×
Ad

Properti Tak Cuma Rumah, Pengembang Mulai Lirik Bisnis Gudang

Zulfi Suhendra - detikProperti
Jumat, 09 Okt 2026 13:44 WIB
Foto: Dok Agung Intiland
Jakarta -

Bisnis properti tak melulu soal rumah tapak dan apartemen. Di tengah pertumbuhan investasi nasional, kawasan industri dan pergudangan juga menjadi bagian dari pasar properti yang dilirik untuk memenuhi kebutuhan pelaku usaha.

Kebutuhan gudang kini berkaitan erat dengan aktivitas bisnis, mulai dari penyimpanan barang hingga mendukung distribusi dan rantai pasok. Karena itu, pelaku usaha tidak hanya mempertimbangkan ketersediaan bangunan, tetapi juga lokasi, akses transportasi, dan fleksibilitas ruang untuk menunjang operasional.

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi Indonesia mencapai Rp 1.010,6 triliun pada semester I 2026. Angka tersebut tumbuh 7,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sektor transportasi, pergudangan dan telekomunikasi, serta perumahan, kawasan industri dan perkantoran turut menjadi bagian dari sektor yang menopang investasi nasional.

Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat kebutuhan ruang usaha perlu diperhatikan oleh pengembang properti. Kawasan pergudangan, misalnya, tidak cukup hanya menyediakan bangunan untuk menyimpan barang, tetapi juga perlu memperhitungkan kemudahan distribusi dan akses ke pusat aktivitas ekonomi.

Konektivitas menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan kawasan bisnis. Akses menuju jalan tol, bandara, dan pelabuhan dapat menunjang mobilitas barang sekaligus membantu perusahaan menjalankan kegiatan operasional secara lebih efisien.

General Manager Business Development and Technical Agung Intiland, Farizki Hakim Rosyidi, mengatakan pengembangan kawasan bisnis perlu mempertimbangkan kebutuhan penggunanya dalam jangka panjang.

"Bagi kami, kawasan bisnis yang baik bukan hanya tentang bagaimana sebuah properti terlihat atau seberapa strategis lokasinya. Nilai sebenarnya tercipta ketika sebuah kawasan mampu mendukung pelaku usaha untuk beroperasi secara lebih efisien, terhubung dengan rantai pasok, serta memiliki ruang dan peluang untuk terus berkembang. Karena itu, sejak awal kami memandang pengembangan kawasan bukan sekadar pembangunan properti, melainkan membangun sebuah ekosistem bisnis yang terintegrasi, produktif, dan mampu memberikan nilai jangka panjang bagi para pelaku usaha," ujar Farizki dalam keterangannya, Jumat (9/10/2026).

Selain lokasi, kebutuhan ruang usaha juga ikut berubah seiring perkembangan bisnis. Perusahaan membutuhkan bangunan yang dapat menyesuaikan dengan aktivitas operasional dan rencana ekspansi. Hal ini membuat fleksibilitas fungsi bangunan serta perencanaan kawasan menjadi aspek yang diperhitungkan dalam pengembangan properti pergudangan.

Farizki menilai keberlangsungan sebuah kawasan sangat bergantung pada kemampuannya mengikuti perubahan kebutuhan pasar.

"Umur sebuah kawasan tidak hanya ditentukan oleh bangunan yang berdiri di dalamnya, tetapi juga oleh seberapa mampu kawasan tersebut tetap relevan terhadap perubahan kebutuhan penggunanya. Karena itu, perencanaan jangka panjang menjadi sangat penting. Infrastruktur, konektivitas, fungsi kawasan, hingga kebutuhan bisnis harus dirancang sebagai satu kesatuan yang terintegrasi, sehingga kawasan tidak hanya mampu tumbuh secara berkelanjutan, tetapi juga dapat terus berkembang bersama para penggunanya," lanjut Farizki.

Salah satu contoh pengembangan properti di segmen ini adalah Laksana Business Park yang dikembangkan Agung Intiland. Kawasan tersebut memiliki klaster pergudangan bernama Luxima Bizhub yang dirancang untuk menunjang kebutuhan operasional dan perkembangan usaha.

Menurut Farizki, ruang usaha perlu dirancang agar bisa mengikuti kebutuhan perusahaan, bukan sekadar menjadi tempat untuk menjalankan aktivitas bisnis.

"Pelaku usaha membutuhkan lebih dari sekadar ruang. Mereka membutuhkan tempat yang bisa mengikuti cara mereka menjalankan bisnis, memberikan fleksibilitas ketika usaha berkembang, dan tetap memiliki nilai dalam jangka panjang. Inilah yang ingin kami hadirkan melalui Luxima Bizhub, sebuah business hub dengan environment yang mendukung aktivitas serta pertumbuhan bisnis." tuturnya.

Di tengah perkembangan investasi, properti pergudangan menjadi salah satu segmen yang menarik untuk dicermati. Meski demikian, peluangnya tetap bergantung pada kebutuhan pasar, kesesuaian lokasi, aksesibilitas, dan kemampuan kawasan dalam mendukung aktivitas bisnis.

Bagi pengembang, kondisi ini memperlihatkan bahwa pasar properti memiliki cakupan lebih luas dari sekadar hunian. Kawasan industri dan gudang dapat menjadi pilihan pengembangan lain, terutama ketika kebutuhan ruang usaha dan distribusi ikut berkembang.

Sebagai informasi, Agung Intiland dan Luxima Bizhub masing-masing meraih penghargaan Best Industrial & Business Park Developer - Indonesia dan Best Innovative Business Hub Development - Indonesia dalam Indonesia Real Estate Awards 2026 pada September lalu.



Simak Video "Video: KSP Soroti Perizinan Lahan KITB"

(zlf/zlf)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork