Akademisi Unhas Sorot Komunikasi Pemerintah Soal Kisruh Rel KA Makassar

Nurul Istiqamah - detikSulsel
Kamis, 11 Agu 2022 19:44 WIB
Forum Group Discussion yang digelar Unhas di Hotel Claro Makassar.
Foto: Forum Group Discussion yang digelar Unhas di Hotel Claro Makassar. (Nurul Istiqamah/detikSulsel)
Makassar -

Akademisi Universitas Hasanuddin (Unhas) menyoroti komunikasi pemerintah yang harus diperbaiki terkait kisruh beda konsep pembangunan rel kereta api (KA) di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Menurutnya polemik ini tidak perlu terus berkepanjangan.

Rencana desain rel KA segmen Makassar dibuat at grade (elevated) yang ditetapkan Balai Pengelola Kereta Api (BPKA) Sulsel, diketahui diprotes Wali Kota Makassar Danny Pomanto yang kekeh ingin konstruksinya dibuat melayang atau elevated.

"Kalau saya lihat ini soal komunikasi pimpinan, saya pikir komunikasi hak wali kota adalah komunikasi stakeholder yang harus diperbaiki," terang Dosen Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) Fajlurrahman Rusdi dalam keterangannya, Kamis (11/8/2022).


Hal itu mengemuka forum focus grup discussion (FGD) yang digelar Universitas Hasanuddin (Unhas) di Hotel Claro Makassar, Kamis (11/8). Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah pakar dan akademisi.

"Tolong komunikasi pemerintah pusat, pemerintahan provinsi dan badan usaha yang melaksanakan ini harus baik karena kalau komunikasinya patah-patah ini bisa berbahaya," sambungnya.

Menurut Fajlurrahman, narasi penolakan desain rel kereta api at grade di Makassar bisa menimbulkan polemik di masyarakat. Padahal persoalan ini bisa diselesaikan dengan duduk bersama antar stakeholder terkait.

"Misal 'ditolak', (atau narasi) 'tidak bisa', itu yang berbahaya sekali kalau kata-kata itu yang keluar karena jalan hukum. Kalau kata-kata itu muncul di publik kita tidak bisa mencari titik temu," paparnya.

Pada kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Teknik Unhas Prof Isran Ramli menilai, perselisihan terkiat desain rel kereta api tidak perlu terjadi. Seharusnya pemerintah harus satu suara terkait kebijakan pembangunan saat ini.

"Struktur hierarki kebijakan beroperasi dan struktur kebijakan pemerintah itu harus satu bahasa tentunya. Kan di situ kuncinya. Sehingga memang dikotomi antara at grade dan elevated perlu segera dipadamkan ya. Tidak usah kita perselisihkan itu," ujar Isran Ramli.

Apalagi pembangunan kereta api ini ada tenggat waktunya. Jangan sampai rencana penyelesaian proyek strategis nasional itu terhambat hanya karena persoalan tersebut.

"Pemerintah apakah dari kota kabupaten daerah duduk bersama. Selesaikan. Kita masyarakat tidak mau tahu. Itu timetable-nya ada. Selesai gitu," tegasnya.

Isran menilai kebijakan konstruksi rel KA di Makassar dibuat at grade sudah tepat dari perspektif teknik perencanaan transportasi. Sebab, kebanyakan perkotaan atau negara memang jalur KA antar kotanya dibangun at grade.

"Kondisi at grade itu lebih banyak digunakan untuk kereta api antar kota. Pertanyaannya, rel kita yang diperdebatkan itu sifatnya antar kota atau perkotaan? Silahkan dijawab sendiri," ujar Isran Ramli.

Selain itu konstruksi rel at grade turut mempertimbangkan kondisi tanah yang dilaluinya. Jika cenderung datar dan tanpa medan terjal, akan lebih tepat menggunakan skema at grade.

"Kondisi lahan yang relatif datar memang tentunya lebih tepat dan efisien kita pakai konstruksi rel yang at grade sedangkan kondisi lahan yang bervariasi kita lebih cocok pakai elevated," pungkasnya.

Sementara Budayawan Sulawesi Selatan Asmin Amin menyayangkan polemik pembangunan kereta api di Makassar. Situasi ini bisa menghambat rencana pembangunan hingga proyek terancam mangkrak.

"Ini adalah proyek strategis nasional, ini harus jadi sebelum Jokowi turun. Dan kalau bulan November ini proyek belum jelas, dana itu dikembalikan dan dianggap sebagai proyek mangkrak," tukasnya.

Plt Dirjen Perkeretaapian RI Zulmafendi berharap agar seluruh tatanan masyarakat mau bekerja sama dalam menyelesaikan pembangunan kereta. Sampai dengan dilakukannya uji coba pada Oktober tahun ini.

"Saya memohon agar seluruh tatanan masyarakat mau bekerja sama agar pembangunan rel kereta api ini dapat diselesaikan dengan baik," harapnya.



Simak Video "Detik-detik Mahasiswa Baru Unhas Diusir Lantaran Pilih Non-Binary"
[Gambas:Video 20detik]
(sar/asm)