Demokrat Maros Kritik Sistem Ketua DPD Dipilih DPP: Harusnya Tak Usah Musda!

Fathul Khair - detikSulsel
Rabu, 01 Jun 2022 14:45 WIB
Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) kembali menegaskan akan mesin politik Partai Demokrat di Sulawesi Selatan untuk selalu dan tetap kompak.
Musda Demokrat Sulsel yang digelar Desember 2021 lalu (Foto: dok. Demokrat)
Makassar -

Ketua DPC Demokrat Maros Amirullah Nur Saenong mengkritik DPP Demokrat yang disebutnya mestinya sejak awal transparan sudah ada kandidat yang dipilih atau diinginkan memimpin DPD Sulsel. Sehingga tak perlu lagi ada ada pemilihan ketua saat Musda Demokrat Sulsel.

"Harusnya dari awal disebutkan bahwa DPP (Demokrat) sebenarnya masih menghendaki Pak Ni'matullah. Jadi tidak perlu lagi ada pemilihan, supaya jangan kita terpecah belah begini," kata Amirullah kepada detikSulsel, Rabu (1/6/2022).

Dia menuding Kepala BPOKK DPP Demokrat Herman Khaeron sebagai biang kerok perpecahan. Dia menilai Herman Khaeron tidak transparan terkait calon ketua Demokrat Sulsel yang diinginkan DPP. Seperti diketahui Herman Khaeron menjadi utusan DPP saat pelaksanaan Musda Demokrat Sulsel pada Desember 2021 lalu.


"Biang kekisruhan Demokrat di Sulsel ini adalah Kepala BPOKK. DPP harus mengevaluasi ini," tegasnya.

Sehingga dia menyebutkan, wajar loyalis IAS kecewa dan memberi isyarat bakal meninggalkan partai. Sebab mereka menilai Musda Demokrat Sulsel tersebut hanya formalitas saja.

"(Kepala BPOKK) Tidak usah basa-basi menahan kader (meninggalkan Demokrat). Apa haknya menahan, sedangkan dia sendiri membuat Musda di Sulsel kacau," tegasnya.

Menurutnya, Herman Khaeron mestinya menyampaikan dinamika yang terjadi di Musda saat itu secara transparan kepada Ketum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Sekjend Teuku Riefky Harsya. Ada dinamika penolakan laporan pertanggungjawaban (LPJ) Ni'matullah dari 16 DPC.

"Seharusnya BPOKK (Herman Khaeron) menjelaskan ke Ketum (AHY) dan Sekjend (Teuku Riefky Harsya) bahwa 16 DPC menolak LPJ Ni'matullah. Kalau ditolak tidak boleh maju (calon ketua) lagi, karena ada catatan," tutup Amirullah.

Untuk diketahui, efek domino Musda Demokrat Sulsel ini membuat Ilham Arief Sirajuddin (IAS) yang mendapat dukungan 16 DPC saat Musda memilih hengkang ke Golkar. IAS menilai lebih mendapat dukungan mayoritas karena Ni'matullah hanya didukung 8 DPC.

Pindahnya IAS kemudian membuat 10 Ketua DPC Demokrat yang menjadi loyalis IAS saat musda mengisyaratkan akan ikut meninggalkan Demokrat.

Mereka yang dikabarkan akan ikut angkat kaki dari partai Demokrat, yakni Ketua DPC Demokrat Pinrang sekaligus Bupati Pinrang Irwan Hamid, Ketua DPC Demokrat Maros Amirullah Nur, Ketua DPC Demokrat Wajo Rahman Rahim, Ketua DPC Demokrat Barru Irmawaty Syahrir, Ketua DPC Demokrat Bulukumba Murniaty.

Selain itu, Ketua DPC Demokrat Bantaeng Muh Arasy, Ketua DPC Demokrat Luwu Utara Ansar Akib, Ketua DPC Demokrat Toraja Utara Hatsen Bangri, Ketua DPC Demokrat Sinjai Muh Nasyit Umar, dan Ketua DPC Demokrat Takalar Japri Y Timbo.

Kepala BPOKK DPP Demokrat Herman Khaeron sebelumnya berharap tidak ada lagi kader di Sulsel yang menyusul IAS meninggalkan partai Demokrat.

"Saya belum mendapat konfirmasi tentang hal ini. Tapi kami yakin para ketua DPC (Demokrat di Sulsel) tetap bersama partai Demokrat," ujar Kepala BPOKK DPP Partai Demokrat Herman Khaeron kepada detikSulsel, Selasa (31/5).



Simak Video "Demi Rp 10 Juta, Kepala Dusun di Sulsel Nekat Jadi Kurir Sabu"
[Gambas:Video 20detik]
(tau/nvl)