Berita Internasional

Latihan Besar-Besaran RI-AS Dinilai Dapat Membuat China Meradang!

Tim detikNews - detikSulsel
Kamis, 04 Agu 2022 18:31 WIB
Helikopter militer Eurocopter AS565 Panther skadron udara 400/anti kapal selam TNI Angkatan Laut mendarat di atas kapal KRI I Gusti Ngurah Rai.
Foto: ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani
Jakarta -

Pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie menilai latihan militer gabungan Indonesia-AS dipandang oleh China sebagai ancaman. Latihan militer gabungan yang dilakukan melibatkan sejumlah negara di kawasan Indo-Pasifik

Connie menyebut latihan militer gabungan Indonesia-AS bisa membuat China meradang. Sebab, latihan militer tersebut hanya melibatkan negara-negara aliansi Amerika Serikat.

"Yang perlu dipertanyakan adalah mengapa latihan gabungan ini hanya diikuti oleh negara-negara aliansi Amerika Serikat? Tentu saja ini berpotensi menimbulkan pertanyaan di mata China," kata Connie seperti dilansir dari detikNews, Kamis (4/8/2022).


Kepada DW Indonesia, Connie juga mengkritik Indonesia atas latihan militer gabungan tersebut. Menurutnya, Indonesia harus mampu memainkan perannya secara non-blok.

"Indonesia seharusnya mampu memainkan perannya secara non-blok dengan juga mengundang negara-negara di luar sekutu AS untuk menjalankan latihan militer," ujarnya.

Sementara itu, media pemerintah China turut menuding dan menyebut hal tersebut sebagai sarana yang secara sengaja memprovokasi konflik. Ia menilai latihan gabungan tersebut digunakan AS untuk membangun aliansi Indo-Pasifik yang serupa dengan NATO.

Latihan Militer Indonesia-AS untuk Perkuat Pasukan Darat

Latihan militer gabungan Indonesia-AS yang dilakukan melibatkan lebih dari 5.000 pasukan. Kedutaan Besar AS di Jakarta menyebut latihan tersebut dirancang untuk memperkuat interoperabilitas, kemampuan, kepercayaan, dan kerja sama dalam mendukung Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka.

"Ini adalah simbol ikatan AS-Indonesia dan hubungan yang berkembang antara pasukan darat di wilayah penting ini," ungkap Komandan Jenderal Angkatan Darat AS Pasifik, Jenderal Charles Flynn, Kamis (4/8).

"Karena pasukan darat adalah perekat yang menyatukan arsitektur keamanan kawasan," imbuhnya.

Selain Amerika dan Indonesia, beberapa negara lainnya turut mengirimkan personil untuk mengikuti latihan gabungan bertema Super Garuda Shield. Latihan gabungan tersebut diagendakan akan berlangsung selama dua pekan di pulau Sumatra dan Kepulauan Riau.

Pembentukan pasukan latihan gabungan digagas oleh TNI dengan bekerja sama dengan militer Amerika Serikat. Dalam latihan gabungan yang dimulai sejak 1 Agustus tersebut, pasukan militer dari beberapa negara seperti Jepang, Australia, dan Singapura juga turut bergabung.

Latihan bersama ini disebut menandakan hubungan yang lebih kuat di tengah meningkatnya aktivitas maritim oleh China di kawasan Indo-Pasifik.

Dalam latihan militer gabungan tersebut, pasukan Jepang turut berpartisipasi untuk pertama kalinya. Jepang menilai bahwa hal tersebut guna mempromosikan visi keamanan dan perdagangan Indo-Pasifik yang "bebas dan terbuka" dengan AS dan negara-negara demokrasi lainnya di kawasan itu.

Latihan Militer Dilakukan Merespons Ancaman China

Latihan militer gabungan yang diagendakan berlangsung hingga 14 Agustus merupakan respons atas ancaman China setelah kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan China menyatakan akan melakukan serangkaian operasi militer yang ditargetkan untuk "menjaga kedaulatan nasional". China juga terlihat semakin agresif dalam menyatakan klaimnya atas hampir seluruh Laut China Selatan.

Sementara itu, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal AS Mark Milley mengungkapkan meningkatnya jumlah penyadapan oleh pesawat dan kapal China di kawasan Pasifik terhadap AS menjadi salah satu alasan sehingga latihan militer gabungan ini dilakukan. Ia menyebut, penyadapan itu meningkat secara signifikan dalam lima tahun terakhir.

Tidak hanya dilakukan terhadap AS, China juga melakukan penyadapan terhadap pasukan mitra lainnya. Jumlah interaksi yang tidak aman juga disebut telah meningkat dengan proporsi yang sama.

"Pesannya adalah militer China, di udara dan di laut, telah menjadi lebih agresif secara signifikan di wilayah ini," papar Milley bulan lalu selama perjalanan ke Indo-Pasifik, termasuk di Indonesia.

Milley menilai Indonesia secara strategis sangat penting bagi kawasan ini dan telah lama menjadi mitra utama AS. Pada awal tahun ini, AS menyetujui penjualan jet tempur canggih senilai 13,9 miliar dolar AS ke Indonesia.



Simak Video "Antisipasi Badai, Warga Florida Diminta Stok Bahan Makanan dan Evakuasi"
[Gambas:Video 20detik]
(urw/sar)