Hunian vertikal bisa menjadi alternatif tempat tinggal di tengah kota. Namun, harganya bisa sedikit lebih mahal berdasarkan kelasnya.
Berdasarkan data Colliers Indonesia berjudul Perkembangan Sektor Properti Q3 2026 harga rata-rata apartemen di Jakarta tembus Rp 36 juta per meter persegi. Walau demikian, Head of Research Department Colliers Indonesia, Ferry Salanto mengatakan, masih ada insentif lain yang ditawarkan pengembang sehingga harganya bisa lebih murah, karena ada kebijakan PPN DTP, subsidi biaya akad KPR, gratis IPL beberapa bulan, sampai unit yang sudah diisi perabotan.
"Jadi sekarang kita perlu membedakan antara asking price dengan efektif acquisition cost. Harga di brosur mungkin tetap Rp 36 juta per meter persegi, tapi berapa biaya yang benar-benar harus keluarkan pembeli, itu bisa cukup berbeda signifikan setelah seluruh insentif itu diperhitungkan," katanya dalam Colliers Virtual Media Briefing Q3 2026, Rabu (7/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika dilihat berdasarkan kelas, berikut ini rincian rerata harganya.
- Apartemen Mewah: Rp 71.892.346 per meter persegi
- Apartemen Kelas Atas: Rp 54.982.319 per meter persegi
- Apartemen Kelas Menengah Atas: Rp 34.295.373 per meter persegi
- Apartemen Kelas Menengah: Rp 25.386.883 per meter persegi
- Apartemen Kelas Bawah: Rp 20.941.043 per meter persegi
Pada apartemen mewah, memang tidak banyak yang ada unit tipe studio. Pun kalau ada, luas bangunannya lebih besar dibandingkan unit studio apartemen kelas lainnya. Ukuran unit studio di apartemen mewah sekitar 30-50 meter persegi.
Berdasarkan harga rerata apartemen mewah, apabila ingin membeli unit studio pada apartemen mewah, maka dana yang harus disediakan yaitu sekitar Rp 2,1 miliar hingga 3,5 miliar.
Sementara itu, untuk transaksi pembelian apartemen sebanyak 47 persen menggunakan KPR, naik 4 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Lalu untuk pembelian tunai sekitar 29 persen dan cicilan tunai sekitar 24 persen.
Ferry juga menyebutkan adanya perbedaan pembeli apartemen kelas atas dengan kelas menengah. Pembeli apartemen kelas atas cenderung melihat reputasi developer, sementara pembeli apartemen kelas menengah masih melihat seberapa terjangkau harganya.
"Jadi segmen atas semakin ditentukan oleh kredibilitas developer, sedangkan segmen menengah lebih sensitif terhadap affordability atau kemampuan, kemudian juga PPN, DTP, dan biaya transaksi, dan juga tentunya suku bunga KPR," ungkapnya.
Konsumen Lebih Hati-hati Pilih Apartemen
Banyaknya hunian vertikal yang mau dikembangkan, terlebih lagi pemerintah pusat dan daerah juga mulai mendorong hunian vertikal di tengah kota, apalagi banyak kasus pembangunan apartemen yang mandek bahkan mangkrak, membuat banyak calon pembeli lebih berhati-hati. Selain memilih proyek apartemen yang sudah selesai, calon konsumen juga mempertimbangkan berbagai faktor lainnya, seperti akses transportasi hingga harga yang pas di kantong.
"Dan, penting juga ini akses terhadap pembiayaannya. Nah, kami melihat ke depan itu potensi membaiknya ada (penjualan apartemen), tetapi kemungkinan pasarnya akan menjadi lebih selektif. Jadi, proyeknya harus tepat lokasinya, tepat harganya, aksesnya bagus, dan delivery-nya,"
(abr/das)
