×
Ad

Prabowo Mau Bikin Genteng Ringan buat Rumah Rawan Gempa

Almadinah Putri Brilian - detikProperti
Jumat, 02 Okt 2026 19:34 WIB
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Sekda Jawa Barat Herman Suryatman, dan Menteri PKP Maruarar Sirait. Foto: Almadinah Putri Brilian
Jakarta -

Presiden Prabowo Subianto ingin membuat jenis atap khusus untuk rumah di daerah rawan gempa. Bentuk dan karakteristiknya seperti genteng tetapi bobotnya lebih ringan.

Hal ini disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dalam acara Peluncuran 500.000 Genteng di Pleret, Purwakarta. Ia mengungkapkan di beberapa daerah rawan bencana, rata-rata jenis atap yang dipakai adalah seng karena ringan.

"Saya muter daerah-daerah rawan gempa, mereka pilihnya yang ringan. Makanya mereka pilih seng. Tapi sebetulnya nggak indah. Bapak Presiden sedang mengupayakan untuk mencari bahan genteng, tapi dari bahan yang ringan," kata Tito, Jumat (2/10/2026).

Genteng biasa agak berat karena terbuat dari tanah liat yang kemudian mengeras. Jika ingin membuat yang ringan, ia memberikan contoh bahan baku yang bisa dipakai dari serabut kelapa.

"Misalnya dari serabut kelapa yang dijadikan genteng. Itu salah satu solusi, sedang dikerjakan," ujarnya.

Di luar daerah rawan bencana, Tito mengatakan Prabowo menginginkan tidak ada lagi yang memakai seng dan asbes. Alasan pertama karena tidak baik untuk kesehatan. Kedua, genteng tidak bising saat turun hujan. Ketiga, genteng jauh lebih indah dipandang. Keempat, genteng merupakan jenis atap asli Indonesia.

"Dia lebih dingin karena di tengah-tengahnya itu ada aliran udara ya. Jadi kalau seng, dia nggak ada aliran udara, panas. Yang kedua kalau seng itu kalau hujan, dia bising suaranya. Bener nggak? Kalau genteng tanah liat, kagak. Nah kemudian genteng juga bagus untuk keindahan. Indah dibanding dengan seng. Ini juga asli Indonesia," jelasnya.

Tito juga menyinggung bahwa jumlah rumah dengan atap genteng di Indonesia baru 57 persen. Sabanyak 36 persen rumah menggunakan seng dan 37 persen lainnya menggunakan asbes.

"Nah asbes itu kurang bagus buat kesehatan. Mohon maaf kalau itu produsen asbes ya. Faktanya begitu, datanya," tutur Tito.

Kurang dari 1 persen sisanya menggunakan bahan alami seperti papan, atap sirap, bambu, daun-daunan, ijuk, pelepah, hingga jerami. Lalu, genteng yang dipakai pun macam-macam, mulai dari dari tanah liat, genteng beton, genteng baja, dan lain-lain.

"Tapi, yang bagus adalah memang genteng dari tanah liat. Dingin, kemudian relatif murah, dan asli Indonesia," terangnya.

Sebelumnya diberitakan, pemerintah meluncurkan 125 truk yang mengangkut total 500 ribu genteng tanah liat dari Plered, Purwakarta. Langkah ini merupakan bagian dari Program Gentengisasi yang sedang digencarkan oleh Presiden Prabowo Subianto.

"(Truk) yang mau berangkat nanti mengangkut genteng sejumlah semuanya 500 ribu genteng diangkut oleh 125 truk," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat Herman Suryatman dalam acara peluncuran tersebut.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) mengatakan Program Gentengisasi merupakan upaya untuk menggantikan atap seng masyarakat. Bahan seng perlu diganti karena dianggap berdampak negatif bagi kehidupan masyarakat.

"Program Gentengisasi ini arahan Presiden Prabowo supaya rumah rakyat jangan pakai seng. Nanti kalau (pakai) seng itu panas. Kemudian nanti bisa abunya ke bawah, bisa sakit TBC. (Penggantian atap) supaya sehat rakyatnya," kata Ara.



Simak Video "Video: Melihat Geliat Industri Genteng Jatiwangi di Tengah Isu Gentengisasi"

(aqi/zlf)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork