Puasa Ramadhan merupakan salah satu ibadah wajib bagi setiap umat Islam yang telah memenuhi syarat, dan dilaksanakan selama satu bulan penuh. Selain menahan diri dari makan dan minum, puasa juga menjadi momen untuk meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amal ibadah, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dilansir dari buku Fikih Madrasah Tsanawiyah Kelas VIII karya Ahmad Ahyar dan Ahmad Najibullah, perintah berpuasa tersebut termuat dalam firman Allah berikut:
يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ أَيَّا مَا مَعْدُودَةٍ ..... البقرة [٢] : ١٨٤-١٨٤
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa; (Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu.... (QS Al-Baqarah [2]: 183-184)
Pelaksanaan puasa diawali dengan niat agar ibadah yang dijalankan sah. Karena itu, penting bagi umat Islam untuk mengetahui bacaan niat puasa Ramadan sebelum menjalankannya.
Nah, dibawah ini detikSulsel menyajikan bacaan niat puasa 1 bulan penuh dan niat puasa harian lengkap dalam tulisan Arab, Latin, serta artinya.
Niat Puasa Ramadhan
Melansir laman Majelis Ulama Indonesia, di Indonesia, terdapat perbedaan praktik di kalangan umat Islam dalam melafalkan niat puasa Ramadhan. Ada yang membacanya setiap malam sebelum berpuasa, ada pula yang cukup membaca niat sekali di awal bulan dengan tujuan untuk satu bulan penuh.
Berikut bacaan niat untuk 1 bulan penuh dan harian:
Bacaan Niat Puasa Ramadhan Sebulan Penuh
Mengutip laman MUI, bacaan niat puasa Ramadhan sebulan penuh adalah:
نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيعِ شَهْرٍ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ تَقْلِيدًا لِلْإِمَامِ مَالِكٍ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma jami'i shahri Ramadhani hadzihis-sanati taqlīdan lil-Imāmi Mālik fardhan lillāhi ta'ālā.
Artinya: Aku niat berpuasa di sepanjang bulan Ramadhan tahun ini dengan mengikuti pendapat Imam Malik, wajib karena Allah Ta'ala.
Bacaan Niat Puasa Ramadhan Harian
Mengutip Buku Praktis Ibadah oleh Irwan, Ahmad Jafar, dan Husain, niat puasa Ramadhan yang dibaca setiap hari adalah:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضٍ شَهْرٍ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma ghadin 'an adā'i fardhi syahri Ramadhāni hādzihis sanati lillāhi ta'ālā.
Artinya: Aku niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta'ala.
Waktu Mengucapkan Niat Puasa Ramadhan
Berdasarkan Mazhab Syafi'i, niat puasa wajib dilakukan setiap malam di bulan Ramadhan. Syekh Sulaiman Al-Bujairimi dalam Hasyiyatul Iqna' menjelaskan:
ويشترط لفرض الصوم من رمضان أو غيره كقضاء أو نذر التبييت وهو إيقاع النية ليلا لقوله صلى الله عليه وسلم: من لم يبيت النية قبل الفجر فلا صيام له. ولا بد من التبييت لكل يوم لظاهر الخبر
Artinya: "Disyaratkan berniat di malam hari untuk puasa wajib seperti puasa Ramadhan, puasa qadha, atau puasa nazar. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah SAW, 'Siapa yang tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.' Oleh karena itu, niat harus dilakukan setiap hari (di bulan Ramadhan) sesuai dengan zahir hadis." (Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Iqna', juz 2)
Sementara itu, menurut Mazhab Maliki, niat puasa Ramadhan boleh dilakukan sekali untuk satu bulan penuh pada malam pertama Ramadhan. Pendapat ini didasarkan pada pandangan bahwa puasa Ramadhan merupakan satu rangkaian ibadah yang utuh, sehingga cukup dengan satu niat di awal selama tidak terputus oleh uzur.
Karena itu, untuk mengantisipasi lupa atau tertidur sebelum sempat berniat sebagian ulama membolehkan mengikuti pendapat Imam Malik dengan berniat untuk sebulan penuh pada malam pertama Ramadhan. Namun demikian, sesuai dengan pendapat Mazhab Syafi'i yang banyak dianut di Indonesia, umat Islam tetap dianjurkan untuk membiasakan diri memperbarui niat setiap malam selama bulan Ramadhan.
