Rukyatul Hilal 1 Ramadan 2026 di Gorontalo, Ketinggian Minus 1,5 Derajat

Gorontalo

Rukyatul Hilal 1 Ramadan 2026 di Gorontalo, Ketinggian Minus 1,5 Derajat

Apris Nawu - detikSulsel
Selasa, 17 Feb 2026 16:53 WIB
Pemantauan hilal atau rukyatul hilal untuk menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi di Kampus IAIN Sultan Amai Gorontalo.
Foto: Pemantauan hilal atau rukyatul hilal untuk menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi di Kampus IAIN Sultan Amai Gorontalo. (Apris Nawu/detikcom)
Gorontalo -

Kementerian Agama (Kemenag) Gorontalo bersama BMKG melakukan pemantauan hilal atau rukyatul hilal untuk menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi di Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo sore ini. Pantauan sementara ketinggian hilal minus 1,5 derajat.

Pantauan detikcom, rukyatul hilal dilaksanakan di Kampus IAIN Sultan Amai Gorontalo, Kota Gorontalo, Selasa (17/2/2026). Pemantauan hilal menggunakan tiga teropong dan 5 personel tim pengamat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terlihat cuaca di lokasi pemantauan cerah berawan. Namun Pemantauan hilal akan dilaksanakan hingga terbenamnya matahari pada pukul 18.04 Wita.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas II Gorontalo, Andri Wijaya Bidang mengatakan ketinggian hilal saat ini mencapai minus 1,5 derajat. Sementara umur bulan tercatat minus 2 jam 3 menit 8 detik.

ADVERTISEMENT

"Sesuai dengan arahan Kemenag setiap 29 Syahban 1447 H. Saat ini kita akan mengamati posisi dari hilal untuk bulan Ramadan tinggi bulan sendiri ini minus 1,5 derajat untuk Gorontalo. Artinya bulan di bawah ufuk," kata Andri saat pemantauan kepada detikcom, Selasa (17/2).

"Artinya adalah bulan berada di bawah ufuk artinya bulan lebih dulu terbenam dari pada matahari. Posisinya potensi terlihatnya kemungkinan agak susah. Posisinya kita sekarang sekarang akan melihat pengamatan hilal atau visual," tambahnya.

Untuk diketahui, ada dua syarat utama agar hilal bisa dinyatakan terlihat berdasarkan kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapur). Pertama, ketinggian hilal minimal 3 derajat di atas ufuk saat matahari terbenam. Kedua, elongasi atau jarak sudut bulan-matahari minimal 6,4 derajat.

Kriteria tersebut disusun berdasarkan hasil riset astronomi terbaru, mengingat posisi hilal pada ketinggian 2 derajat hampir mustahil terlihat. Kriteria ini digunakan oleh Kementerian Agama (Kemenag) sebagai pedoman dalam sidang isbat penentuan awal Ramadan.



(ata/sar)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads