Hujan turun dengan lebat dalam kurun waktu yang lama, bisa membuat air meresap ke dalam tanah secara berlebihan. Akibatnya, struktur tanah menjadi jenuh air dan tidak stabil.
Melansir situs BPBD Jogja, Selasa (27/1/2026), ketika tanah jenuh air potensi tanah untuk bergeser bisa meningkat drastis dan komponen air itulah yang menyebabkan tanah mudah bergerak. Di beberapa wilayah yang mana kebanyakan rumahnya dibangun di lahan miring, hal ini berbahaya karena bisa meningkatkan risiko tanah longsor. Tak hanya itu, fondasi rumah juga bisa ikut terdampak karena adanya pergeseran tanah.
Untuk rumah di area miring, fondasi tidak hanya berfungsi menopang struktur atas rumah, tetapi juga menghadapi tekanan dari tanah yang berpotensi bergeser. Jika fondasi tidak dirancang dengan benar atau sistem pengelolaan air di sekitar rumah buruk, tanah jenuh dapat menyebabkan pergeseran fondasi, retakan dinding, ambles, hingga kemunginan terburuknya adalah runtuhnya bangunan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Langkah Pencegahan Agar Tanah Tidak Jenuh Air
Tanah pada lahan miring yang mengalami kejenuhan air akibat hujan lebat berkepanjangan, berisiko mengalami pergerakan hingga memicu longsor. Rumah yang berdiri di area berkontur miring pun menjadi rentan dan berpotensi terdampak longsor apabila tidak dilengkapi upaya pencegahan yang memadai. Berikut beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut.
1. Membuat Sistem Drainase yang Efektif
Melansir situs BPBD Jogja, air adalah pemicu utama tanah jenuh dan longsor. Oleh karena itu, drainase yang baik sangat penting untuk mengalirkan air hujan menjauh dari rumah dan lereng sehingga tanah tidak mudah jenuh dan kehilangan stabilitas. Pastikan saluran drainase bersih, berukuran cukup, dan terhubung ke titik pembuangan yang aman.
2. Menutup Retakan di Permukaan Lereng
Berdasarkan publikasi Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air Kabupaten Malang, retakan di tanah atas lereng adalah jalur mudah masuknya air hujan ke dalam tanah yang mempercepat proses kejenuhan. Segera tutup retakan-retakan ini dengan tanah liat atau material kedap air, untuk mengurangi infiltrasi air ke dalam tanah.
3. Menggunakan Metode Terasering dan Vegetasi untuk Stabilisasi Tanah
Terasering atau sengkedan adalah metode konservasi tanah yang efektif untuk memperlambat aliran permukaan air hujan. Terasering dibuat secara bertingkat di lereng, sehingga aliran air lebih lambat dan tanah lebih stabil. Menanam tanaman berakar kuat, seperti pohon dengan sistem perakaran dalam, juga membantu mengikat struktur tanah secara alami.
4. Menggunakan Fondasi Tiang Pancang
Untuk rumah baru di lokasi rawan longsor atau tanah miring, salah satu rekomendasi konstruksi adalah menggunakan fondasi tiang pancang atau pile fondation. Dilansir dari BPBD Tangerang, fondasi ini berfungsi menancapkan struktur rumah ke lapisan tanah yang lebih keras dan stabil, jauh di bawah permukaan tanah yang basah dan rentan bergerak. Metode ini membantu mengurangi risiko pergeseran fondasi dan kerusakan struktur rumah.
Kombinasi antara hujan lebat, kondisi lereng yang curam, kurangnya vegetasi, serta sistem drainase yang buruk dapat meningkatkan risiko longsor yang merusak bangunan. Pencegahan yang proaktif dengan mengelola aliran air, menjaga vegetasi, serta mendesain fondasi yang tangguh dapat mengurangi dampak risiko tersebut. Semoga bermanfaat!
(das/das)