Apakah Bisa Membaca Niat Puasa Sebulan Apabila Tidak Puasa di Hari Pertama?
Apabila seseorang tidak dapat berpuasa pada hari pertama Ramadhan misalnya karena haid. Apakah ia tetap bisa membaca niat puasa sebulan penuh saat mulai berpuasa di hari kedua atau ketiga?
Menyadur laman Nahdlatul Ulama, untuk memahaminya, perlu melihat alasan Mazhab Maliki yang membolehkan menjamak niat di awal Ramadhan. Para ulama fikih Malikiyyah menjelaskan bahwa puasa Ramadhan selama satu bulan dipandang sebagai satu rangkaian ibadah yang utuh, karena dilaksanakan secara terus-menerus tanpa jeda.
Mazhab Maliki membedakan antara puasa yang wajib dilakukan secara terus-menerus, seperti Ramadhan, dan puasa yang boleh dipisah waktunya, seperti qadha Ramadhan.
Syekh Muhammad bin Yusuf al-Ghurnathi, pakar fikih mazhab Maliki, menjelaskan:
وكفت نية لما يجب تتابعه اللخمي أما ما تجب متابعته كرمضان وشهري الظهار وقتل النفس ومن نذر شيئا بعينه ومن نذر متابعة ما ليس بعينه فالنية في أوله لجميعه تجزئه
Artinya: "Dan cukup niat sekali untuk puasa yang wajib dilakukan secara terus-menerus. Imam al-Lakhmi mengatakan, adapun puasa yang wajib dilakukan terus-menerus seperti Ramadhan, dua bulan puasa dhihar, puasa denda pembunuhan, orang yang bernazar puasa pada hari tertentu, orang yang bernazar terus-menerus berpuasa yang tidak ditentukan harinya, maka niat di awal mencukupi untuk keseluruhannya."
Ia juga mengutip pendapat Ibnu Rusydi:
ابن رشد وأما ما كان من الصيام يجوز تفريقه كقضاء رمضان وصيامه في السفر وكفارة اليمين وفدية الأذى فالأظهر من الخلاف إذا نوى متابعة ذلك أن تجزئه نية واحدة يكون حكمها باقيا وإن زال عينها ما لم يقطعها بنية الفطر عامدا ، وأما ما لم ينو متابعته من ذلك فلا خلاف أن عليه تجديد النية لكل يوم
Artinya: "Ibnu Rusydi berkata, adapun puasa yang boleh dipisah seperti qadha Ramadhan, puasa Ramadhan saat bepergian, denda sumpah, fidyah al-adza (denda bagi orang ihram yang melanggar keharaman saat ihram), maka pendapat yang jelas dari ikhtilaf ulama bahwa bila ia bermaksud melakukan puasa tersebut secara terus-menerus, maka mencukupi baginya satu niat, hukum satu niat tersebut akan menetap meski hilang sosoknya selama tidak diputus dengan niat berbuka puasa secara sengaja. Adapun orang yang tidak berniat melakukannya secara terus-menerus, maka tidak ada ikhtilaf bahwa ia berkewajiban untuk memperbarui niat di setiap harinya" (Syekh Muhammad bin Yusuf al-Ghurnathi al-Maliki, al-Taj wa al-Iklil, juz.3, hal. 338).
Berdasarkan penjelasan tersebut, seseorang yang baru mulai berpuasa pada hari kedua atau setelahnya tetap diperbolehkan membaca niat puasa satu bulan penuh menurut Mazhab Maliki. Selama masih dalam bulan Ramadhan, puasa tersebut tetap dianggap satu kesatuan ibadah.
Meski demikian, praktik niat sebulan penuh pada dasarnya bersifat antisipasi jika suatu malam lupa berniat. Umat Islam tetap dianjurkan untuk memperbarui niat setiap malam.
Itulah bacaan niat puasa Ramadhan 1 bulan penuh dan harian. Selamat menjalankan ibadah puasa, detikers!
(urw/urw)











































