Sulsel Harus Kebut Vaksinasi Booster Demi Cegah Klaster COVID Saat Mudik

Tim detikSulsel - detikSulsel
Minggu, 27 Mar 2022 07:00 WIB
Hand in blue medical gloves holding a vaccine vial with Covid 19 Vaccine Booster text, for Coronavirus booster shot.
Ilustrasi vaksin booster (Foto: Getty Images/iStockphoto/SilverV)
Makassar -

Pelonggaran mudik dikhawatirkan memicu terjadinya klaster COVID di Sulsel karena laju penularan kasus masih tinggi di komunitas. Maka vaksinasi booster yang menjadi syarat mudik perlu dikebut karena cakupannya masih di bawah 5%.

"Efektivitas vaksin itu sekitar seminggu setelah pemberian. Sehingga kalau bisa booster ini lebih awal lagi sebelum ada pergerakan mudik," ungkap Prof Ridwan kepada detikSulsel, Sabtu (26/3/2022).

Di Sulsel saat ini positivity rate masih di kisaran 10-15% mengindikasikan peredaran COVID-19 masih tinggi di komunitas. Sehingga kebijakan wajib booster ini dinilainya sebagai salah satu upaya untuk menekan laju penularan kasus.


"Mudik berpotensi menyebarkan COVID dari kota ke desa atau ke tempat tujuan. Terutama pemudik yang berasal dari episentrum COVID-19. Sehingga klaster mudik mesti diwaspadai," jelasnya.

Sehingga penerapan aturan wajib booster untuk mudik ini akan menggenjot cakupan vaksinasi ketiga di Sulsel yang masih di bawah 5%. Namun dinilainya penerapan kewajiban vaksinasi bakal menantang.

"Waktunya singkat dan mudik yang cenderung lebih awal berpotensi membuat kebijakan ini tidak maksimal di lapangan apalagi bila akses ke booster terbatas. Sehingga mobilisasi program harus sangat masif dan terstruktur," urainya.

Kendati kasus aktif COVID-19 di Sulsel dalam tren melandai namun menurutnya pemerintah masih harus kerja keras untuk bisa masuk ke fase endemi. Apalagi laju penularan dan bed occupancy ratio (BOR) masih di atas 5%.

"Tentu ada syarat untuk bisa masuk fase endemi. Sulsel masih perlu upaya ekstra untuk menuju ke sana. Positivity rate dan BOR masih tinggi," tuturnya.

Sementara di sisi lain, Dinkes Sulsel sebelumnya mengungkap animo warga untuk disuntik vaksin booster masih rendah. Padahal vaksin booster menjadi syarat mudik sesuai yang ditetapkan pemerintah.

"Ketersediaan vaksin cukup termasuk booster. Itu ada (stoknya). Namun antusiasme warga untuk booster masih rendah," ungkap Plt Kepala Dinkes Sulsel dr Arman Bausat kepada detikSulsel, Jumat (25/3).

Sesuai update data Satgas COVID-19 Sulsel yang diterima Jumat (25/3), total suntikan dosis ketiga atau booster cakupannya baru 252.512 orang atau 3,58% dari sasaran.

Ini mencakup masyarakat umum/rentan sebanyak 154.771 orang atau 3,39% dari target, lanjut usia (lansia) sebanyak 16.568 atau 2,20% dari target, petugas publik 36.620 atau 5,27% dan petugas kesehatan 42.827 atau 72,76%.

"Stoknya masih jutaan dosis ini termasuk booster. Yang sekarang jadi masalah itu orang yang mau vaksin. Susah sekali ada yang mau vaksin (booster)," bebernya.

Padahal menurutnya, layanan vaksin booster bahkan sudah bisa dilakukan sampai di tingkat puskesmas. Namun kondisinya animo warga masih sangat rendah untuk melakukan suntikan booster. Sehingga untuk membuka gerai-gerai khusus booster pemudik belum memungkinkan.

"Kalau hanya 3 atau 5 orang saja yang datang, kan lebih banyak ruginya kita buka gerai khusus booster untuk pemudik. Kasihan SDM kita di lapangan," jelasnya.

Sesuai data yang diterima Jumat (25/3), stok vaksin di Sulsel sebanyak 1.916.672 dosis. Terbanyak stok di Dinkes Sulsel tersedia 983.564 dosis. Kemudian di Bone ada 140.159 dosis. Daerah lain di Sulsel juga stok vaksinnya tersedia.



Simak Video "Epidemiolog: Selain Booster, Harus Ada Opsi Lain untuk Syarat Mudik"
[Gambas:Video 20detik]
(tau/sar)