Industri keramik Indonesia tengah memasuki fase ekspansi. Kapasitas produksi nasional diproyeksikan mencapai sekitar 672 juta meter persegi (m²) per tahun pada 2026 dan meningkat menjadi sekitar 728 juta m² pada 2029.
Pertumbuhan kapasitas tersebut didorong oleh investasi baru, ketersediaan bahan baku dalam negeri, serta kebijakan pemerintah untuk memperkuat industri manufaktur.
Dengan perkembangan tersebut, Indonesia bahkan menargetkan bisa masuk ke jajaran empat besar produsen keramik dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) Edy Suyanto mengatakan industri keramik nasional memiliki modal yang cukup kuat untuk meningkatkan kapasitas sekaligus memperluas pasar.
"Indonesia memiliki fondasi manufaktur yang kuat untuk membawa industri keramik nasional ke level yang lebih tinggi. Dengan ekspansi kapasitas, investasi, dan inovasi yang terus berjalan, kita punya peluang nyata untuk masuk empat besar produsen keramik dunia," kata Edy dalam keterangan tertulis, Selasa (6/10/2026).
Salah satu peluang yang masih terbuka lebar adalah pasar ekspor. Saat ini sekitar 95% produksi keramik nasional masih diserap pasar domestik.
Besarnya serapan dalam negeri menunjukkan permintaan terhadap produk keramik masih kuat. Namun, di sisi lain, kondisi tersebut juga memperlihatkan masih besarnya ruang bagi produsen Indonesia untuk meningkatkan penetrasi pasar internasional.
Upaya memperluas pasar tersebut menjadi salah satu fokus dalam penyelenggaraan KERAMIKA Indonesia 2027 yang digelar Panorama Media bersama ASAKI.
Pameran tersebut dijadwalkan berlangsung pada 10-13 Juni 2027 di NICE PIK 2, Banten. Salah satu program yang disiapkan adalah International Buyer Program & Business Matching, yang mempertemukan produsen dalam negeri dengan buyer, importir, dan distributor dari berbagai negara.
Edy mengatakan produsen keramik Indonesia sebenarnya telah memiliki kemampuan dari sisi kualitas maupun kapasitas. Tantangannya adalah mempertemukan produsen dengan calon pembeli dan mitra bisnis dari luar negeri.
"Banyak produsen kita sudah siap dari sisi kualitas dan kapasitas, yang dibutuhkan adalah akses yang lebih langsung ke pembeli dan mitra di luar negeri," ujar Ketua Panitia Keramika Indonesia Desi Natalia.
Ekspansi tersebut tidak hanya menyasar produk ubin. Rantai industri keramik yang berkembang juga mencakup bahan baku, teknologi produksi, mesin, otomasi, hingga inovasi permukaan dan desain.
Hal ini menjadi penting seiring meningkatnya kebutuhan material untuk pembangunan hunian, kawasan komersial, hotel, maupun berbagai proyek properti lainnya.
(das/das)
