×
Ad

Usai Warren Buffett Turun Tahta, Berkshire Malah Borong Bisnis Rumah

Danang Sugianto - detikProperti
Rabu, 07 Okt 2026 10:06 WIB
Warren Buffett (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Berkshire Hathaway semakin agresif masuk ke bisnis pembangunan rumah di Amerika Serikat (AS). Perusahaan investasi yang sebelumnya dipimpin Warren Buffett itu justru menambah kepemilikan saham perusahaan pengembang rumah ketika sektor properti AS sedang menghadapi tekanan.

Dilansir dari Realtor, Rabu (7/10/2026) Berkshire Hathaway meningkatkan kepemilikannya di Lennar, perusahaan pembangun rumah terbesar kedua di AS, sebesar 94% pada kuartal III 2026. Hal itu diketahui berdasarkan laporan kepada Securities and Exchange Commission (SEC).

Dengan tambahan tersebut, kepemilikan Berkshire Hathaway di Lennar telah melonjak lebih dari tiga kali lipat sejak awal 2026, berdasarkan analisis perusahaan riset pasar perumahan ResiClub.

Setelah pembelian terbaru itu, Berkshire Hathaway kini menguasai sekitar 11% saham Lennar.

Langkah tersebut menjadi salah satu investasi besar Berkshire Hathaway di sektor pembangunan rumah AS sejak Greg Abel mengambil alih posisi CEO dari Warren Buffett pada Januari 2026.

Tak hanya Lennar, Berkshire Hathaway sebelumnya juga telah memperbesar portofolionya di sektor perumahan.

Pada 31 Mei 2026, Berkshire mengumumkan akuisisi Taylor Morrison, perusahaan pembangun rumah terbesar keenam di AS. Akuisisi tersebut membuat Berkshire berpotensi menjadi perusahaan pembangun rumah site-built terbesar keempat di AS.

Berkshire sebelumnya telah memiliki Clayton Properties, yang merupakan salah satu perusahaan pembangun rumah terbesar di AS.

Pada Juli 2026, Mungo Homes, bagian dari Clayton Properties, juga mengumumkan akuisisi McGuinn Homes yang berbasis di South Carolina.

Yang menarik, aksi Berkshire Hathaway tersebut dilakukan ketika pasar rumah AS justru sedang menghadapi tekanan.

Saham Lennar, misalnya, telah mengalami penurunan tajam. Pada akhir kuartal III 2026, harga saham perusahaan tercatat turun 49,7% dari level tertingginya pada Oktober 2024.

Kinerja saham Lennar juga tertinggal dibandingkan indeks S&P 500 dan sejumlah perusahaan pesaingnya dalam beberapa tahun terakhir.

CEO ResiClub Lance Lambert menilai salah satu penyebab tekanan terhadap Lennar adalah besarnya eksposur perusahaan di pasar rumah kelas pemula (entry-level) di wilayah Sun Belt.

Kawasan tersebut mengalami pendinginan setelah sebelumnya menikmati lonjakan pasar perumahan selama pandemi COVID-19.

Untuk mempertahankan penjualan, Lennar menjadi salah satu pengembang yang agresif memberikan potongan harga efektif kepada pembeli.

Menurut ResiClub, harga jual rata-rata rumah Lennar telah turun 24,2% dibandingkan puncaknya pada 2022.
Tekanan tersebut juga terlihat dari margin perusahaan. Pada kuartal I 2026, margin kotor Lennar tercatat 15,2%. Angka tersebut kemudian naik tipis menjadi 15,6% pada kuartal II dan 15,8% pada kuartal III.

Meski meningkat, margin kuartal III tersebut masih menjadi yang terlemah untuk periode kuartal III sejak 2009.




(das/das)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork