Cara orang melihat rumah ikut berubah seiring perubahan gaya hidup. Rumah kini juga menjadi tempat serbaguna mulai dari bekerja, beristirahat, berkumpul bersama keluarga, menjalankan hobi, hingga ruangan untuk 'me-time' sebagai healing faktor dari hiruk-pikuk kehidupan.
Perubahan tersebut ikut membentuk arah tren desain interior. Jika sebelumnya tren banyak ditentukan oleh gaya visual yang sedang populer, kini pemilik hunian mulai melihat lebih jauh: apakah sebuah ruang nyaman digunakan, sesuai dengan kebutuhan, dan benar-benar cocok dengan cara mereka menjalani keseharian.
Hal ini membuat desain interior semakin personal. Bukan berarti tren menjadi tidak penting, tetapi sebuah hunian tidak lagi harus mengikuti satu gaya tertentu. Warna, material, furnitur, layout, hingga detail ruang mulai dipilih berdasarkan kebutuhan dan karakter penghuninya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, ke mana arah perkembangan desain interior dalam beberapa tahun ke depan? Dan seperti apa perubahan yang mulai terlihat di Indonesia?
CEO Romeesa Design Dimas Wibowo melihat industri interior akan bergerak semakin jauh dari sekadar mengejar tampilan dan menuju desain yang lebih personal, kontekstual, serta relevan dengan cara masyarakat menjalani kehidupan.
"Tren desain pasti akan terus berubah. Hari ini minimalis, besok mungkin ada istilah desain baru lagi," ujar Dimas, dalam keterangan tertulis, Sabtu (31/10/2026).
"Tapi desain rumah kan tidak mungkin ikut berubah setiap tahunnya. Jadi menurut saya, apabila kita ingin mendesain rumah, maka carilah model desain yang long-term atau timeless, dan yang lebih penting adalah membuat desain yang memang sesuai dengan personal karakter, kebutuhan, dan gaya hidup penghuninya," sambungnya.
Desain Interior Bergeser Menuju Ruang yang Lebih Personal
Selama bertahun-tahun, perkembangan desain interior banyak dipengaruhi oleh tren visual. Gaya minimalis, modern, Japandi, industrial, hingga berbagai pendekatan lainnya silih berganti menjadi referensi bagi pemilik hunian.
Namun, arah tersebut mulai berkembang. Estetika tetap penting, tetapi semakin banyak pertimbangan lain yang masuk ke dalam proses desain: bagaimana setiap orang ingin dilihat secara strata sosial (baca: orang have), bagaimana ruang digunakan, bagaimana penghuni bergerak di dalamnya, bagaimana furnitur ditempatkan, bagaimana pencahayaan bekerja, hingga bagaimana ruang tersebut dapat mendukung aktivitas sehari-hari, sampai desain interior harus memikirkan 'value for money' dari masing-masing individu penghuni.
Bagi Dimas, perubahan tersebut menunjukkan desain interior mulai bergerak dari 'bagaimana ruang terlihat' menuju 'bagaimana ruang dirasakan dan digunakan'.
"Desain yang baik menurut saya bukan hanya yang menarik ketika difoto. Akan tetapi ketika seseorang berada di dalam ruang tersebut, dia harus merasa nyaman, fungsional ruangan tersebut jelas, dan semuanya terasa sesuai dengan karakter dari penghuninya," ujar Dimas.
Minimalisme Tetap Relevan, Namun Kini dengan Sentuhan yang Lebih Personal
Minimalisme kemungkinan tidak akan hilang dalam waktu dekat. Namun, interpretasinya mulai berubah. Ruang yang clean dan sederhana kini semakin banyak dipadukan dengan warna-warna hangat, material natural, tekstur, kayu, serta elemen yang memberikan karakter.
Perubahan ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak selalu mencari ruang yang 'sempurna' secara visual. Mereka juga menginginkan ruang yang terasa nyaman dan memiliki identitas.
"Saya melihat minimalisme akan tetap relevan, tetapi semakin personal saja. Orang ingin ruang yang clean, tetapi bukan berarti harus terasa kosong atau dingin," kata Dimas.
"Ada kebutuhan untuk memasukkan karakter, tekstur, material, dan elemen personal ke dalam ruang," sambungnya.
Rumah Semakin Menjadi Cerminan Gaya Hidup
Menuju 2030, personalisasi berpotensi menjadi salah satu aspek yang semakin penting dalam desain interior. Cara seseorang bekerja, beristirahat, menghabiskan waktu bersama keluarga, menjalankan hobi, atau mungkin me time untuk recharge energi di rumah akan mempengaruhi bagaimana ruang dirancang.
Satu rumah mungkin membutuhkan home office, area bermain anak, ruang hiburan, ruangan untuk self-healing atau recharge, ruang penyimpanan yang lebih besar, atau furniture multifungsi. Rumah lainnya mungkin membutuhkan pendekatan yang berbeda. Artinya, tidak ada satu formula desain yang dapat diterapkan kepada semua orang.
"Setiap orang punya cara hidup yang berbeda. Karena itu, menurut saya desain interior ke depan akan semakin tailored," ujar Dimas.
"Kita tidak bisa hanya mengatakan satu style cocok untuk semua orang. Yang lebih penting adalah memahami siapa yang akan tinggal di dalamnya dan bagaimana mereka menggunakan ruang tersebut," sambungnya.
Teknologi Akan Menjadi Bagian dari Perubahan Gaya Hunian?
Menuju 2030, teknologi juga diperkirakan semakin terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari di dalam rumah. Smart home, automated lighting, home entertainment, energy management, hingga berbagai perangkat yang mendukung kenyamanan dapat memengaruhi cara ruang dirancang.
Namun, teknologi seharusnya tidak menjadi pusat perhatian. Tantangannya justru bagaimana teknologi dapat hadir secara seamless, terintegrasi, juga tersentralisasi dalam satu aplikasi tanpa menghilangkan kenyamanan dan karakter ruang.
"Tentu teknologi akan semakin masuk ke dalam rumah, tetapi saya tidak melihat teknologi sebagai sesuatu yang harus selalu terlihat. Justru desain yang baik adalah ketika teknologi bisa membantu meningkatkan kenyamanan tanpa menghilangkan experience dan karakter dari ruang itu sendiri," jelas Dimas.
Jadi, Seperti Apa Desain Interior Menuju 2030?
Jika berbagai perubahan tersebut dirangkum, masa depan desain interior kemungkinan tidak akan ditentukan oleh satu gaya tertentu. Sebaliknya, desain akan menjadi semakin personal, fungsional, kontekstual, natural, dan berorientasi pada pengalaman.
Teknologi akan semakin terintegrasi. Material lokal dan sustainable design dapat memperoleh perhatian lebih besar.
Sementara itu, identitas penghuni akan semakin menjadi bagian penting dalam proses perancangan. Bagi Dimas, perubahan tersebut justru membuka peluang bagi industri interior untuk menciptakan ruang yang lebih relevan dengan gaya hidup induvidu penghuni.
"Saya tidak melihat masa depan desain interior sebagai satu tren besar yang akan diikuti semua orang. Justru saya melihat semakin banyak orang akan memiliki definisi sendiri tentang rumah yang ideal sesuai dengan gaya hidup dan karakter penghuninya," ujar Dimas.
"Industri interior perlu semakin memahami manusia di balik ruang tersebut," sambungnya.
Pada akhirnya, masa depan desain interior bukan hanya tentang bagaimana rumah akan terlihat pada 2030. Pertanyaan yang lebih penting adalah: 'bagaimana manusia akan hidup di dalamnya?'. Dan ketika gaya hidup terus berubah, desain interior pun akan terus berkembang untuk menjawabnya.
Memahami Kebutuhan Pelanggan Jadi Bagian Penting dalam Proses Desain
Bagi Dimas, desain interior tidak berhenti ketika konsep selesai atau proyek telah terpasang. Kepuasan pelanggan menjadi bagian penting dari bagaimana sebuah proyek dinilai, terutama ketika hasil akhirnya harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan ekspektasi penghuni.
Pendekatan tersebut membuat proses konsultasi menjadi bagian yang tidak kalah penting dari hasil akhir. Mulai dari memahami kebutuhan, mendiskusikan konsep, memilih material, hingga menentukan detail interior, setiap tahap perlu dikomunikasikan dengan baik agar hasilnya dapat diterima dan dirasa sesuai dengan ekspektasi penghuninya.
"Pada akhirnya ya, yang paling penting adalah bagaimana customer melihat hasil akhirnya. Kalau desainnya bagus menurut kita tetapi ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan dan karakter mereka, berarti masih ada yang kurang dari prosesnya," tutur Dimas.
"Makanya di Romeesa, kita coba pahami dulu kebutuhan mereka dari awal mulai dari bagaimana mereka menggunakan ruang, apa yang mereka butuhkan, personal karakter dan lifestyle mereka seperti apa, sampai detail-detail yang menurut mereka penting. Dari situ baru kita terjemahkan ke desain interior kemudian eksekusinya," sambungnya.
Bagi yang sedang merencanakan renovasi atau ingin menghadirkan konsep baru untuk hunian, konsultasi secara langsung dapat menjadi langkah awal untuk membicarakan kebutuhan dan karakter ruang secara lebih detail.
Romeesa Design membuka konsultasi jasa desain interior langsung di ITC BSD City - Tangerang Selatan (Tangsel). Diskusikan kebutuhan desain interior, pilihan material, hingga solusi furniture yang sesuai dengan hunian.
Kunjungi Romeesa Design dan mulai diskusikan seperti apa ruang yang ingin diwujudkan!
