Jakarta - Selama 30 tahun warga Kampung Apung di Jakarta Barat hidup di tengah genangan yang tak kunjung surut. Rumah panggung jadi cara bertahan dari banjir abadi.
Foto Properti
Tiga Dekade Kampung Apung Bertahan di Atas Banjir Abadi

Kampung Apung di Jakarta Barat menjadi potret nyata kawasan padat penduduk yang hidup berdampingan dengan banjir selama puluhan tahun. Warga setempat menyebut kondisi ini sudah berlangsung hampir tiga dekade.
Kampung kecil ini terletak di RT 10/RW 01, Kelurahan Kapuk, Kecamatan Cengkareng, hanya sekitar 100 meter dari Jalan Kapuk Raya. Meski dekat jalan utama, kondisinya jauh dari layak huni.
Untuk masuk ke Kampung Apung, pengunjung harus melewati gang sempit dari pinggir jalan raya. Di dalamnya, tampak deretan rumah panggung berdiri di atas lahan yang terendam air.
Akses jalan di kampung itu berupa setapak beton memanjang. Jalannya sempit dan tanpa pembatas, membuat warga kerap waswas saat berjalan kaki atau mengendarai motor.
Air yang merendam kawasan terlihat keruh kehijauan. Eceng gondok tumbuh liar di sejumlah sudut kampung, memperlihatkan betapa buruknya kualitas lingkungan di sana.
Menurut mantan ketua RT 10 RW 01, Rudi Suwandi, dulunya Kampung Apung merupakan kawasan sejuk dengan pepohonan rindang. Namun, banjir yang tak pernah surut sejak 30 tahun lalu mengubah wajah kampung itu.
Rumah-rumah warga kini dibangun dengan model panggung. Rumah lama sudah tenggelam hampir dua meter di bawah permukaan air, menyisakan kenangan masa lalu.
Meski terendam, kehidupan sosial warga tetap berjalan. Ada mushola untuk beribadah, rumah belajar untuk anak-anak, hingga warung kecil sebagai penopang ekonomi warga.
Warga sudah terbiasa dengan kondisi banjir abadi ini. Mereka beradaptasi dengan lingkungan, meski penuh keterbatasan dan risiko keselamatan.
Kampung Apung menjadi simbol ketahanan masyarakat menghadapi banjir yang tak kunjung usai. Namun, juga menjadi ironi tata kota Jakarta yang gagal menuntaskan masalah lingkungan menahun.