PMK Makassar Tembus 162 Kasus gegara Pedagang Langgar Aturan Karantina

Nurul Istaqamah - detikSulsel
Kamis, 04 Agu 2022 06:14 WIB
Petugas mengambil sampel pemeriksaan kerbau suspek PMK di Toraja
Foto: Ilustrasi kasus PMK di Makassar. (Istimewa)
Makassar -

Kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) mengalami tren peningkatan mencapai 162 kasus positif. Kenaikan kasus ini dianggap gegara pedagang ternak yang melanggar aturan karantina.

"Kan memang trennya, namanya virus juga dia akan naik dan pada saatnya akan turun juga," tutur Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Perikanan dan Pertanian (DP2) Kota Makassar Andi Herliyani kepada detikSulsel, Rabu (3/8/2022).

Dari data DP2 Kota Makassar hingga 3 Agustus 2022, dilaporkan ada 162 ternak positif PMK, baik sapi dan kerbau. Total laporan tersebut terhitung sejak kasus PMK pertama di Makassar dilaporkan pada 9 Juli lalu.


Dari 162 kasus ternak terjangkit PMK tersebut, ada 7 di antaranya yang dinyatakan mati, 28 ternak dipotong, 44 sembuh dari gejala klinis. Dengan demikian, tersisa 83 ternak yang masih positif PMK di Makassar.

"Kegiatan teman-teman kan untuk surveilans tracking dengan (ternak) yang sakit, kemudian dilanjutkan kalau memang didapati ada gejala klinik dilakukan pengobatan, pemberian antibiotik dan pemberian vitamin," urai dia.

Hanya saja Herliyani menuturkan, upaya pengendalian penularan PMK ini kurang mendapat dukungan dari pedagang atau peternak. Komunikasi informasi dan edukasi (KIE) terkait penanganan dan pencegahan PMK tidak dijalankan dengan maksimal.

"Berkali-kali kita memberikan mereka edukasi. Kalau di peternak sudah ditemukan yang sakit sampai beberapa seharusnya itu diisolasi, dipisahkan dengan yang sehat," ujarnya.

Namun aturan karantina ternak tidak ditaati sepenuhnya. Upaya pemisahan hewan ternak yang sakit dengan sehat, hingga membatasi pergerakan ternak di kandang tidak dijalankan.

"Nah ini kelihatannya masyarakat banyak tidak mengindahkan edukasi yang kita berikan. Harusnya seperti itu, tapi dia malah tetap menggabungkan yang sakit, tidak ada pemisahan," urai Herliyani.

Kondisi ini akhirnya memicu penularan menjadi lebih cepat. Hingga akhirnya kasus ternak terjangkit PMK semakin bertambah.

"Ada juga yang harusnya diobati juga belum seharusnya dia umbar, dia sudah keluarkan dari kandangnya digabung dengan ternak lain. Inilah salah satu penyebab penyebaran virus sampai saat ini masih bertambah. Itu salah satu faktornya," bebernya.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.