Olahraga yang terlalu intens berpotensi memicu kerusakan ginjal. Hal itu karena adanya risiko rhabdomyolysis yang ditandai dengan kerusakan sel-sel otot.
Melansir detikHealth yang mengutip Cleveland Clinic, rhabdomyolysis menyebabkan komponen toksik dan jaringan otot masuk ke sistem peredaran darah kemudian terbawa sampai ke ginjal. Kondisi tersebut yang kemudian dapat mengakibatkan kerusakan ginjal.
Rhabdomyolysis dipicu oleh beberapa faktor, di antaranya trauma, pengobatan, ataupun kondisi kesehatan tertentu. Kerusakan otot semacam ini juga bisa terjadi akibat olahraga yang terlalu dipaksakan, yang dikenal dengan istilah exertional rhabdomyolysis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip MensHealth, ilmuwan yang mempelajari kondisi tersebut di Stanford University School Of Medicine, D Alan Nelson PhD MPAS mengatakan dehidrasi dan temperatur tinggi saat olahraga bisa meningkatkan risiko exertional rhabdomyolysis.
"Pada exertional rhabdomyolysis, bayangkan aktivitas yang melibatkan kelompok otot yang besar hingga derajat yang ekstrem, seperti lari jauh, keras, dan cepat, crossfit, jalan jauh dengan rucksack (ransel pemberat), latihan sepakbola, triathlon, marathon," jelas Nelson.
"Ini adalah aktivitas yang sangat berat, dalam durasi yang tidak sewajarnya," tambahnya.
Lantas seberapa sering rhabdomyolysis akibat olahraga terlalu ekstrem terjadi?
Meskipun memiliki potensi, data memperlihatkan rhabdomyolysis relatif jarang terjadi di Amerika Serikat, yakni sekitar 26 ribu orang diperkirakan mengalaminya dalam setahun.
Adapun tanda-tanda rhabdomyolysis yang bisa dikenali yakni pembengkakan otot, melemahnya otot, nyeri otot, dan perubahan warna urine menjadi cokelat atau gelap.
Kendati demikian, Nelson menekankan tidak ada tanda khusus yang bisa dijadikan petunjuk pasti. Ia menyarankan untuk sebisa mungkin menghindari risikonya.
"Ini berbahaya. Pada waktunya ini terjadi, sudah terlambat untuk menghentikannya," tuturnya.
(alk/alk)











































