Warga di Manado Keluhkan Jalan Beton Sepanjang 200 Meter Dibongkar

Sulawesi Utara

Warga di Manado Keluhkan Jalan Beton Sepanjang 200 Meter Dibongkar

Trisno Mais - detikSulsel
Sabtu, 01 Okt 2022 21:10 WIB
Warga di Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut) mengeluhkan pembongkaran jalan beton sepanjang 200 meter.
Foto: Trisno Mais/detikcom
Manado -

Warga di Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut) mengeluhkan pembongkaran jalan beton sepanjang 200 meter. Warga menuding pihak kelurahan yang melakukan pembongkaran.

"Lurah yang suruh bongkar. Padahal ini jalan tua dari dulu kami masih kecil-kecil, dan jalan ini dihibahkan AA Maramis," kata salah satu warga Kairagi I, Manado Nonce Lumempouw (52) ketika ditemui di rumahnya, Sabtu (1/10/2022).

Pembongkaran akses jalan beton tersebut dilakukan pada Rabu (28/9). Akibatnya warga setempat mengaku kesulitan melintas dan harus berjalan kaki.


"Jauh sekali kalau jalan kaki, kalau mau bawa barang lumayan jauh. Karena jalan sudah dibongkar. Jadi kalau ada barang kami kesulitan," kata Nonce Lumempouw.

Nonce mengaku kecewa dengan pembongkaran jalan tersebut. Apalagi pembangunan jalan itu dilakukan secara swadaya oleh warga.

"Ini jalan kami yang bikin, swadaya masyarakat. Sudah pengerasan, harusnya, lurah itu berupaya mediasi agar jalan jangan dulu dibongkar sambil menunggu proses hukum selesai," jelasnya.

Terpisah, Lurah Kairagi I, Robinson Kapong mengatakan bahwa pihaknya tidak melakukan pembongkaran. Namun, jalan tersebut dibongkar karena berada di atas lahan pemilik sertifikat atas nama Engelin Jauwri.

"Pemerintah kelurahan Kairagi Satu tidak pernah memerintahkan untuk membongkar jalan tersebut, yang melakukan penggusuran pemilik sertifikat tanah atas nama Engelin Jauwri," jelasnya.

Dia pun menjelaskan bahwa jalan yang dibongkar bukan dibangun warga. Namun jalan itu dibuat oleh pihak lain tanpa minta izin pemilik lahan yang mengantongi sertifikat, juga tanpa pemberitahuan pihak pemerintah.

"Jalan itu dibuat sekitar bulan Mei kalau tidak salah. Itu bukan jalan warga, jalan itu dibuat oleh pihak lain tanpa minta ijin pemilik sertifikat, dan juga tanpa pemberitahuan pihak pemerintah," katanya.

Robin mengatakan bahwa jalan tersebut bukan akses satu-satunya, namun hanya jalan alternatif. Jadi menurut dia, aktivitas masyarakat tetap berjalan seperti biasa, karena ada jalan lain yang menghubungkan dengan pemukiman warga.

"Masyarakat seputaran itu tahu bahwa itu bukan jalan umum, tapi hanya jalan alternatif ketika mereka ke kebun, jalan utama warga ada di samping gereja," kata dia.



Simak Video "Olahan Kopi Tepat yang menghasilkan Kopi Nikmat, Manado"
[Gambas:Video 20detik]
(hsr/alk)