Karhutla di Parimo Meluas 147 Hektare, 334 Personel Dikerahkan Padamkan Api

Sulawesi Tengah

Karhutla di Parimo Meluas 147 Hektare, 334 Personel Dikerahkan Padamkan Api

Rangga Musabar - detikSulsel
Sabtu, 07 Feb 2026 18:30 WIB
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah (Sulteng) sejak Minggu (1/2) malam.
Foto: Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Parigi Moutong. (dok. istimewa)
Parigi Moutong -

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah (Sulteng), terus meluas. Saat ini, sekitar 147 hektare lahan yang terbakar dan api di sejumlah titik belum padam sepenuhnya.

"Total luasan terdampak mencapai 147 hektare. Masih ada api yang kebanyakan bara bara api," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parimo Moh Rivai kepada wartawan, Sabtu (7/2/2026).

Lahan yang terbakar tersebar di Desa Toboli, Desa Avolua, dan Desa Uevolo di Kecamatan Parigi Utara serta di Desa Towera, Kecamatan Siniu. BPBD telah membentuk posko terpadu dan mengerahkan 334 personel gabungan memadamkan api.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami bagi menjadi 4 tim untuk melakukan pemadaman pada titik-titik api di atas bukit dan gunung," ujar Rivai.

Personel gabungan terdiri dari Damkar 70 orang, Manggala Agni 10 orang, TRC BPBD Provinsi 10 orang, TRC BPBD Kabupaten 17 orang, TNI 130 orang, Polri 40 orang. Kemudian dukungan dari Dinsos/Tagana, BPBPK, PUPRP, TPHP, Dinas Kesehatan, PMI, FPRB, dan MDMC.

ADVERTISEMENT

Sebelumnya diberitakan, karhutla terjadi di Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara sejak Minggu (1/2) malam. Saat itu, lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 20 hektare.

"Sampai saat ini kami perkirakan ada sekitar 20 hektare lebih yang terdampak kebakaran," ujar Kepala BPBD Parimo, Moh Rivai kepada wartawan, Selasa (3/2).

Menurut Rivai, kebakaran berawal dari aktivitas pembersihan lahan kebun milik warga. Kondisi lahan yang kering serta angin kencang membuat api dengan cepat membesar dan sulit dikendalikan.

"Orang berkebun saat itu membersihkan lahan kebunnya dengan cara membakar. Baru kan musim kemarau. Api kemudian menjalar dan tidak bisa dia tangani," paparnya.



(hsr/sar)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads