×
Ad

Kisah Eva Kampung Bali: Tinggal Berlima di Kontrakan 3x1 Meter Tak Dapat Bansos

ilham fikriansyah - detikProperti
Kamis, 15 Okt 2026 11:53 WIB
Kontrakan sempit yang ditinggali Eva di Kampung Bali, Jakarta Pusat. Foto: Gilang Faturahman/detikfoto
Jakarta -

Di balik bangunan-bangunan tinggi di ibu kota, terdapat sebuah permukiman padat penduduk bernama Kampung Bali di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Warga yang tinggal di sini datang dari berbagai latar belakang, mulai dari pekerja hingga pedagang.

Salah satunya adalah Eva, warga Kampung Bali yang menetap di sebuah kontrakan kecil berukuran sekitar 3 x 1 meter. Hidup sebagai pedagang keliling dengan pendapatan tidak menentu, Eva memilih tinggal di kontrakan kecil tersebut dengan harga sewa Rp 20 ribu per hari.

Tinggal bersama mantu, anak, dan cucunya, Eva harus bertahan hidup dengan mencari nafkah sendiri sejak suaminya meninggal dunia. Nahasnya lagi, ia tak pernah mendapat bantuan sosial dari pemerintah.

Ternyata, Eva sendiri terdaftar dalam kategori Desil 5 menurut Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Sebagai informasi, desil ini menandakan keluarga yang dianggap memiliki kesejahteraan menengah bawah stabil.

"Iya bener, saya cek di bansos di situ tau-taunya nama saya di desil 5, makanya saya nggak dapat bantuan apa-apa walaupun saya KTP Jakarta, anak saya aja nggak dapat program KJP (Kartu Jakarta Pintar)," kata Eva saat ditemui di rumahnya, Selasa (13/10/2026)

Dikutip situs Cek Bansos Kemensos, bantuan pemerintah seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT)/Program Sembako diprioritaskan untuk keluarga Desil 1-4. Maka dari itu, Eva yang masuk Desil 5 tidak diutamakan mendapatkan keduanya.

Selain masuk Desil 5, Eva disebut-sebut memiliki aset 'gaib' senilai Rp 1 miliar oleh teman-temannya. Tentu sangat kontras dengan apa yang dijalani Eva saat ini; tinggal di kontrakan sempit dan sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Saya juga nggak tau, itu awalnya cerita dari teman karena saya curhat ke dia kalau anak saya nggak dapat KJP. Terus teman saya bilang 'Lo punya aset Rp 1 M kali, karena rata-rata yang punya aset Rp 1 M udah pasti nggak dapat bantuan apapun,' gitu katanya," ungkap Eva.

Tim detikcom berkesempatan untuk melihat langsung kontrakan milik Eva, warga Kampung Bali yang masuk Desil 5. Ia menempati sebuah kontrakan petak di lantai 2 yang berada persis di pinggir Kali Krukut.

Rumah kontrakan yang menjadi tempat tinggal Eva di Kampung Bali. Foto: Gilang Faturahman/detikfoto

Untuk masuk ke dalam harus melewati tangga yang cukup curam dan sempit. Lalu, ada kontrakan kecil berbentuk huruf 'L' yang menjadi tempat tinggal Eva bersama empat anggota keluarga lainnya.

Dengan harga sewa Rp 20 ribu per hari, Eva bisa menetap di kontrakan petak semi permanen yang terbuat dari kayu triplek. Tidak ada kamar mandi dalam atau ruang tamu, bahkan jendelanya dibuat dengan cara melubangi dinding kayu supaya udara bisa masuk ke dalam.

Dengan kondisi hidup seperti ini, Eva mengaku kebingungan kenapa dirinya bisa masuk dalam Desil 5. Ia berharap bisa mendapat bantuan sosial dari pemerintah demi menghidupi keluarganya.

"Ini aja buat sekarang suka bingung mau bayar kontrakan dari mana uangnya, saya aja jadi pedagang penghasilan nggak nentu kan, apalagi ekonomi juga makin turun," tuturnya.

"Makanya sayang bingung, kok bisa saya punya aset segitu banyak, sedangkan hidup saya aja kadang makan kadang nggak, tapi memang saya nggak terlalu mikirin juga," imbuh Eva.



Simak Video "Video: Babak Akhir Kasus Kontrakan Viral di Surabaya"

(ilf/ilf)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork