Suasana sebuah desa yang dulunya nyaman dan tenang mendadak berubah dalam sekejap. Tak ada satu pun yang menyangka hal itu bisa terjadi hanya dalam satu hari.
Lokasinya ada di Oradour-sur-Glane, Perancis. Pada 1944 terjadi pembantaian keji yang nyaris menewaskan seluruh penduduk desa.
Dilansir dari The National WWII Museum, kelompok yang bertanggung jawab atas kejahatan keji itu adalah adalah resimen "Der Führer", sebuah unit di bawah Divisi Panzer SS ke-2 "Das Reich". Divisi Das Reich tiba di Perancis sebagai unit cadangan pada Januari 1944 setelah menghabiskan dua tahun di Front Timur, tempat mereka terlibat dalam pertempuran dan bertugas menumpas perlawanan partisan Soviet.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Das Reich berada di bawah komando SS-Obergruppenführer (Mayor Jenderal) Heinz Bernhard Lammerding. Selama bertugas di Front Timur, Lammerding memerintahkan sejumlah tindakan balasan terhadap warga Soviet atas aksi partisan, baik yang nyata maupun yang sekadar dugaan. Tindakan balasan ini mencakup pembunuhan puluhan ribu warga sipil Soviet serta pembakaran banyak desa.
Menyusul invasi Sekutu di Normandia, Perancis pada 6 Juni 1944, Das Reich diberi misi baru untuk mendukung pasukan Jerman yang bertempur di Perancis utara. Divisi ini juga diperintahkan untuk menumpas kelompok maquis atau pejuang gerilya dari kelompok Perlawanan Perancis, sekaligus mengintimidasi penduduk setempat dan menegaskan kembali kendali Jerman atas wilayah Perancis bagian tengah dan selatan. Setelah menerima perintah tersebut, divisi ini mulai bergerak ke utara menuju Normandia.
Pada pagi hari 10 Juni 1944, penduduk Oradour bangun dengan anggapan hari itu akan berlalu seperti biasanya. Selama masa perang, Oradour tidak banyak mengalami pertempuran bahkan jarang melihat tentara Jerman. Namun, sekitar pukul 14.00, di bawah komando SS-Sturmbannführer (Mayor) Adolf Diekmann, sekitar 120 hingga 200 tentara dari resimen Panzer "Der Führer" mengepung kota tersebut, menutup semua akses masuk dan keluar.
Seseorang diutus untuk mengumumkan ke seluruh warga untuk pergi ke pusat kota. Kendaraan lapis baja pun dikerahkan untuk menjemput warga yang sedang bekerja di ladang.
Awalnya, warga hanya mengira tentara Jerman datang untuk pemeriksaan identitas rutin. Tapi tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menyadari bahwa situasi tersebut bukan prosedur rutin.
Para tentara memisahkan laki-laki dari barisan wanita dan anak-anak. Para laki-laki yang mengetahui tempat persimpanan senjata diminta untuk maju ke depan, tapi tidak ada satu pun yang melakukannya. Itu karena warga desa tidak ada yang ikut dalam kegiatan perlawanan.
Akhirnya, sebanyak 197 laki-laki dibawa ke enam ladang berbeda di desa. Tak lama, tentara SS menembakkan peluru ke semua warga laki-laki, membunuh mereka yang ada di sana. Lalu, 240 wanita dan 205 anak-anak dipaksa untuk masuk ke dalam gereja.
Setelah gereja terkunci, para tentara melempar beberapa granat ke gereja itu yang menyebabkan sebagian warga luka-luka dan yang lainnya sesak napas karena asap yang mengepul. Karena panik, banyak warga yang mencoba untuk kabur, namun para tentara menembak mereka yang berusaha pergi.
Tentara Jerman kemudian membakar gereja, membunuh siapa pun yang berusaha untuk bersembunyi, dan membakar sisa desa Oradour yang ada. Diketahui, hanya ada tujuh penyintas dari peristiwa tersebut, sebanyak lima laki-laki selamat karena berlindung di bawah mayat, seorang wanita berhasil kabur dari jendela gereja dan bersembunyi di kebun, serta seorang anak kecil berhasil kabur ketika resimen Der Führer mulai mengumpulkan orang di tengah kota.
Alasan di balik serangan tentara Jerman ke desa Oradour masih belum diketahui. Tapi setelah peristiwa tersebut, komando petinggi Jerman mengeluarkan penjelasan yang menyatakan kelompok pemberontak menyerang divisi mereka yang memicu pertempuran yang mengakibatkan tewasnya warga sipil. Penjelasan lainnya adalah Lammerding menerima informasi bahwa penduduk desa membantu kelompok perlawanan dengan memfasilitasi penculikan SS-Sturmbannführer (Mayor) Helmut Kämpfe, seorang perwira Nazi yang banyak menerima penghargaan dan kemudian dibunuh oleh kelompok perlawanan Perancis. Sebagian besar anggota SS yang terlibat tidak pernah diadili karena banyak yang tewas dalam pertempuran setelah D-Day.
Bangunan Desa Dibiarkan Sama Seperti Dulu
Sampai saat ini, sisa bangunan yang ada di desa Oradour tetap dibiarkan seperti setelah kejadian pembantaian pada 1944. Puing-puing bangunan masih terlihat sampai sekarang, bahkan sisa mobil peugeot 202 juga masih terlihat.
Pada tahun 1946, Presiden Perancis Charles de Gaulle mengumumkan bahwa lokasi tersebut akan dilestarikan dan reruntuhannya akan dijadikan sebagai tugu peringatan nasional.
Saat ini, reruntuhan tersebut dikelola oleh Kementerian Kebudayaan. Kawasan ini mencakup area seluas sekitar 16 hektare dan dikunjungi oleh kurang lebih 300.000 orang setiap tahunnya.
(abr/das)
