inilah saat yang tepat dan momen yang pas untuk itu, mengapa? Karena di hari-hari lain kita disibukkan oleh berbagai pekerjaan dan tuntutan hidup, sehingga waktu untuk silaturahim pun terasa kurang dan sempit, karena itu kita pun mungkin sulit melakukannya, tetapi di hari ini, tidak ada alasan sibuk dengan semua itu, karena semua orang tahu bahwa hari ini adalah hari libur bahkan mungkin untuk beberapa hari ke depan. Jadi yang paling relevan dalam kesempatan yang berbahagia ini adalah silaturahim.
Seseorang tidak lahir sendiri, tidak hidup sendiri. Dia diikat oleh lingkaran di mana dia tidak mungkin terlepas darinya, dengan sendiri, dia adalah lemah dan bukan apa-apa, tetapi dengan lingkaran tersebut, dia menjadi kuat dan memiliki eksistensi, lingkaran tersebut tiada lain adalah rahim (keluarga dan kerabat). Dari sini maka Islam memerintahkan silaturrahim menjalin hubungan rahim. Dan rahim yang mesti dijalin adalah kerabat dari bapak ibunya ke atas, dan kerabat dari anak-anaknya ke bawah, serta dari saudara-saudaranya ke samping, semua itu termasuk ke dalam rahim yang layak dan mesti dijalin.
Hadirin jemaah Idul fitri yang berbahagia,
Silaturahim sendiri paling tidak mempunyai dua keutamaan penting. Yang pertama: Ia melapangkan rizki dan memanjangkan umur. Hal ini disabdakan sendiri oleh Rasulullah:
Barangsiapa senang dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaknya bersilaturahmi. (HR Bukhari dan Muslim)
Silaturahim melapangkan rizki, yakni menjadi sebab (turunnya) rizki, karena dengannya hubungan kerabat menjadi lebih erat, dorongan membantu kepada yang membutuhkan dari mereka akan menguat pula, dan bagi yang membantu akan diberi ganti oleh Allah dengan yang lebih baik.
Dengan silaturahim terjadi saling mendoakan dengan kebaikan yang salah satunya adalah kelapangan rizki. Silaturahim memberi umur panjang. Ada yang berpendapat bahwa umur panjang di sini adalah nama baik yang dikenang setelah kematian. Dia dikenang sebab kebaikannya semasa hidup. Di mana salah satunya adalah silaturahim, lebih-lebih hal itu di kalangan keluarga dan kerabat. Yang lain berpendapat bahwa panjang umur di sini adalah panjang umur dalam arti sebenarnya, artinya Allah mentakdirkan panjang umur atas yang bersangkutan dengan sebab silaturahim, sama seperti Allah mentakdirkan surga dan neraka dengan sebab masing-masing, dan barangsiapa yang Allah mentakdirkan atasnya sesuatu niscaya hal itu akan dimudahkan baginya.
Bentuk aplikatif dari silaturahim adalah sesuai dengan situasi dan kondisi diri kita dengan situasi dan kondisi kerabat yang bersangkutan. Berbuat baik bisa dengan harta, bisa dengan tenaga dan bisa pula dengan kedudukan. Ini dilakukan kepada kerabat yang membutuhkan sesuai dengan apa yang dibutuhkannya. Apabila dia membutuhkan bantuan harta misalnya, sedangkan kita mampu membantunya, maka silaturahim kepadanya adalah dengan membantunya di bidang harta. Berbuat baik tidak harus saat kerabat sedang membutuhkan, dalam kondisi normal pun berbuat baik tetaplah baik, di manapun kebaikan itu ditanam, maka ia tidak akan terbuang sia-sia. Jika berbuat baik secara umum dianjurkan, maka lebih-lebih kepada kerabat, karena ia mengandung nilai ganda atau pahala ganda, yaitu nilai berbuat baiknya itu sendiri dan nilai silaturahim yang dikandungnya.
Begitulah seharusnya kita merayakan Idul Fitri. Janganlah hati yang telah kita bina selama ini kita rusak dengan perbuatan-perbuatan tercela. Semoga jiwa Ramadhan dan kesadaran fitri ini tetap di hati kita sepanjang tahun. Amin ya rabbal alamin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلْ مِنِّي وَمِنكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ . أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَ المُسلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُونَ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ .
Khutbah Kedua
الله اكبر - اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ .
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْأَعْيَادَ بِالْأَفْرَاحِ وَالسُّرُورِ وَضَاعَفَ لِلْمُتَّقِينَ جَزِيلَ الْأُجُورِ وَكَمَا الصِّيَافَةَ فِي يَوْمِ الْعِيدِ لِعُمُومِ الْمُؤْمِنِينَ بسعيهيمُ الْمَسْكُورِ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْعَفْوَ الْغَفُورُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الذِي نَالَ مِنْ رَبِّهِمَا لَمْ يَنلَهُ مُقَرَبٌ وَلَا رَسُولٌ مُطَرْ مَبْرُورُ اللمام صَلِّ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْأُمِّي وَعَلَى اللَّهِ وصحبه الذِينَ كَانُوا يَرْجُونَ لَن تَبُورًا وَسَلَّمَ تسليما كثيرا .
امَّا بَعْدُ : فَيَا أَيُّهَا الْإِخْوَانُ اتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ يَتَجَلَّى اللَّهُ فِيهِ عَلَى عِبَادِهِ مِنْ كُلِّ مُقِيمٍ وَمُسَافِرِ. فَيُبَاهِي لَكُمُ مَلَائِكَتَهُ وَأَنتُمْ مُكْبِرُونَ فِيهِ إِظْهَارًا لِشَعَائِرِهِ في كل مكان طَاهِرٍ ، فَقَالَ اللهُ تَعَالَى وَلَمْ يَزَكْ قَائِلًا عَلِيمًا . إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اللِه وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِينَ وَارْضَ عَنْهُمْ بِرَحْمَةٍ مِنْكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ . اللَّهُمَّ اغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِينَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ . اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءِ وَالْغَلَا وَالْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْقَحْطِ وَالْوَبَاءَ وَالسَّيُوفَ وَالمُخْتَلِفَة وَالشَّدَائِدَ وَالْأَمْرَاضَ وَالْمِحْنُ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَصَةً وَمِنَ بُلْدَانِ المُسْلِمِينَ عَامَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلَا خَوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلَا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ روفُ الرَّحِيمُ .
عِبَادَ اللهِ : إِنَّ اللَّهَ يَاءُ مُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ندى القربى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِضُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَلَذِكْرُ الله أكبر.
*Sumber: buku Materi Khutbah Jum'at Sepanjang Tahun oleh Muhammad Khatib, S.Pd.I
Teks Khutbah Idul Fitri 2026 PDF
Teks khutbah Idul Fitri di atas dapat diunduh dalam format PDF melalui link berikut:
https://drive.google.com/file/d/1LbSmsYAI4rKzo5zskt_EZ1MRfkBIb-F9/view?pli=1
Untuk mengunduhnya, detikers cukup klik link di atas kemudian klik ikon unduh di sudut kanan atas. Jika tidak terdapat ikon unduh pada sudut kanan atas pada laman, coba cara berikut:
- Klik "File" yang ada pada sudut kiri atas.
- Pilih "Download"
- Kemudian pilih lokasi file pada perangkat, dan klik "Save"
- Dokumen telah tersimpan di perangkat detikers.
Demikian teks khutbah Idul Fitri 2026 berjudul Kembali Pada Fitrah lengkap dengan format PDF yang dapat di-download gratis. Semoga bermanfaat.
(alk/alk)











































