Harga cabai yang tidak stabil kerap membuat masyarakat harus merogoh kocek lebih dalam. Di tengah kondisi ekonomi yang belum menentu, menanam cabai sendiri di rumah bisa menjadi salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan dapur.
Cabai merah ternyata dapat ditanam di berbagai wilayah, baik dataran rendah maupun dataran tinggi. Dilansir dari laman resmi Dinas Pertanian dan Pangan Magelang, tanaman cabai merah dapat tumbuh di ketinggian 0-1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Tanah yang cocok untuk menanam cabai adalah tanah yang gembur dengan tekstur remah dan tidak terlalu padat. Tingkat keasaman atau pH tanah yang ideal berada di kisaran 6-7.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, bagaimana cara menanam cabai di rumah agar bisa tumbuh subur?
Cara Menanam Cabai di Rumah
Menanam cabai tidak bisa dilakukan sembarangan. Waktu penanaman yang tepat disebut saat musim hujan. Tanaman cabai juga lebih baik ditanam ketika kondisi udara cukup lembap dibandingkan saat udara kering.
Berikut tahapan menanam cabai di rumah:
1. Rendam Benih Cabai
Langkah pertama adalah memilih benih cabai berkualitas. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui kualitas benih adalah dengan merendamnya menggunakan air hangat bersuhu sekitar 50 derajat Celsius.
Benih yang berkualitas pada umumnya akan tenggelam di dalam air.
2. Semai Benih Cabai
Setelah mendapatkan benih yang sesuai, tahap berikutnya adalah menyemainya. Benih dapat ditanam pada media yang terdiri dari campuran tanah dan pupuk kandang atau kompos dengan perbandingan 1:1.
Media tersebut kemudian ditempatkan di wadah atau polybag. Setelah benih disemai, area tersebut ditutup menggunakan daun pisang selama 2-3 hari.
Tanaman cabai kemudian mulai tumbuh secara perlahan sekitar 7-8 hari berikutnya. Setelah tumbuh, benih dapat dipindahkan ke pot yang lebih besar dengan campuran tanah yang sama.
Selama proses tersebut, tanaman cabai perlu disiram setiap hari.
3. Pindahkan Tanaman ke Tanah
Ketika tanaman cabai sudah semakin besar, tanaman dapat dipindahkan ke tanah agar pertumbuhannya lebih optimal.
Buat area tanam dengan lebar sekitar 1-1,2 meter dan tinggi 30 cm. Area tersebut nantinya berbentuk seperti gundukan tanah.
Jika kondisi tanah sebelum ditanami cukup kering, tanah dapat dicampur dengan pupuk dasar berupa pupuk kandang kuda atau sapi serta pupuk buatan.
Pupuk susulan berupa urea, ZA, dan KCL dapat diberikan sebanyak tiga kali, yakni saat tanaman berusia 3, 6, dan 9 minggu setelah bibit ditanam.
Takaran pupuk dapat disesuaikan dengan luas area tanah yang digunakan. Setelah itu, tanah dapat ditutup dengan plastik mulsa berlubang, kemudian tanaman cabai muda dimasukkan ke dalam lubang tersebut.
4. Rutin Merawat Tanaman Cabai
Tanaman cabai yang sudah ditanam tetap perlu dirawat. Setelah 1-2 minggu, periksa kondisi tanaman untuk mengetahui apakah ada bibit yang mati atau sakit.
Jika ditemukan bibit yang mati atau sakit, segera singkirkan dari area tanam.
Sementara itu, tanaman cabai yang tumbuh dengan baik perlu disiram secara rutin. Jika tanaman sudah tumbuh tinggi, tambahkan bambu kecil sebagai penyangga agar batang tanaman tidak tumbuh ke samping.
5. Tunggu hingga Masa Panen
Waktu panen cabai dapat berbeda tergantung lokasi penanamannya.
Jika ditanam di dataran rendah, cabai dapat dipanen sekitar dua bulan lebih atau 70-75 hari. Sementara itu, tanaman cabai yang ditanam di dataran tinggi membutuhkan waktu sekitar 4-5 bulan untuk memasuki masa panen.
Saat masa panen tiba, perhatikan kondisi buah cabai. Jika terdapat buah yang rusak, segera singkirkan.
Waktu pemanenan juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Jika cabai akan dikirim ke daerah yang jauh, pemanenan sebaiknya dilakukan ketika buah masih berwarna hijau.
Namun, jika cabai digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, buah dapat dipanen ketika sudah berubah warna menjadi merah.
Dengan menanam sendiri, kebutuhan cabai di rumah bisa dipenuhi dari kebun sendiri. Cara ini bisa menjadi alternatif ketika harga cabai sedang mengalami kenaikan atau tidak stabil.
(das/das)
