Koordinator Badan Gizi Nasional Sulawesi Barat (BGN Sulbar) merespons keluhan anggota DPRD Pasangkayu soal makan bergizi gratis (MBG) yang dibagikan pagi hari saat Ramadan hingga membuat sejumlah siswa TK dan SD termasuk anaknya, terpaksa membatalkan puasa. Pihak BGN menyebut persoalan itu menjadi ranah orang tua dan guru untuk memberikan edukasi.
"Kalau soal membatalkan puasa, itukan masing-masing orang tua menuntun, di sini perannya lagi gurunya, (memberikan) edukasi," ujar Wakil Koordinator Regional BGN Sulbar, Hasri kepada wartawan, Selasa (24/2/2026).
Hasri mengatakan waktu distribusi MBG saat Ramadan sudah sesuai dengan aturan yang ditetapkan. Sementara menu MBG kering dipilih agar tetap tahan hingga bisa dikonsumsi para siswa saat berbuka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau kita dari BGN, kenapa kita bagi saat sekolah kan untuk buka puasa, makanya makanan kering," terangnya.
Di sisi lain, Hasri mengaku telah melihat sejumlah keluhan orang tua siswa di media sosial soal menu MBG yang diduga tidak sesuai aturan harga per porsi. Namun ia mengklaim menu yang diberikan telah sesuai dari segi nutrisi dan biaya operasionalnya.
"Menurut ahli gizi, itu kan sudah sesuai, tapi kalau kita lihat dari variasi menunya mungkin, ya banyak tanggapan, kan di sana sudah ada takaran kandungan karbohidrat, serat," tuturnya.
Diberitakan sebelumnya, anggota DPRD Pasangkayu, Robin Chandra Hidayat menyoroti waktu pendistribusian MBG di bulan Ramadan. Ia menyebut MBG yang dibagikan saat pagi hari membuat sejumlah siswa TK dan SD akhirnya membatalkan puasanya.
Robin memiliki anak berusia 6 tahun yang duduk di bangku TK dan baru belajar puasa. Anaknya dan teman-teman sekolahnya akhirnya membatalkan puasa setelah menerima MBG dengan menu ready to eat alias siap santap pada Senin (23/2) pagi.
Robin yang juga Ketua Fraksi NasDem Pasangkayu itu meminta agar Badan Gizi Nasional (BGN) dan Satgas di setiap kabupaten bisa mengevaluasi menu dan waktu distribusi MBG saat Ramadan. Menurutnya, tidak sedikit siswa TK dan SD yang baru belajar puasa.
"Saya justru menyoroti menunya yang ready to eat dibagikan pagi-pagi, jadi sangat menggoda anak-anak untuk batalkan puasa meskipun tidak ada niat sebelumnya, tapi ada godaan atau pemicunya," kata Robin kepada wartawan, Selasa (24/2).
