Presiden Korsel, Lee Jae Myung, berjanji untuk "menghormati" sistem politik Korut. Lee juga bertekad membangun "kepercayaan militer" antara Seoul dan Pyongyang.
Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 disebarkan melalui bahasa daerah untuk mengelabui sensor Jepang. Bahasa Jawa dan Madura jadi alat perjuangan wartawan.