Keluarga di Manado Ngaku Lihat Video Yafet Dibunuh KKB: Dendam-Sakit Hati

Sulawesi Utara

Keluarga di Manado Ngaku Lihat Video Yafet Dibunuh KKB: Dendam-Sakit Hati

Trisno Mais - detikSulsel
Minggu, 02 Okt 2022 00:00 WIB
Tampak keluarga Yafet Jorgen Rompis korban KKB saat di rumah duka, di Kelurahan Malalayang 2 Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut).
Foto: Trisno Mais/detikcom
Manado -

Keluarga sempat menyaksikan video yang menampilkan aksi pembantaian terhadap Yafet Jorgen Rompis (53) oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Teluk Bintuni, Papua Barat. Keluarga mengaku marah dan sakit hati saat menyaksikan kekejian pelaku melalui media sosial (medsos).

"Saya sempat lihat di Facebook, karena di sana sistem mereka setelah pembantaian langsung diviralkan di sosmed, di situ keluarga lihat cara pembantaian bagaimana jelas sakit hati," kata keluarga Yafet, Anto Kosasi (39), ketika ditemui detikcom di rumah duka di Kelurahan Malalayang 2, Kota Manado, Sabtu (1/10/2022).

Anto mengatakan, reaksi keluarga ketika melihat video pembantaian tersebut tentu sangat sakit hati. Dia pun berharap pemerintah segera mengusut tuntas masalah tersebut, supaya tidak ada lagi korban ke depannya.


"Mau bilang dendam, itu ada. Tapi semua kembali ke pemerintah saja. Karena biar bagaimanapun sakit hati melihat keluarga sendiri dibantai seperti itu," katanya.

Anto menambahkan, rasa sakit hati dan marah bercampur ketika keluarga menyaksikan sendiri aksi KKB saat membantai Yafet dalam sebuah video.

"Beda kan kalau orang cerita, ini lihat sendiri. Keluarga sakit hati, marah. Semua sudah tercampur," ucapnya.

Hal serupa dikatakan oleh ibu Yafet, Hernike Kekung (74). Menurutnya korban merupakan sosok yang baik dan penyayang keluarga. Sehingga nasib nahas yang dialami Yafet membuatnya sakit hati.

"Dia kasihan anak baik, kalau dia datang selalu cium dan peluk saya. Saya sakit hati, soalnya dia baik sekali pada saya dan adik-adiknya," ucap ibunya sembari menetaskan air mata.

Hernike mengatakan dia terakhir kali bertemu sang anak saat korban hendak balik ke Papua. Kini ia hanya bisa bertemu jasad sang anak.

"Terakhir dia datang kami antar ke Kota Bitung saat mau naik kapal ke Papua. Kurang itu terakhir bertemu, sekarang tinggal melihat mayat," imbuhnya.

Dia mengaku merasa begitu kehilangan sosok korban. Menurutnya, kini anak-anak tersisa 3 orang.

"Mereka 4 bersaudara, dia anak kedua tertua. Dia itu anak yang baik kepada orang tua," pungkasnya.



Simak Video "Upaya Mengembalikan Masyarakat Kiwirok Agar Rayakan Natal di Kampung Halaman"
[Gambas:Video 20detik]
(alk/hmw)