Jakarta - Menjelang Natal, Gereja Santa Maria de Fatima Glodok menghadirkan harmoni iman dan budaya Tionghoa di tengah hiruk pikuk Pecinan Jakarta.
Foto Properti
Gereja Santa Maria de Fatima, Warisan Iman Katolik dalam Balutan Budaya Tionghoa
Tampak suasanaΒ Gereja Katolik Paroki Santa Maria de Fatima Toasebio, Glodok, Jakarta Barat.Β Lokasinya berada di Jalan Kemenangan III, Glodok, Taman Sari, persis di sebelah Sekolah Ricci.
Gereja Santa Maria de Fatima telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya Nasional berdasarkan surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta pada 1972. Gereja ini juga ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya sesuai SK Gubernur DKI Jakarta Nomor 475/1993 dan dilindungi Undang-undang No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Pengambilan nama Santa Maria de Fatima sebagai nama paroki adalah untuk mengenang peristiwa penampakan Santa Maria kepada tiga anak di Fatima, Portugal, pada 1917. Sementara itu, kata Toasebio diambil dari nama jalan gereja yang dulu dinamai Jalan Toasebio serta keberadaan 'Bio' atau tempat sembahyang masyarakat Tionghoa.
Dari luar, rumah ibadah ini tak seperti gereja katolik pada umumnya yang mengusung desain ala Eropa. Bentuk atapnya sudah sangat khas seperti kelenteng, ditambah lagi dengan ornamen kayu berwarna merah kuning yang semakin kental akan budaya Tionghoa.
Gereja Santa Maria de Fatima memiliki Goa Maria yang berfungsi untuk melaksanakan kegiatan berdoa. Tepat di sebelahnya terdapat Bukit Maria de Fatima yang diresmikan pada 1992.
Untuk bangunan gereja sendiri kabarnya sudah berdiri sejak abad ke-19. Rumah milik Tionghoa itu terus dipertahankan wujudnya selama ratusan tahun demi menjaga kelestarian budaya.
Mereka membiarkan rumah itu tetap menjadi dirinya sendiri sebuah hunian Tionghoa seraya mengubahnya menjadi tempat doa bagi umat Katolik. Keputusan sederhana itu menjadikan gereja ini simbol akulturasi yang hidup hingga hari ini.
Di tengah hiruk pikuk Glodok, Gereja Santa Maria de Fatima tampil sebagai ruang yang memeluk perbedaan dengan lembut.
Altar di Gereja Santa Maria de Fatima juga mengusung konsep etnis Tionghoa. Terlihat bagian tiang fondasi bangunan gereja dilapisi dengan cat merah dan emas. Uniknya lagi, terdapat ornamen kayu yang terletak di bagian atas fondasi gedung.
Pengambilan nama Santa Maria de Fatima sebagai nama paroki adalah untuk mengenang peristiwa penampakan Santa Maria kepada tiga anak di Fatima, Portugal, pada 1917. Sedangkan kata Toasebio diambil dari nama jalan gereja yang dulu dinamai Jalan Toasebio serta keberadaan 'Bio' atau tempat sembahyang masyarakat Tionghoa.
Para lansia keturunan Tionghoa datang pagi-pagi, menata bunga dan menyapu halaman yang dipenuhi dedaunan jatuh, sebuah ritual kecil yang terasa hangat di tengah udara Desember yang perlahan mengering.
Dan kini, denyut kehidupan di gereja itu terasa lebih kuat. Lilin-lilin kecil ditata di sudut-sudut ruangan, bercahaya lembut di antara ukiran kayu tua.
Dari luar, rumah ibadah ini tak seperti gereja katolik pada umumnya yang mengusung desain ala Eropa. Bentuk atapnya sudah sangat khas seperti kelenteng, ditambah lagi dengan ornamen kayu berwarna merah kuning yang semakin kental akan budaya Tionghoa.
Lebih dari sekadar cagar budaya, gereja ini menjadi pengingat bahwa keberagaman, ketika dirawat, mampu menghadirkan keindahan yang tak lekang oleh waktu.











































