3 Kultum Ramadhan 2026 Terbaru Durasi 7 Menit: Mendidik Hati-Menjaga Lisan

3 Kultum Ramadhan 2026 Terbaru Durasi 7 Menit: Mendidik Hati-Menjaga Lisan

Iswandy Rusli - detikSulsel
Jumat, 20 Feb 2026 19:00 WIB
Ilustrasi Ceramah Isra Miraj
Foto: Gemini AI
Makassar -

Bulan suci selalu menjadi momen terbaik untuk memperbanyak ilmu dan memperbaiki diri. Kultum Ramadhan 2026 7 menit bisa menjadi dakwah singkat namun bermakna untuk disampaikan sebelum berbuka puasa atau setelah salat Tarawih.

Kultum sangat cocok untuk suasana Ramadhan yang padat aktivitas, tetapi tetap ingin diisi dengan nasihat yang menyejukkan. Tema mendidik hati dan menjaga lisan menjadi pengingat penting agar ibadah puasa tidak hanya menahan lapar, tetapi juga membersihkan jiwa.

Nah, bagi detikers yang tengah mencari materi untuk disampaikan sebagai siraman rohani, berikut 3 kultum Ramadhan 2026 terbaru untuk durasi 7 menit dengan berbagai tema yang bisa dijadikan refernsi. Yuk simak!

1. Kultum Ramadhan 2026: Puasa yang Mendidik Hati dan Akhlak

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الصِّيَامَ جُنَّةً لِلْمُتَّقِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ خَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ . اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى الْمُبِينُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا الِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.

"Segala puji bagi Allah yang menjadikan puasa sebagai perisai bagi orang bertaqwa. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya. Ya Allah, limpahkan shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya."

ADVERTISEMENT

Jamaah yang dimuliakan Allah, seringkali kita terjebak pada pemahaman bahwa puasa hanyalah perpindahan waktu makan. Padahal, esensi terdalam dari ibadah puasa adalah Tarbiyah (Pendidikan) bagi hati dan akhlak. Puasa adalah momen di mana seorang hamba dipaksa untuk tunduk, bukan kepada keinginannya, melainkan kepada perintah Tuhannya.

Puasa mendidik hati untuk selalu merasa diawasi oleh Allah (Muraqabah). Di saat kita sendirian, di depan air yang segar, kita tetap tidak minum. Mengapa? Karena hati kita jujur mengakui bahwa Allah Maha Melihat. Inilah pendidikan integritas tertinggi.

إِنَّ الصَّوْمَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

"Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya." (Hadits Qudsi, HR Bukhari & Muslim)

Selain hati, puasa adalah medan perang melawan buruknya akhlak. Rasulullah SAW melarang orang yang berpuasa untuk membalas keburukan dengan keburukan. Jika kita dicaci, puasa mengajarkan kita untuk berkata: "Aku sedang puasa."

Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadits shohih:

فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

"Apabila seseorang di antara kamu berpuasa, janganlah berkata kotor dan berteriak-teriak. Jika ada orang yang mencacinya atau mengajaknya berkelahi, hendaknya ia berkata: 'Sesungguhnya aku sedang berpuasa'." (HR Bukhari & Muslim)

Puasa yang berhasil adalah puasa yang membekas pada perilaku pasca-Ramadhan. Hati menjadi lebih lembut (qolbun salim) dan lisan menjadi lebih terjaga. Jika seseorang berpuasa namun akhlaknya tetap buruk, maka ia termasuk golongan yang merugi sebagaimana sabda Nabi:

"Betapa banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga." (HR Ahmad)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ. وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

"Semoga Allah memberkati kita dengan Al-Qur'an, dan memberi manfaat atas ayat-ayatnya. Ya Allah, jadikanlah kami orang yang mendengar perkataan dan mengikuti kebaikannya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam."

2. Kultum Ramadhan 2026: 2 Tanda Puasa Ramadhan Diterima Oleh Allah

Menjadi hamba yang jerih payah ibadah puasanya diterima merupakan tujuan utama dalam bulan Ramadhan. Pasalnya, puasa adalah ibadah yang cukup berat dalam pelaksanaannya.

Selain menahan diri dari hal-hal yang dihalalkan syariat, seperti makan, minum, dan hubungan intim suami istri bagi yang telah menikah, aspek lain seperti kejujuran menjadi hal krusial saat menjalankan ibadah puasa.

Oleh karena itu, mendapatkan penerimaan dari Allah atas ibadah puasa sangatlah penting. Apalagi, puasa adalah satu-satunya ibadah yang pahalanya sepenuhnya bergantung pada penilaian Allah semata.

Begitu juga sebaliknya, ibadah puasa yang tidak diterima menjadi hal yang harus dihindari sekaligus ditakuti oleh seorang hamba. Usaha yang dilakukan dari terbitnya fajar kedua (berkumandangnya adzan subuh) sampai terbenamnya matahari (berkumandangnya adzan maghrib) menjadi sia-sia.

Bahkan puasa yang dilakukan menjadi tidak bernilai sama sekali. Nabi sudah memperingatkan, bahwa fenomena seseorang yang berpuasa namun hanya menyisakan lapar dan haus benar adanya. Sebagaimana sabda beliau:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْع وَالْعَطْش

Artinya: "Begitu banyak seseorang yang sedang berpuasa hanya menyisakan lapar dan haus," (HR. Imam Ibnu Majah).

Kita berpotensi melaksanakan ibadah puasa dengan menyisakan lapar dan dahaga. Seyogyanya, kita dari awal menyadari akan hal ini. Bisa jadi yang dimaksud oleh Nabi adalah diri kita sendiri.

Beruntungnya, para ulama merumuskan tanda diterimanya puasa seseorang. Kendatipun segala hal yang berkaitan dengan puasa sepenuhnya ada dalam prerogatif Allah, terdapat tanda-tanda yang mengindikasikan Allah menerima ibadah puasa seseorang.

Salah satu ulama dari kalangan Hanabilah (madzhab Hanbali) bernama Ibnu Rajab menjelaskan tanda-tanda yang mengindikasikan diterimanya ibadah puasa. Dalam kitabnya Lathaiful Ma'arif setidaknya dijelaskan bahwa ada dua tanda ibadah puasa seseorang diterima.

Walaupun tanda yang dijelaskan tidak absolut, kemungkinan diterimanya cukup besar. Uniknya, tanda-tanda itu berdasar pada pola tindakan seseorang dalam berpuasa, bukan dari eksternal.

Terbiasa Berpuasa di Bulan Syawal

Salah satu tanda seseorang diterima ibadah puasanya selama bulan Ramadhan adalah melanjutkan berpuasa di bulan Syawal. Lebih tepatnya hari kedua pada bulan Syawal sampai pada hari ketujuh. Tidak hanya mendapatkan keutamaan-keutamaan berpuasa di bulan Syawal seperti setara berpuasa selama satu tahun penuh, namun menjadi indikator diterimanya puasa seseorang.

أَنَّ مُعَاوَدَةَ الصِّيَامِ بَعْدَ صَامَ رَمَضَانَ عَلاَمَةٌ عَلىَ قَبُولِ صَوْمِ رَمَضَانَ؛ فَإِنَّ اللّٰهَ تَعَالى إِذَا تَقَبَّلَ عَمَلَ عَبْدٍ وَفَّقَهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ بَعْدَهُ

Artinya, "Memiliki kebiasaan berpuasa setelah puasa bulan Ramadhan (puasa bulan Syawal) merupakan tanda dari diterimanya puasa Ramadhan. Sebab Allah menerima amal seseorang bergantung pada amal shalih sesudahnya," (Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathaiful Ma'arif, [Riyadh, Dar Ibnu Khuzaimah: 2007], halaman 494).

Berdasar pada kaidah "suatu amal saleh dapat diterima jika melaksanakan amal saleh setelahnya" menjadikan berpuasa di bulan Syawal menjadi salah satu tanda diterimanya puasa Ramadhan. Hal yang sama berlaku pada setiap amal. Dengan demikian, setiap orang dituntut untuk terus melakukan amal saleh terus menerus secara berturut-turut untuk memungkinkan diterimanya amal. Sehingga dalam kehidupan sehari-harinya selalu diiringi dengan amal saleh.

Berbeda ketika melakukan amal buruk setelah amal saleh. Jika seseorang mulanya beramal saleh namun diakhiri dengan amal yang buruk, maka amal saleh yang sebelumnya dilakukan akan tertolak dengan sendirinya (Lathaiful Ma'arif, halaman 494).

Berkomitmen Tidak Mengulangi Maksiat

Tanda berikutnya adalah memiliki kecondongan hati untuk tidak mengulangi maksiat di waktu mendatang. Hal ini merupakan poin utama dalam bertobat. Melaksanakan peribadatan berbanding lurus dengan komitmen untuk tidak terjerumus pada kemaksiatan, baik maksiat yang pernah dilakukan, maupun yang belum pernah dilakukan.

Hanya saja, kondisi hati yang masih cenderung untuk mengulangi maksiat memiliki konsekuensi tersendiri. Kendatipun secara tampak seseorang sedang melaksanakan suatu peribadatan tetapi kondisi hatinya masih condong pada kemaksiatan, peribadatan yang demikian tidak dapat diterima.

Begitu pun dalam beribadah puasa di saat Ramadhan. Seseorang benar-benar harus memiliki keteguhan hati untuk tidak melakukan maksiat di luar waktu bulan puasa. Sebab seseorang yang berpuasa lalu berucap istighfar namun hatinya bertautan pada kemaksiatan, potensi diterimanya ibadah puasa sangat kecil.

فمَنِ اسْتَغْفَرَ بِلِسَانِهِ وَقَلْبُهُ عَلَى الْمَعْصِيَةِ مَعْقُوْد، وَعَزْمُهُ أنْ يَرْجِعَ إلَى المَعَاصِي بَعْدَ الشَّهْرِ ويَعُوْدُ؛ فَصَوْمُهُ عَلَيْهِ مَرْدُوْدٌ، وَبَابُ القَبُولِ عَنْهُ مَسْدُوْدٌ

Artinya: "Siapa yang meminta ampunan secara lisan akan tetapi hatinya bertaut pada kemaksiatan, serta merencanakan untuk kembali melakukan maksiat setelah bulan puasa, maka puasanya ditolak dan pintu penerimaan tobat ditutup," (Lathaiful Ma'arif, halaman 484).

Tajuddin As-Subki mengutip pernyataan salah satu ulama syafi'iyah bernama Abu Ali Al-Ashbahani. Dalam sebuah majelis, Al-Ashbahani ditanya oleh seseorang mengenai tanda diterimanya ibadah puasa Ramadhan. Beliau menjawab, bahwa tanda ibadah puasa diterima ketika seseorang meninggal di bulan Syawal tanpa melakukan tindakan buruk (maksiat). Al-Ashbahani meninggal pada bulan Syawal di hari Senin pada tahun lima ratus dua puluh lima hijriah," (Thabaqatus Syafi'iyah, [Beirut, Dar Ihya': 1992], Juz VII, halaman 26).

Dua tanda yang sudah dipaparkan dapat dijadikan acuan serta indikasi puasa Ramadhan kita akan diterima oleh Allah atau tidak. Walakin, sekali lagi, segala pertimbangan ibadah puasa sepenuhnya bergantung pada Allah, setidaknya kita memiliki gambaran atas kualitas puasa kita sendiri. Semoga puasa tahun ini dan puasa tahun-tahun berikutnya diterima oleh Allah. Amin. Wallahu A'lam

3. Kultum Ramadhan 2026: Menjaga Lisan di Bulan Penuh Ampunan

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِحِفْظِ اللِّسَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الرَّحْمٰنِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْأَنَامِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ. اَمَّا بَعْدُ.

"Segala puji bagi Allah yang memerintahkan kita menjaga lisan. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Pengasih, dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya pemimpin manusia. Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya."

Jamaah yang dirahmati Allah, bulan Ramadhan adalah bulan pendidikan. Salah satu kurikulum terpenting dalam "Madrasah Ramadhan" adalah melatih kendali atas organ tubuh yang paling kecil namun dampaknya paling besar, yaitu Lisan.

Puasa bukan sekadar memindahkan jam makan, tapi juga memindahkan kebiasaan buruk lisan menuju perkataan yang baik. Tanpa menjaga lisan, puasa kita berisiko hanya menjadi ritual kelaparan tanpa nilai di sisi Allah SWT.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menekankan hubungan erat antara iman dan cara kita berbicara:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari & Muslim)

Mengapa menjaga lisan begitu ditekankan saat berpuasa? Karena lisan yang tidak terjaga-seperti ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), dan dusta-dapat menghapus pahala puasa. Rasulullah SAW memperingatkan dalam haditsnya:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

"Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar." (HR. An-Nasa'i & Ibnu Majah)

Ulama menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama kehampaan pahala tersebut adalah karena lisan yang terus bermaksiat sementara perut menahan lapar.

Tips Menjaga Lisan Selama Puasa

  • Perbanyak Dzikir: Basahi lidah dengan mengingat Allah agar tidak ada ruang untuk membicarakan orang lain.
  • Pikir Sebelum Bicara: Pastikan ucapan kita membawa manfaat atau setidaknya tidak menyakiti hati sesama.
  • Batasi Media Sosial: Di era digital, "lisan" kita berpindah ke jempol. Jauhi perdebatan yang tidak berguna di kolom komentar.

Di bulan penuh ampunan ini, mari kita jadikan diam sebagai perisai dan bicara sebagai sedekah. Semoga dengan terjaganya lisan, puasa kita diterima dan kita keluar dari bulan Ramadhan sebagai pemenang yang mendapatkan ampunan total dari Allah SWT.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ أَلْسِنَتَنَا رَطْبَةً بِذِكْرِكَ، وَطَهِّرْ قُلُوْبَنَا مِنَ النِّفَاقِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

"Aku sampaikan ucapanku ini dan aku memohon ampun kepada Allah untukku dan untuk kalian. Ya Allah jadikan lisan kami basah dengan berdzikir pada-Mu, dan bersihkan hati kami dari kemunafikan. Ya Tuhan kami terimalah amal kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Demikian kumpulan materi kultum Ramadhan 2026 terbaru yang membahas berbagai perkara dalam Islam. Semoga bermanfaat!

*sumber: Laman Muhamadiyah Cepu



(alk/alk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads