Harga lahan industri di Jabodetabek melonjak, terutama di Cikarang, Jawa Barat. Salah satu penyebabnya adalah pembangunan data center di area tersebut.
Berdasarkan data Jakarta Property Market Update kuartal III 2026 dari CBRE Indonesia, harga rata-rata lahan industri di Jabodetabek yaitu Rp 2,6 juta per meter persegi. Naik jika dibandingkan pada kuartal II 2026 yaitu Rp 2,5 juta per meter persegi.
Khusus di kawasan Cikarang, harga rata-ratanya tembus lebih dari Rp 3,5 juta per meter persegi. Ini melonjak jika dibandingkan pada 2025 yang harga rata-ratanya Rp 3,2 juta per meter persegi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Head of Research & Consulting CBRE Indonesia Anton Sitorus melonjaknya harga lahan industri di Cikarang dipicu oleh maraknya pembangunan data center di sana.
"Karena Cikarang itu banyak diminati, makanya harganya naiknya cukup tajam dari tahun lalu ke tahun ini. Tapi yang membuat kenaikannya cukup tajam ini bukan hanya cuma karena kawasan industri biasa, tapi memang karena data center juga," ujarnya di kantor CBRE Indonesia, Jakarta Selatan, Rabu (28/10/206).
Menurut Anton, perusahaan data center ini berani bayar mahal untuk harga tanahnya karena sudah memiliki infrastruktur dan ekosistem industri yang sudah matang. Terlebih lagi, tanah di Cikarang juga semakin terbatas maka dari itu harganya bisa melambung tinggi.
"Jadi daerah-daerah di Cikarang, beberapa industrinya karena dia memang dapat rezeki nomplok, jadi tempat kumpulnya data center, harga tanahnya juga naiknya jauh lebih tinggi dibanding yang lain-lain," ungkapnya.
Di sisi lain, karena keterbatasan lahan ini, banyak perusahaan yang mulai melirik daerah lain misalnya ke Subang, Jatiluhur, Batam, Batang, Kendal, sampai ke Lamongan. Namun, menurut Head of Industrial & Logistic Service CBRE Ivana Susilo, industri-industri yang bergerak di sana tidak sama dengan yang ada Cikarang.
Ivana menilai meski sudah ada perusahaan yang sudah mulai melirik daerah-daerah lain karena UMR-nya lebih murah, tapi Cikarang dan Karawang masih jadi primadona. Alasannya, karena terdapat labor pool atau orang yang tersedia dan siap untuk bekerja.
"Jadi apakah sudah ada strong trend untuk shift dari Cikarang dan Karawang ke Subang, Jatiluhur, belum. Mungkin Jatiluhur lebih strong demand lah for the time being karena lebih dekat dari Cikarang dan Karawang. Dan kalau misalnya misalnya kita lihat populasi di Jatiluhur itu juga lumayan besar dan bisa dibilang higher skill daripada kalau kita ngomong Jawa Tengah," tuturnya.
(abr/das)
