Membeli rumah tujuannya tidak hanya untuk ditempati. Banyak diantaranya membeli untuk investasi, seperti rumahnya disewakan sehingga mendapat penghasilan per bulannya.
Dengan menyewakan rumah, pemiliknya tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk mengecek unit setiap hari. Unit bisa terawat oleh penyewa dan pembayaran iuran rutin bisa ditanggung oleh penyewa.
Sayangnya, investasi di bidang properti ini terkadang tidak berhasil di semua orang. Alasannya mereka tidak memahami caranya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut konsultan sekaligus pengamat properti Anton Sitorus sebelum berinvestasi ketahui dulu bentuknya. Terdapat 2 jenis investasi, yakni direct investment atau investasi langsung dan indirect investment atau investasi tidak langsung. Apa bedanya?
Direct investment biasanya investasi yang dilakukan melalui aset fisik suatu properti, misalnya tanah, rumah, maupun bangunan. Sementara itu, indirect investment berupa saham maupun Real Estate Investment Trust (REIT).
"Kalau di luar negeri, orang investasi properti itu nggak harus beli rumah atau apartemen atau beli toko atau tanah kalau di negara-negara maju. Karena kan lahan sangat terbatas, aset-aset itu kan jarang. Banyak yang bilang kalau di Singapura dan Amerika itu investasinya ya melalui REIT tadi," ungkapnya kepada detikProperti, Selasa (25/6/2024).
Skema REIT ini mirip seperti saham. Bedanya kalau menjalankan REIT, orang membeli kepemilikan di suatu proyek properti, bukan di suatu perusahaan.
"Kalau saham itu kan kita membeli suatu kepemilikan di suatu perusahaan. Kalau REIT ini kita membeli kepemilikan di suatu proyek properti, jadi bukan membeli kepemilikan di perusahaan. Yang paling banyak kayak misalnya mal, hotel, apartemen, pergudangan," tuturnya.
Setelah tahu dua jenis investasi tersebut, kali ini kita harus jeli untuk mencari produk yang tepat. Sama seperti jual beli di luar sana, konsumen pasti mencari produk yang paling banyak untungnya. Oleh karena itu, sebelum menjadi sebuah rumah jadi produk investasi, minimal pemilik rumah sudah mempertimbangkan hal berikut.
1. Bedakan Properti untuk Investasi dengan Keperluan Pribadi
Membeli properti untuk kebutuhan investasi dengan keperluan pribadi adalah produk yang berbeda. Jika membeli rumah untuk keperluan pribadi, hal yang harus dipertimbangkan adalah lokasinya dekat dengan keluarga, dekat dengan tempat kerja, dekat dengan sekolah atau rumah sakit, dan lainnya.
"Kalau kita beli properti untuk investasi, yang jadi prioritas adalah perkembangan lokasi itu. Bukan kebutuhan kita. Jadi mesti dibedakan (membeli properti) untuk investasi atau kebutuhan sendiri," ujar Anton.
Sementara, untuk rumah yang ingin diinvestasikan, seperti disewakan harus dekat dengan tujuan konsumen. Sebagai contoh detikers ingin buat kontrakan khusus untuk pekerja. Otomatis, lokasi kontrakan tersebut harus dekat dengan pusat perkantoran. Sebab jarak merupakan salah satu kunci konsumen ingin menyewa.
2. Tentukan Lokasi
Seperti dibahas sebelumnya, lokasi merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi minat. Selain itu, lokasi juga menentukan harga properti. Semakin strategis lokasinya, nilai properti bisa sangat tinggi.
"Lokasi itu kan faktor yang mempengaruhi juga banyak. Apakah lokasi itu masuk kategori yang baru berkembang atau lokasi yang sudah sunset lalu apakah lokasi itu karakternya perumahan, komersial atau industri, macam-macam jadinya," kata Anton.
3. Tentukan Jenis Aset Properti
Jika sudah menentukan tujuan dan lokasi, pemilik properti perlu menentukan jenis aset properti yang ingin dibangun atau dikembangkan. Jenis aset properti sangat banyak, misalnya di area komersial, residensial, maupun industrial.
"Nilai strategis atau kelebihan dari suatu, contohnya tanah, tanah untuk residensial kalau dibandingkan dengan tanah komersial itu faktor yang mempengaruhinya bisa berbeda. Kalau faktor yang mempengaruhi tanah residensial itu lebih kepada kenayamanan, lalu keasrian. Sementara kalau yang komersial lebih kepada keramaian, lalu traffic, jadi kita nggak bisa pukul rata. Properti itu sangat unik artinya antara satu tipe properti dengan yang lainnya itu beda sehingga mempengaruhi cara kita berinvestasi," jelasnya.
Investasi Lahan
Jika ingin berinvestasi properti dalam bentuk lahan, sebaiknya perhatikan juga peruntukannya. Misalnya, lahan pertanian, lahan residensial, lahan industri, atau lahan komersial. Sebab, harga dan return atau keuntungan yang didapatkan juga berbeda.
Lahan pertanian merupakan lahan dengan nilai yang paling murah dan keuntungan yang tidak terlalu besar. Sementara itu, lahan komersial adalah lahan yang bisa mendatangkan cuan atau keuntungan yang cukup tinggi.
"Tanah itu ada tingkatan-tingkatan menurut nilai. Tanah pertanian itu nilainya paling rendah. Kayak tanah sawah itu saking murahnya orang menghitungnya nggak per meter tapi per hektare," paparnya.
Setingkat di atas tanah pertanian, ada tanah residensial atau hunian. Tanah residensial biasanya digunakan untuk hunian atau perumahan. Umumnya, harganya berkisar dari ratusan ribu rupiah hingga puluhan juta rupiah per meter persegi.
"Yang lebih tinggi lagi nilainya adalah tanah komersial. Tanah komersial ini dijual lokasinya di pinggir-pinggir jalan raya yang lokasinya strategis lah," tuturnya.
Selanjutnya ada juga lahan industri. Lahan Industri biasanya digunakan untuk bangun pabrik maupun pergudangan.
"Karena tingkatan-tingkatan itu, kita kalau mau investasi harus lihat-lihat. Kalau tanah sawah ya artinya itu paling rendah (nilainya), tapi kita tahu tanah sawah atau perkebunan itu nanti akan ada pembangunan, misalnya itu bakal jadi perumahan atau jalan tol ya kalau kita pintar-pintar, bisa saja beli tanah itu. Nanti begitu ada rencana pembangunan, kita jual lagi dengan harga yang pasti mahal," pungkasnya.
Itulah penjelasan soal cara untuk investasi properti, semoga bermanfaat.
