Apakah Boleh Puasa Rajab Dimulai di Hari Kedua? Ini Penjelasannya

Apakah Boleh Puasa Rajab Dimulai di Hari Kedua? Ini Penjelasannya

Edward Ridwan - detikSulsel
Sabtu, 13 Jan 2024 13:09 WIB
Ilustrasi buka puasa bersama
Foto: Shutterstock
Makassar -

Salah satu amalan sunah yang banyak dilakukan ketika memasuki bulan Rajab adalah berpuasa. Sayangnya, banyak orang yang terlewat melakukannya lantaran lupa atau tidak mengetahui anjurannya.

Dikutip dari laman resmi Nahdlatul Ulama, bulan Rajab merupakan salah satu dari bulan haram dalam Islam. Karena itu, di bulan mulia ini umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal kebaikan, termasuk berpuasa.

Pada tahun ini, awal bulan Rajab bertepatan dengan hari Sabtu, 13 Januari 2024. Artinya, umat muslim dapat melaksanakan puasa sunah Rajab di tanggal tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas bagaimana jika seseorang ingin melaksanakan puasa namun terlewat di hari pertama? Apakah boleh melaksanakan puasa Rajab di hari kedua? Simak penjelasannya berikut ini!

Apakah Boleh Puasa Rajab di Hari Kedua?

Masih dari laman Nahdlatul Ulama, puasa Rajab sendiri merupakan puasa sunah. Adapun mengenai ketentuan waktu dan jumlah hari melaksanakannya tidak ada keterangan secara rinci baik dalam Al-Quran maupun hadits.

ADVERTISEMENT

Dengan demikian, puasa Rajab dapat dilakukan mulai dari hari apa saja, seperti hari kedua, ketiga, ataupun seterusnya. Yang terpenting, dilakukan masih dalam waktu bulan Rajab.

Demikian pula dengan jumlah hari melaksanakan puasa Rajab, tidak ada batasannya. Seseorang dapat melaksanakan puasa Rajab sesuai batas kemampuannya dan tidak memaksakan diri.

Hadits Terkait Puasa Rajab

Terkait hal ini, dijelaskan dalam hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Abi Dawud sebagai berikut:

ΨΉΩŽΩ†Ω’ Ω…ΩΨ¬ΩΩŠΨ¨ΩŽΨ©ΩŽ Ψ§Ω„Ω’Ψ¨ΩŽΨ§Ω‡ΩΩ„ΩΩŠΩŽΩ‘Ψ©Ω ΨΉΩŽΩ†Ω’ Ψ£ΩŽΨ¨ΩΩŠΩ‡ΩŽΨ§ Ψ£ΩŽΩˆΩ’ ΨΉΩŽΩ…ΩΩ‘Ω‡ΩŽΨ§ Ψ£ΩŽΩ†ΩŽΩ‘Ω‡Ω أَΨͺΩŽΩ‰ Ψ±ΩŽΨ³ΩΩˆΩ„ΩŽ Ψ§Ω„Ω„ΩŽΩ‘Ω‡Ω Ψ΅ΩŽΩ„ΩŽΩ‘Ω‰ Ψ§Ω„Ω„ΩŽΩ‘Ω‡Ω ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩŠΩ’Ω‡Ω ΩˆΩŽΨ³ΩŽΩ„ΩŽΩ‘Ω…ΩŽ Ψ«ΩΩ…ΩŽΩ‘ Ψ§Ω†Ω’Ψ·ΩŽΩ„ΩŽΩ‚ΩŽ فَأَΨͺΩŽΨ§Ω‡Ω Ψ¨ΩŽΨΉΩ’Ψ―ΩŽ Ψ³ΩŽΩ†ΩŽΨ©Ω ΩˆΩŽΩ‚ΩŽΨ―Ω’ ΨͺΩŽΨΊΩŽΩŠΩŽΩ‘Ψ±ΩŽΨͺΩ’ Ψ­ΩŽΨ§Ω„ΩΩ‡Ω ΩˆΩŽΩ‡ΩŽΩŠΩ’Ψ¦ΩŽΨͺُهُ ΩΩŽΩ‚ΩŽΨ§Ω„ΩŽ يَا Ψ±ΩŽΨ³ΩΩˆΩ„ΩŽ Ψ§Ω„Ω„ΩŽΩ‘Ω‡Ω Ψ£ΩŽΩ…ΩŽΨ§ ΨͺΩŽΨΉΩ’Ψ±ΩΩΩΩ†ΩΩŠ Ω‚ΩŽΨ§Ω„ΩŽ ΩˆΩŽΩ…ΩŽΩ†Ω’ Ψ£ΩŽΩ†Ω’Ψͺَ Ω‚ΩŽΨ§Ω„ΩŽ Ψ£ΩŽΩ†ΩŽΨ§ Ψ§Ω„Ω’Ψ¨ΩŽΨ§Ω‡ΩΩ„ΩΩŠΩΩ‘ Ψ§Ω„ΩŽΩ‘Ψ°ΩΩŠ جِئْΨͺΩΩƒΩŽ ΨΉΩŽΨ§Ω…ΩŽ Ψ§Ω„Ω’Ψ£ΩŽΩˆΩŽΩ‘Ω„Ω Ω‚ΩŽΨ§Ω„ΩŽ ΩΩŽΩ…ΩŽΨ§ ΨΊΩŽΩŠΩŽΩ‘Ψ±ΩŽΩƒΩŽ ΩˆΩŽΩ‚ΩŽΨ―Ω’ كُنْΨͺَ Ψ­ΩŽΨ³ΩŽΩ†ΩŽ Ψ§Ω„Ω’Ω‡ΩŽΩŠΩ’Ψ¦ΩŽΨ©Ω Ω‚ΩŽΨ§Ω„ΩŽ Ω…ΩŽΨ§ Ψ£ΩŽΩƒΩŽΩ„Ω’Ψͺُ Ψ·ΩŽΨΉΩŽΨ§Ω…Ω‹Ψ§ Ψ₯ΩΩ„ΩŽΩ‘Ψ§ Ψ¨ΩΩ„ΩŽΩŠΩ’Ω„Ω مُنْذُ ΩΩŽΨ§Ψ±ΩŽΩ‚Ω’ΨͺΩΩƒΩŽ ΩΩŽΩ‚ΩŽΨ§Ω„ΩŽ Ψ±ΩŽΨ³ΩΩˆΩ„Ω Ψ§Ω„Ω„ΩŽΩ‘Ω‡Ω Ψ΅ΩŽΩ„ΩŽΩ‘Ω‰ Ψ§Ω„Ω„ΩŽΩ‘Ω‡Ω ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩŠΩ’Ω‡Ω ΩˆΩŽΨ³ΩŽΩ„ΩŽΩ‘Ω…ΩŽ Ω„ΩΩ…ΩŽ ΨΉΩŽΨ°ΩŽΩ‘Ψ¨Ω’Ψͺَ Ω†ΩŽΩΩ’Ψ³ΩŽΩƒΩŽ Ψ«ΩΩ…ΩŽΩ‘ Ω‚ΩŽΨ§Ω„ΩŽ ءُمْ Ψ΄ΩŽΩ‡Ω’Ψ±ΩŽ Ψ§Ω„Ψ΅ΩŽΩ‘Ψ¨Ω’Ψ±Ω ΩˆΩŽΩŠΩŽΩˆΩ’Ω…Ω‹Ψ§ مِنْ كُلِّ Ψ΄ΩŽΩ‡Ω’Ψ±Ω Ω‚ΩŽΨ§Ω„ΩŽ Ψ²ΩΨ―Ω’Ω†ΩΩŠ فَΨ₯ΩΩ†ΩŽΩ‘ بِي Ω‚ΩΩˆΩŽΩ‘Ψ©Ω‹ Ω‚ΩŽΨ§Ω„ΩŽ ءُمْ ΩŠΩŽΩˆΩ’Ω…ΩŽΩŠΩ’Ω†Ω Ω‚ΩŽΨ§Ω„ΩŽ Ψ²ΩΨ―Ω’Ω†ΩΩŠ Ω‚ΩŽΨ§Ω„ΩŽ ءُمْ Ψ«ΩŽΩ„ΩŽΨ§Ψ«ΩŽΨ©ΩŽ Ψ£ΩŽΩŠΩŽΩ‘Ψ§Ω…Ω Ω‚ΩŽΨ§Ω„ΩŽ Ψ²ΩΨ―Ω’Ω†ΩΩŠ Ω‚ΩŽΨ§Ω„ΩŽ ءُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاΨͺْرُكْ ءُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاΨͺْرُكْ ءُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاΨͺْرُكْ ΩˆΩŽΩ‚ΩŽΨ§Ω„ΩŽ Ψ¨ΩΨ£ΩŽΨ΅ΩŽΨ§Ψ¨ΩΨΉΩΩ‡Ω Ψ§Ω„Ψ«ΩŽΩ‘Ω„ΩŽΨ§Ψ«ΩŽΨ©Ω ΩΩŽΨΆΩŽΩ…ΩŽΩ‘Ω‡ΩŽΨ§ Ψ«ΩΩ…ΩŽΩ‘ Ψ£ΩŽΨ±Ω’Ψ³ΩŽΩ„ΩŽΩ‡ΩŽΨ§

Artinya: Dari Mujibah al-Bahiliyyah, dari bapaknya atau pamannya, bahwa ia mendatangi Nabi. Kemudian ia kembali lagi menemui Nabi 1 tahun berikutnya sedangkan kondisi tubuhnya sudah berubah (lemah/ kurus). Ia berkata: Ya Rasul, apakah engkau mengenaliku? Rasul menjawab: Siapakah engkau? Ia menjawab: Aku Al-Bahili yang datang kepadamu pada satu tahun yang silam. Nabi menjawab: Apa yang membuat fisikmu berubah padahal dulu fisikmu bagus (segar). Ia menjawab: Aku tidak makan kecuali di malam hari sejak berpisah denganmu. Nabi bersabda: Mengapa engkau menyiksa dirimu sendiri? Berpuasalah di bulan sabar (Ramadhan) dan satu hari di setiap bulannya. Al-Bahili berkata: Mohon ditambahkan lagi ya Rasul, sesungguhnya aku masih kuat (berpuasa). Nabi menjawab: Berpuasalah dua hari. Ia berkata: Mohon ditambahkan lagi ya Rasul. Nabi menjawab: Berpuasalah 3 hari. Ia berkata: Mohon ditambahkan lagi ya Rasul. Nabi menjawab: Berpuasalah dari bulan-bulan mulia dan tinggalkanlah, berpuasalah dari bulan-bulan mulia dan tinggalkanlah, berpuasalah dari bulan-bulan mulia dan tinggalkanlah. Nabi mengatakan demikian seraya berisyarat dengan ketiga jarinya, beliau mengumpulkan kemudian melepaskannya. (HR Abu Dawud).

Mengomentari bagian akhir redaksi hadits di atas, Syekh Abut Thayyib Syamsul Haq al-Azhim mengatakan:

Ψ£ΩŽΩŠΩ’ ءُمْ Ω…ΩΩ†Ω’Ω‡ΩŽΨ§ Ω…ΩŽΨ§ شِئْΨͺَ وَأَشَارَ Ψ¨ΩΨ§Ω„Ω’Ψ£ΩŽΨ΅ΩŽΨ§Ψ¨ΩΨΉΩ Ψ§Ω„Ψ«ΩŽΩ‘Ω„ΩŽΨ§Ψ«ΩŽΨ©Ω Ψ₯ΩΩ„ΩŽΩ‰ Ψ£ΩŽΩ†ΩŽΩ‘Ω‡Ω Ω„ΩŽΨ§ ΩŠΩŽΨ²ΩΩŠΩ’Ψ―Ω ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩ‰ Ψ§Ω„Ψ«ΩŽΩ‘Ω„ΩŽΨ§Ψ«Ω الْمُΨͺΩŽΩˆΩŽΨ§Ω„ΩΩŠΩŽΨ§Ψͺِ ΩˆΩŽΨ¨ΩŽΨΉΩ’Ψ―ΩŽ Ψ§Ω„Ψ«ΩŽΩ‘Ω„ΩŽΨ§Ψ«Ω يَΨͺْرُكُ ΩŠΩŽΩˆΩ’Ω…Ω‹Ψ§ Ψ£ΩŽΩˆΩ’ ΩŠΩŽΩˆΩ’Ω…ΩŽΩŠΩ’Ω†Ω ΩˆΩŽΨ§Ω„Ω’Ψ£ΩŽΩ‚Ω’Ψ±ΩŽΨ¨Ω Ψ£ΩŽΩ†ΩŽΩ‘ Ψ§Ω„Ω’Ψ₯ِشَارَةَ لِΨ₯ِفَادَةِ Ψ£ΩŽΩ†ΩŽΩ‘Ω‡Ω ΩŠΩŽΨ΅ΩΩˆΩ’Ω…Ω Ψ«ΩŽΩ„ΩŽΨ§Ψ«Ω‹Ψ§ وَيَΨͺْرُكُ Ψ«ΩŽΩ„ΩŽΨ§Ψ«Ω‹Ψ§ ΩˆΩŽΨ§Ω„Ω„Ω‡Ω Ψ£ΩŽΨΉΩ’Ω„ΩŽΩ…Ω Ω‚ΩŽΨ§Ω„ΩŽΩ‡Ω Ψ§Ω„Ψ³ΩΩ‘Ω†Ω’Ψ―ΩΩŠΩΩ‘

Artinya: Maksudnya, berpuasalah dari bulan-bulan mulia, apa yang engkau kehendaki. Nabi berisyarat dengan ketiga jarinya untuk menunjukkan bahwa Al-Bahili hendaknya berpuasa tidak melebihi 3 hari berturut-turut, dan setelah 3 hari, hendaknya meninggalkan puasa selama 1 atau 2 hari. Pemahaman yang lebih dekat adalah, isyarat tersebut untuk memberikan penjelasan bahwa hendaknya Al-Bahili berpuasa selama 3 hari dan berbuka selama 3 hari. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Syekh As-Sindi. Wallahu a'lam, (Lihat: Syekh Abut Thayyib Syamsul Haq Al-Azhim, 'Aunul Ma'bud Syarh Sunan Abi Dawud, juz VII, halaman: 58).

Dari keterangan tersebut, Nabi SAW menjelaskan agar berpuasa di bulan Rajab hendaknya tidak dilakukan secara terus menerus. Akan tetapi diberi jeda waktu, misalnya 3 hari berpuasa dan 3 hari berbuka.

Sebaiknya Tidak Berpuasa Sebulan Penuh

Selain itu, seorang muslim juga tidak dianjurkan untuk melaksanakan puasa Rajab selama sebulan penuh. Para sahabat pun memakruhkan hal tersebut.

Hal ini disebutkan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya' Ulumiddin berikut ini:

ΩˆΩƒΨ±Ω‡ Ψ¨ΨΉΨΆ Ψ§Ω„Ψ΅Ψ­Ψ§Ψ¨Ψ© Ψ£Ω† ΩŠΨ΅Ψ§Ω… Ψ±Ψ¬Ψ¨ ΩƒΩ„Ω‡ Ψ­ΨͺΩ‰ Ω„Ψ§ ΩŠΨΆΨ§Ω‡ΩŠ Ψ¨Ψ΄Ω‡Ψ± Ψ±Ω…ΨΆΨ§Ω† فالأشهر الفاآلة ذو Ψ§Ω„Ψ­Ψ¬Ψ© ΩˆΨ§Ω„Ω…Ψ­Ψ±Ω… ورجب ΩˆΨ΄ΨΉΨ¨Ψ§Ω†

Artinya: Sejumlah sahabat Rasulullah SAW menyatakan makruh puasa Rajab sebulan penuh agar tidak menyerupai Bulan Ramadhan. Bulan-bulan utama itu Dzulhijjah, Muharram, Rajab, dan Sya'ban. (Lihat Abu Hamid al-Ghazali, Ihya' Ulumiddin, [Kairo: Darus Syi'ib, tanpa catatan tahun], juz III, halaman: 431).

Terkait hal di atas, Sayyid Muhammad Az-Zabidi juga menerangkan dalam karyanya Ithafus Sadatil Muttaqin sebagai berikut:

ΩˆΩƒΨ±Ω‡ Ψ¨ΨΉΨΆ Ψ§Ω„Ψ΅Ψ­Ψ§Ψ¨Ψ©) Ψ±ΨΆΩˆΨ§Ω† Ψ§Ω„Ω„Ω‡ ΨΉΩ„ΩŠΩ‡Ω… (Ψ£Ω† ΩŠΨ΅Ψ§Ω…) Ψ΄Ω‡Ψ± (Ψ±Ψ¬Ψ¨ ΩƒΩ„Ω‡ Ψ­ΨͺΩ‰ Ω„Ψ§ ΩŠΨΆΨ§Ω‡ΩŠ Ψ¨Ψ΄Ω‡Ψ± Ψ±Ω…ΨΆΨ§Ω†) ΩˆΩ„Ωˆ Ψ΅Ψ§Ω… Ω…Ω†Ω‡ Ψ£ΩŠΨ§Ω…Ψ§ وأفطر Ψ£ΩŠΨ§Ω…Ψ§ فلا ΩƒΨ±Ψ§Ω‡Ψ© (و Ψ§Ω„Ψ£Ψ΄Ω‡Ψ± الفاآلة) Ψ§Ω„Ψ΄Ψ±ΩŠΩΨ© Ψ£Ψ±Ψ¨ΨΉΨ© (ذو Ψ§Ω„Ψ­Ψ¬Ψ© ΩˆΨ§Ω„Ω…Ψ­Ψ±Ω… ورجب ΩˆΨ΄ΨΉΨ¨Ψ§Ω†) ΩˆΨ£ΩΨΆΩ„Ω‡Ω† Ψ§Ω„Ω…Ψ­Ψ±Ω… ΩƒΩ…Ψ§ Ψ³Ψ¨Ω‚ ΨΉΩ† Ψ§Ω„Ω†ΩˆΩˆΩŠ ΩˆΩ‚ΩŠΩ„ Ψ±Ψ¬Ψ¨ ΩˆΩ‡Ωˆ Ω‚ΩˆΩ„ Ψ΅Ψ§Ψ­Ψ¨ Ψ§Ω„Ψ¨Ψ­Ψ± ΩˆΨ±Ψ―Ω‡ Ψ§Ω„Ω†ΩˆΩˆΩŠ ΩƒΩ…Ψ§ ΨͺΩ‚Ψ―Ω…

Artinya: (Sejumlah sahabat) ridhwanullahi alaihim (menyatakan makruh puasa) bulan (Rajab sebulan penuh agar tidak menyerupai Bulan Ramadhan.) Tetapi kalau seseorang mau berpuasa beberapa hari di Bulan Rajab dan tidak berpuasa beberapa hari, maka itu tidak makruh. (Bulan-bulan utama) yang mulia (itu) ada empat (Dzulhijjah, Muharram, Rajab, dan Sya'ban). Yang paling utama dari semua itu adalah Bulan Muharram sebagaimana penjelasan yang lalu dari Imam An-Nawawi. Ada ulama yang mengatakan bahwa yang paling utama adalah Bulan Rajab, yaitu pendapat penulis kitab Al-Bahr. Tetapi pandangan ini ditolak oleh Imam An-Nawawi sebagaimana uraian yang lalu. (Lihat Sayyid Muhammad az-Zabidi, Ithafus Sadatil Muttaqin, [Beirut: Muassasatut Tarikh Al-Arabi, 1994 M/1414 H], juz IV, halaman: 257).

Dari keterangan ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa puasa Rajab dapat dilakukan beberapa hari. Sedangkan harinya tidak ditentukan.

Meskipun demikian, kita dapat berpuasa Rajab dengan memakai ketentuan hari-hari utama pada setiap bulan atau setiap pekan. Hari-hari tersebut seperti pada awal, pertengahan, akhir bulan, pada waktu ayyamul bidh yaitu tanggal 13, 14, dan 15, pada hari Senin, Kamis, dan Jumat.

Nah, demikianlah penjelasan tentang apakah boleh puasa Rajab dilakukan mulai di hari kedua. Semoga menjawab pertanyaan kalian ya, detikers!



(edr/urw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads