Utang Luar Negeri Indonesia mencapai US$ 433,4 miliar pada Maret 2026, dengan pertumbuhan melambat. ULN pemerintah tumbuh 3,8%, sementara ULN swasta turun.
Prasasti Center for Policy Studies memperingatkan bahwa konflik Timur Tengah dapat memicu lonjakan harga minyak, berpotensi memperburuk defisit anggaran.
Pemerintah RI berhasil mengumpulkan Rp 45,34 triliun dari penerbitan SBN Valas. Permintaan investor global menunjukkan minat tinggi terhadap surat utang RI.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan utang pemerintah mencapai Rp 9.920 triliun, namun masih dalam batas aman dengan rasio 40,75% terhadap PDB.
Ketua Banggar DPR RI, Said Abdullah, menanggapi rumor pelebaran defisit APBN di atas 3%. Ia menekankan pentingnya kajian dan disiplin fiskal untuk ekonomi.