Bacaan dan Renungan Rabu Abu Katolik 18 Februari 2026

Bacaan dan Renungan Rabu Abu Katolik 18 Februari 2026

Osmawanti Panggalo - detikSulsel
Rabu, 18 Feb 2026 06:30 WIB
Bacaan dan renungan Rabu Abu 18 Februari 2026
Foto: Pixabay
Makassar -

Rabu Abu menjadi penanda dimulainya Masa Prapaskah dalam tradisi Gereja Katolik. Pada Rabu, 18 Februari 2026, umat Katolik diajak untuk memasuki masa pertobatan, doa, dan refleksi diri melalui bacaan Kitab Suci serta renungan yang mengarahkan hati pada pembaruan iman.

Perayaan Rabu Abu bukan sekadar penerimaan abu di dahi, tetapi juga momentum untuk menyadari kerapuhan manusia dan kebutuhan akan rahmat Allah. Melalui bacaan harian dan renungan yang disiapkan Gereja, umat diajak memperdalam makna tobat, memperbaiki relasi dengan Tuhan dan sesama, serta menata kembali hidup sesuai kehendak-Nya.

  1. Bacaan dan renungan Katolik Rabu Abu 18 Februari 2026 berdasarkan kalender liturgi;
  2. Teks mazmur tanggapan;
  3. Teks doa penutup.

Yuk, simak selengkapnya!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Renungan Harian Katolik Hari Ini 18 Februari 2026

Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:

Bacaan I: Yl 2:12-18

Tetapi sekarang juga," demikianlah firman TUHAN, "berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh."

ADVERTISEMENT

Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.

Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan korban curahan bagi TUHAN, Allahmu.

Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya;

kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang tua, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu; baiklah penganten laki-laki keluar dari kamarnya, dan penganten perempuan dari kamar tidurnya;

baiklah para imam, pelayan-pelayan TUHAN, menangis di antara balai depan dan mezbah, dan berkata: "Sayangilah, ya TUHAN, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: Di mana Allah mereka?"

TUHAN menjadi cemburu karena tanah-Nya, dan Ia belas kasihan kepada umat-Nya.

Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,5-6a,12-13,14,17

Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku.

Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.

Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.

Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku.

Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela!

Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.

Lepaskanlah aku dari hutang darah, ya Allah, Allah keselamatanku, maka lidahku akan bersorak-sorai memberitakan keadilan-Mu!

Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

Bacaan II: 2 Kor. 5:20-6:2

Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.

Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.

Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima.

Sebab Allah berfirman: "Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau." Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.

Bacaan Injil: Mat 6:1-6,16-18

"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.

Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.

Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

"Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

"Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu,

supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

Renungan Hari Ini: Koyakkanlah Hatimu

Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Ia menyesal atas malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. (Yl. 2:13)

Bacaan liturgi hari ini mengajak kita untuk memasuki masa Prapaskah dengan diawali hari ini, Rabu Abu. Abu adalah tanda pertobatan. Kitab Suci mengisahkan abu sebagai tanda pertobatan, seperti pada pertobatan Niniwe (Yun. 3:6).

Kita diingatkan bahwa kita diciptakan dari debu tanah (Kej. 2:7) dan suatu saat nanti kita akan mati dan kembali menjadi debu. Oleh karena itu, pada saat menerima abu di gereja, kita mendengar ucapan dari romo, "Bertobatlah, dan percayalah kepada Injil."

Nabi Yoel dalam bacaan pertama dengan sangat tegas mengatakan, "Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.

Ia menyesal atas malapetaka yang hendak didatangkan-Nya." Jika mengoyakkan pakaian mudah, apakah mudah mengoyakkan hati? Mengoyakkan hati membutuhkan pengorbanan dan tekad yang kuat untuk berubah.

Ketika kita berpuasa, kita belajar untuk mendisiplinkan nafsu dan keinginan manusiawi kita. Sering kali kita dengan mudah, menyerah pada keegoisan kita untuk hal-hal yang tidak penting. Tetapi puasa yang sejati melatih kesadaran dan pengendalian diri untuk benar-benar membentuk hati yang berkenan di hadapan Tuhan.

Saya teringat obrolan dengan teman saya tahun lalu. Dia bertanya apakah saya puasa dan pantang. Saya jawab, "Saya hanya makan kenyang satu kali." Dia dengan takjub berkata, "Wah keren dong.

Saya puasa dari pagi sampai sore, bro. Pantang daging dan merokok." Saya tanya, "Yakin kamu pantang merokok?" Dia jawab, "Iya, pantang rokok dari dari pagi sampai sore, tapi setelah sore ya merokok lagi." Saya jawab, "Sama aja dong kamu tetap merokok."

Pada masa Prapaskah ini, marilah kita bertanya: Apa yang bisa kita lepaskan dari hidup kita selama masa puasa ini? Apa yang kita harapkan dapat kita temukan dalam diri kita setelah masa puasa ini?

Tuhan mengajak kita untuk mengoyakan hati dan berbalik kepada-Nya, meninggalakan sikap hati yang jauh dari Tuhan dan bertobat secara penuh.

Doa Penutup

Allah Bapa yang penuh kasih, terima kasih atas kesempatan untuk mendekatkan diri kepada-Mu. Bantulah kami untuk mengoyakkan hati kami dan menjauhkan diri kami dari hal-hal yang tidak berguna selama masa Prapaskah ini. Berilah kami kekuatan dan utuslah Roh Kudus untuk menaungi dan mendampingi kami, agar kami bisa dan mampu melaksanakan puasa dan pantang dengan benar. Amin.

Itulah renungan harian Katolik Rabu, 18 Februari 2026. Selamat memasuki Masa Prapaskah!




(alk/alk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads