Jakarta - Henry Ford, pendiri merek mobil Ford, membangun sebuah kota modern di tengah Hutan Amazon bernama Fordlandia. Sayangnya, kota itu kini terbengkalai.
Potret Kota Mati Fordlandia yang Digagas Pendiri Mobil Ford
Fordlandia dibangun untuk mempermudah perusahaan agar bisa mendapatkan karet sebagai bahan baku utama pembuatan ban mobil. Daripada hanya sekadar membangun pabrik, Ford berinisiatif mendirikan kota modern di tengah Hutan Amazon, Brasil. Di dalam kota itu terdapat rumah penduduk, bioskop, aula besar, hingga rumah sakit. Foto: The Washington Post via Getty Im/The Washington Post
Kota Fordlandia mulai dibangun pada 1929 yang berada di pinggir sungai. Foto dari zaman dahulu ini menampilkan Fordlandia yang belum sepenuhnya jadi, tapi sdah berdiri rumah-rumah, pabrik, dan beberapa bangunan lainnya. Foto: Wikimedia Commons/Public Domain/Ford Motor Company
Nahas, Fordlandia yang dirancang sebagai kota modern malah berujung menjadi kota mati. Kota ini perlahan ditinggal pergi penduduknya seiring Henry Ford menjual Fordlandia kepada pemerintah Brasil pasca Perang Dunia II. Foto: The Washington Post via Getty Im/The Washington Post
Meski sudah ditinggal penduduknya selama puluhan tahun, tapi beberapa bangunan di Fordlandia masih berdiri walau kondisinya sudah memprihatinkan. Seperti bangunan ini yang jendela kayunya sudah mulai rusak dimakan usia. Foto: The Washington Post via Getty Im/The Washington Post
Sejumlah bangunan seperti rumah penduduk banyak yang kondisinya rusak parah. Pohon-pohon yang tumbuh di sekitarnya turut 'memakan' bangunan tua yang terbengkalai itu. Foto: The Washington Post via Getty Im/The Washington Post
Terlihat ada sebuah lapangan tenis terbengkalai di dalam kota Fordlandia. Akibat tak diurus sama sekali, kota ini kembali ditumbuhi oleh pepohonan setelah sempat ditebang untuk ditanami pohon karet. Foto: The Washington Post via Getty Im/The Washington Post
Suasana di Fordlandia begitu sunyi, tidak ada tanda-tanda kehidupan pasca kota ini ditinggal pergi pemiliknya puluhan tahun lalu. Foto: The Washington Post via Getty Im/The Washington Post
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan
