Masjid Quba merupakan masjid pertama yang dibangun dalam sejarah Islam. Letaknya sekitar 5 kilometer di sebelah tenggara Kota Madinah, Arab Saudi. Selain dikenal sebagai masjid pertama yang didirikan Rasulullah SAW, tempat ini juga menyimpan kisah unik tentang sebuah sumur yang menjadi lokasi jatuhnya cincin Nabi Muhammad.
Melansir Catatan detikHikmah, Masjid Quba dibangun pada tahun 1 Hijriah atau 622 Masehi saat Rasulullah SAW dan para sahabatnya, melakukan hijrah menuju Madinah dan singgah di Quba selama lima hari. Masjid ini berdiri di atas tanah milik keluarga Kalsum bin Hadam dari kabilah Amir bin Auf yang diwakafkan kepada Rasulullah SAW. Batu pertama peletakan pondasi dilakukan langsung oleh Rasulullah SAW, disusul Abu Bakar, Umar, dan Utsman, kemudian dilanjutkan para sahabat Muhajirin dan Anshar hingga selesai.
Secara arsitektural, Masjid Quba pada awalnya dibangun sangat sederhana. Bangunannya berbentuk ruang persegi empat yang dikelilingi dinding tanah liat, dengan tiang dari batang pohon kurma serta atap dari pelepah kurma bercampur tanah. Di bagian tengah terdapat ruang terbuka yang dilengkapi sumur untuk berwudu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seiring waktu, masjid ini mengalami perluasan besar-besaran. Kini luasnya mencapai sekitar 135.000 meter persegi, dilengkapi lantai marmer anti-panas serta menara tinggi yang mulai dibangun pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Sumur Masjid Jadi Tempat Hilangnya Cincin Nabi
Masjid ini mempunyai satu situs bersejarah bernama Sumur Aris. Lebih populernya, sumur ini kerap disebut sebagai Sumur Cincin. Penyebutan itu merujuk pada peristiwa jatuhnya cincin Rasulullah yang telah diwariskan kekhalifahan dari Nabi kepada Abu Bakar, kemudian Umar, dan terakhir kepada Utsman.
Saat digunakan oleh Utsman bin Affan, cincin tersebut terjatuh ke dalam sumur dan tidak berhasil ditemukan kembali. Meski telah dicari selama tiga hari, cincin tersebut tidak pernah ditemukan kembali. Sejak saat itu, sumur tersebut dikenal sebagai Sumur Cincin atau Bir Al-Khatam.
Dilansir dari Jurnal Meta Sastra yang ditulis oleh Faiz Karim Fatkhullah dari Universitas Padjajaran, cincin tersebut memang telah diestafetkan sejak masa Rasulullah kepada para khalifah setelahnya. Peristiwa jatuhnya cincin di Sumur Aris menjadi catatan sejarah penting, karena cincin itu bukan sekadar perhiasan, melainkan simbol otoritas kepemimpinan Islam pada masa awal.
Keunikan Sumur dan Nilai Spiritualnya
Sumur Aris sudah ada sejak masa Rasulullah dan menjadi salah satu sumber air yang dimanfaatkan masyarakat Madinah. Sumur di kawasan tersebut dibangun dari susunan batu yang diambil dari lingkungan sekitarnya. Bentuk dan konstruksinya mencerminkan karakter sumur klasik Arab pada masa awal Hijriah.
Sumur ini memiliki nilai spiritual tersendiri karena airnya pernah digunakan Rasulullah SAW dan menjadi lokasi jatuhnya cincin beliau. Dalam tradisi ziarah, sebagian umat meyakini air sumur tersebut membawa keberkahan. Dahulu, jika airnya tersedia, para peziarah dianjurkan berwudu atau meminumnya dengan niat mencari keberkahan.
Kondisi Sumur Saat Ini
Sumur Aris kini sudah tidak lagi berbentuk sumur terbuka seperti dahulu. Area tersebut telah ditimbun dan menjadi bagian dari pelataran atau perluasan Masjid Quba. Dengan demikian, secara fisik sumur tidak lagi dapat diakses seperti pada masa lampau.
Meski demikian, lokasi bekas sumur tetap dihormati sebagai situs bersejarah yang berkaitan langsung dengan perjalanan Rasulullah SAW dan para sahabat. Perkembangan arsitektur modern Masjid Quba membuat sumur ini menyatu dengan lanskap masjid yang luas, namun nilai historisnya tetap dikenang sebagai bagian penting dari sejarah Islam.
(abr/abr)











































