Kerusakan sistem perpipaan sering kali dianggap masalah sepele. Padahal, kebocoran pipa dapat memicu kerusakan yang jauh lebih besar dibandingkan harga materialnya sendiri, mulai dari membongkar dinding, plafon, hingga lantai rumah.
Dalam dunia konstruksi, biaya pemasangan sistem perpipaan memang hanya mengambil sekitar 5-10% dari total anggaran proyek. Namun ketika terjadi kebocoran, biaya perbaikannya dapat membengkak karena harus melakukan pembongkaran bagian bangunan untuk menemukan sumber masalah.
Regional Sales Manager PT Wahana Duta Jaya Rucika, William Chendra, mengatakan kegagalan sistem perpipaan di lapangan umumnya bukan hanya disebabkan kualitas produk, tetapi juga kesalahan dalam memilih jenis pipa serta proses penanganannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Secara umum, kegagalan sistem perpipaan dikarenakan kesalahan pemilihan jenis pipa untuk pemenuhan kebutuhan spesifik seperti kebutuhan suhu panas dan tekanan air tertentu, serta kesalahan penanganan (handling) yang memicu benturan saat proses pengiriman, angkutan, maupun pemasangan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (9/7/2026).
Sementara dari sisi produsen, lanjutnya, risiko kebocoran dapat muncul apabila produk diproduksi di bawah standar mutu yang berlaku.
Menurut perusahaan, kerusakan sistem perpipaan dapat menimbulkan sejumlah konsekuensi yang nilainya jauh lebih besar daripada harga pipa itu sendiri. Beberapa di antaranya adalah pembongkaran dinding untuk mencari titik kebocoran, perbaikan plafon yang rusak akibat rembesan air, pembongkaran keramik dan lapisan akhir bangunan, hingga penggalian ulang instalasi yang tertanam di dalam tanah.
Selain itu, pemilik bangunan juga harus menanggung tambahan biaya tenaga kerja, material perbaikan, hingga terganggunya aktivitas penghuni maupun operasional bangunan selama proses perbaikan berlangsung.
Untuk menunjukkan pentingnya pengendalian mutu dalam sistem perpipaan, PT Wahana Duta Jaya Rucika menggelar Plant Tour di pabriknya di Cibitung pada awal Juni 2026. Kegiatan tersebut diikuti para pemilik toko bangunan yang tergabung dalam program Bintang Rucika.
Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak melihat langsung proses produksi hingga tahapan quality assurance (QA) yang diterapkan pada setiap produk.
William mengatakan perusahaan sengaja membuka proses produksinya agar para mitra dapat melihat langsung standar pengawasan yang diterapkan.
"Kepercayaan pelanggan dibangun melalui kualitas yang konsisten. Dengan membuka akses bagi para mitra untuk melihat langsung proses produksi dan quality assurance di pabrik kami, Rucika ingin menunjukkan bahwa setiap produk yang kami hasilkan telah melalui pengawasan dan pengujian yang ketat sesuai standar internasional," katanya.
Sementara itu, Corporate Brand Communication Department Head PT Wahana Duta Jaya Rucika, Reynard Natamihardja, mengatakan kualitas produk tidak hanya berkaitan dengan daya tahan material, tetapi juga rasa aman yang diperoleh pengguna dalam jangka panjang.
(das/das)










































